Sunday, September 28, 2008

Portofolio Zakat, Infaq dan Sodaqoh

Umat muslim Indonesia cukup menyadari keutamaan salat berjamaah. Namun sayang, belum banyak yang menyadari keutamaan zakat berjamaah. Zakat yang disalurkan melalui lembaga-lembaga Zakat, Infaq dan Sodaqoh jumlahnya jauh lebih kecil dari jumlah Zakat, Infaq dan Sodaqoh yang disampaikan langsung. Demikian info yang saya dapat dari sebuah sumber di BAZNAS.

Saya yakin banyak yang setuju bahwa jika disalurkan melalui lembaga-lembaga pengelola zakat yang amanah dan profesional, dana yang dihimpun tidak langsung habis, tetapi dapat menjadi dana bergulir untuk jangka panjang dan dapat menjadi sinergi yang efektif dalam mengatasi berbagai masalah di negeri ini. Tetapi tidak sedikit yang memilih memberi secara langsung dengan berbagai sebab. Termasuk karena masih kurang percaya dengan badan amil zakat. Tentu ketidakpercayaan para muzakki ini bukan tanpa sebab dan alasan. Mungkin saja memang ada lembaga pengelola zakat tidak amanah atau tidak profesional.

Sekarang jumlah lembaga yang pekerjaannya mengelola Zakat jumlahnya makin banyak. Beberapa di antaranya mempublikasikan laporan keuangan dan bahkan diudit oleh akuntan publik. Meskipun demikian, tetap tidak mudah memilah lembaga pengelola zakat yang amanah dan yang tidak amanah, yang profesional dan yang tidak profesional. Jadi tidak beda dengan berinvestasi, beribadahpun ada resikonya.

Untuk mengurangi resiko, saya kira prinsip portofolio "jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang" dapat diterapkan di sini. Misalkan anda menempatkan dana pada 10 jenis investasi, jika satu investasi gagal menghasilkan keuntungan, masih ada harapan pada 9 jenis investasi lainnya. Kesulitan kita memilih lembaga pengelola zakat tidak menghapus harapan kita agar dana zakat kita bermanfaat maksimal. Intinya, "jangan menyerahkan semua dana zakat anda hanya pada satu lembaga pengelola zakat". Misalkan anda menyalurkan zakat melalui sepuluh lembaga pengelola zakat. Jika satu dari sepuluh lembaga-lembaga Zakat, Infaq dan Sodaqoh tersebut ternyata tidak amanah atau tidak profesional, maka masih ada harapan bahwa dana Zakat, Infaq dan Sodaqoh dikelola secara amanah dan profesional oleh sembilan lembaga pengelola zakat lainnya.

Bagaimana menurut anda?

Wednesday, September 24, 2008

Mengunci Folder Email Outlook

Membaca dan menulis email memakai Microsoft Outlook dan Outlook Express memang lebih enak dari pada web mail. Tetapi karena password outlook cuma untuk recieving dan sending email, kadang-kadang saya khawatir jangan-jangan email-email di inbox saya bisa dibaca orang lain. Saya sudah tanyakan kepada yang ngurusin IT di kantor, tetapi kayaknya dia lagi malas dan saya malah disuruh tanya sama Bill Gates :(

Untunglah setelah saya cari di google, ketemu juga caranya. Cara mengunci folder untuk Outlook Express saya dapat dari tulisan Heinz Tschabitscher: Protect Your Email in Outlook Express with a Password. Sedangkan cara mengunci folder untuk Microsoft Outlook saya dapat dari Password Protect Outlook.

Asumsi saya pemakai Outlook Express lebih banyak dari pemakai Microsoft Outlook. Karena itu, berikut adalah cara mengunci folder untuk Outlook Express (ini dari tulisan Heinz Tschabitscher . Saya lengkapi gambar-gambar supaya lebih jelas.)

  • Buka menu File, plih Identities , kemudian klik Manage Identities
  • Sorot/Highlight identity.
  • Klik Properties. dan Centang/cek Require a password

  • Tulis password di New Password and Confirm New Password

  • Klik OK, OK dan Close

Cara mengunci folder untuk Microsoft Outlook dapat Anda baca di Password Protect Outlook.

Thursday, September 18, 2008

Zakat Langsung vs Zakat Tidak Langsung

KH Didin Hafihudin, menyarankan kepada para pemberi zakat, untuk menyalurkan zakatnya melalui badan amil zakat.Tentu hal ini bukan semata-mata karena beliau adalah Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Menurutnya, dengan melalui lembaga amil zakat, dana yang dihimpun akan digabungkan dengan yang lain sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk yang lebih baik. "Jika pemberian dilakukan lewat lembaga, dana zakat menjadi kekuatan dasyat. Dana yang begitu besar itu dapat dimanfaatkan tidak hanya dalam bentuk uang tapi pendidikan seperti sekolah gratis, pengobatan gratis dan lainnya sehingga pemanfaatannya lebih untuk mensejahterakan masyarakat," kata KH Didin Hafihudin. Seorang teman saya termasuk yang memilih memberi secara langsung. Alasannya, pemberi zakat lebih tahu tentang orang-orang miskin di sekitarnya, yang memang betul-betul perlu dibantu. Seorang rekan yang lain merasa bahwa selama ini dia tidak pernah mendengar ada badan amil zakat yang membagi-bagikan zakatnya ke orang tidak mampu. Dia mempertanyakan "Duitnya di kemanain ya?". Jadi intinya sebagian orang masih kurang percaya dengan badan amil zakat Saya agak heran membaca berita bahwa Presiden SBY meminta Menteri Agama Maftuh Basyuni dan Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal (Pol) Sutanto untuk membuat model pemberian zakat secara langsung yang aman dan tidak menimbulkan korban. Apakah Presiden SBY mendukung pemberian zakat secara langsung padahal oleh banyak pihak dikhawatirkan hanya dapat memenuhi kebutuhan konsumtif penerima zakat. Apakah beliau tidak melihat besarnya manfaat yang dapat diperoleh dari hasil sinergi dana zakat jika dikelola oleh lembaga amil yang profesional dan jujur? Tampaknya Presiden SBY menyadari, tidak mudah mengubah persepsi masyarakat yang masih belum percaya pada lembaga zakat. Oh...what a low trust society.....? :cry: Ada gagasan menarik dari KH Miftachul Akhyar, Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Beliau menyarankan, para muzakki (pemberi zakat) yang mengeluarkan zakatnya dalam jumlah besar agar memberikan hartanya kepada beberapa orang mustahiq (penerima zakat) saja, dan tidak perlu dibagikan secara massal. Kiai Miftah menilai, pembagian zakat yang dilakukan oleh seorang muzakki di Pasuruan yang berbuntut ”kecelakaan” itu tidaklah bijak. Selain penuh resiko, dengan cara seperti itu setiap orang hanya mendapatkan jatah yang kecil dan uang yang diterima akan langsung habis. Menurut beliau, mestinya zakat diberikan kepada beberapa orang saja. Sebelum zakat diberikan, muzakki memberikan imbauan dan bimbingan kepada mustahiq agar uang zakat tersebut dapat digunakan sebagai modal usaha. agar tahun depan mereka tidak lagi datang sebagai mustahiq, tapi sudah menjadi muzakki (orang yang mengeluarkan zakat). ”Kalau menggunakan model ini, maka jumlah orang miskin semakin lama akan semakin berkurang,” kata KH Miftachul Akhyar. Bagaimana menurut anda?

Thursday, September 11, 2008

Sebelas September, Tujuh Tahun Yang Lalu

Sebelas September, tujuh tahun yang lalu, di Amerika Serikat .........

.....beberapa waktu kemudian di Afghanistan dan Irak.

.....di Abu Gharib dan Guantanamo

Tuesday, September 2, 2008

TransJakarta (Busway): Dulu dan Kini

Saya adalah satu di antara sekian banyak penduduk Jakarta yang jarang menggunakan TransJakarta (Busway). Mungkin malah lebih jarang dari beberapa teman yang tinggal di luar Jakarta, karena mereka bilang selalu menyempatkan naik Busway setiap kali liburan atau sedang ada tugas di Jakarta. Maklum, di daerah mereka tidak ada Busway. Namun, karena jarang menggunakan Busway, saya justru dapat merasakan perbedaan antara TransJakarta saat ini dengan TransJakarta di waktu-waktu awal beroperasinya.

Perbedaan yang paling saya rasakan adalah sikap petugas penjual tiket Busway. Di awal beroperasinya, mereka selalu mengucapkan kata Terima Kasih setiap kali menerima uang pembayaran. Di saat ini, jarang sekali kita dengar mereka mengucapkan kata Terima Kasih. Untunglah pada beberapa halte yang memakai tiket karcis/kertas, petugas penyobek karcis masih sering mengucapkan Terima Kasih setelah menyobek karcis. ;-)

Perbedaan lain adalah, di waktu awal beroperasinya pengereman Busway saya rasakan lebih halus. Sedangkan di saat ini, tidak jarang penumpang terhuyung-huyung ketika Busway direm. Entah karena perangkat rem Busway sudah tidak berfungsi sebaik di waktu lalu atau dikarenakan cara pengemudi Busway menginjak rem yang tidak sehalus di waktu lalu.

Di awal beroperasinya, saya dapat mengandalkan pemberitahuan "Pemberhentian berikutnya, halte @@@ ....... hati-hati melangkah. Next stop @@@ .... step carefully." . Di saat ini, memang masih bisa kita dengar pemberitahuan tersebut, tetapi tidak sedikit juga yang tidak berfungsi. Masih mending, kalau petugas / kondektur rajin memberitahukan pemberhentian-pemberhentian berikutnya. Kadang-kadang kondektur tidak memberitahu. Mungkin menganggap semua penumpang sudah tahu.

Perbedaan lain yang saya amati adalah, saat ini Busway kadang berhenti tidak pada posisi yang seharusnya, sehingga posisi pintu halte tidak pas dengan posisi pintu Busway. Hal ini sering menyulitkan penumpang yang akan keluar dan masuk Busway. Terlebih lagi kalau Jarak antara Busway dengan halte terlalu jauh. Bayangkan kalau ada penumpang yang terperosok di antara lantai halte denga lantai Busway!

SELAMAT HARI PELANGGAN NASIONAL, 4 SEPTEMBER 2008