Sunday, December 28, 2008

A New Nike's Superstar Endorsers?

Maybe we had not seen our Indonesia First Lady Ani Yudhoyono among Nike's Superstar Endorsers, but what do you think when you see her picture in Nike shirt on a Jakarta newspaper on 22nd December 2008?

Monday, December 15, 2008

Menginap Di Hotel Tanpa Jendela (Lagi)

Sore itu, tugas kami di Rantau Prapat selesai. Saya masih lelah dan mempertimbangkan untuk menginap semalam lagi di Rantau Prapat dan berangkat ke Medan besok pagi. Tetapi kawan yang tinggal di Medan ingin pulang malam ini. Akhirnya kami sepakat berangkat ke Medan sore ini. Sebelumnya, saya minta bantuan teman untuk memesankan tiket pesawat ke Jakarta untuk besok pagi.

Malam itu, hujan mengguyur sepanjang perjalanan kami dari Rantau Prapat ke Medan. Waktu masuk Medan, sudah jam 01:00 pagi. Kami check in di sebuah hotel tidak jauh dari perempatan jalan ke arah Masjid Raya al-Mashun. Mesjid ini dibangun pada masa kesultanan Deli.

Tanpa saya duga, pengalaman yang lalu terulang kembali. Kami mendapat kamar tanpa jendela lagi. Memang ada jendela, tetapi menghadap ke koridor. Tetapi karena sudah terlanjur check in dan sudah hampir pagi, saya tidak begitu mempedulikan hal ini dan langsung tidur.

Setelah bangun saya mulai merasakana udara pengap dan bau agak kurang enak. Ternyata kamar hotel ini bukan hanya tanpa jendela, sanitasi kamar mandinya juga tidak bagus dan tidak dilengkapi ventilator (exhaust fan). Jadi udara tidak sedap dari kamar mandi menyerbu ke seisi kamar. Wah, apa jadinya kalau saya menginap lebih lama lagi di sini.

Sewaktu check in, seingat saya hotel ini include sarapan pagi. Tetapi waktu saya menanyakan sarapan pagi (waktu itu jam 08:00), dijawab yang masak sudah pulang. ...Lhooo...?!?!?! Free Smiley Face

Wednesday, December 10, 2008

Ternyata ”Rantau Prapat” Tidak Sama Dengan ”Prapat”.

Mungkin karena terbiasa mengasosiasikan "Priok" dengan "Tanjung Priok" dan "Labu" dengan "Pondok Labu", saya selama ini menganggap"Prapat" dan "Rantau Prapat" adalah kota yang sama. Setelah mendapat tugas ke Rantau Prapat seminggu yang lalu, saya baru mengerti bahwa "Rantau Prapat" ternyata tidak sama dengan "Prapat".Untunglah setibanya di Polonia, Medan, rekan kami, Pak Pardede telah mengirim sopir untuk menjemput. Ternyata Rantau Prapat berjarak 266 km dari Medan, hampir ke perbatasan Riau. Sedangkan Prapat berjarak sekitar 176 km dari Medan, dekat Danau Toba. Kalau tidak dijemput, saya bakal nyasar ke Parapat. ...Thanks Pak Pardede!

Perjalanan Medan ke Rantau Prapat bisa ditempuh dalam waktu 6 atau 7 jam. Tetapi Pak Pardede meminta kami mampir dulu ke kantornya di Pematang Siantar (127 km dari Medan).

Tidak Jadi Menginap di Suzuya

Setelah menginap semalam di Pematang Siantar, sekitar jam 09:00 pagi kami melanjutkan perjalanan ke Rantau Prapat yang jaraknya 235 km. Saya memikirkan nanti Rantau Prapat mau menginap dimana? Saya khawatir karena Zhar Aditya menulis di blog nya,: "Waduh, kalo disini jangan ke hotel murah….entar digedorin poker (perek bahasa sini) mulu gak bisa tidur ntar" Saya sudah tanya sama Aditya via comment box, tapi mungkin dia tidak sempat menjawab. Akhirnya saya SMS teman saya, Ian. Dia anak Medan yang sekarang tinggal di Jakarta. Ian merekomendasikan hotel Suzuya. "Ratenya sekitar 300 rb", katanya via SMS.

Kami mampir makan siang di rumah makan di Aek Kanopan (kalau tidak salah). Uniknya rumah makan ini cara menyajikannya mirip rumah makan Padang, tetapi menunya lebih mirip masakan Jawa. Selain ada teri medan kesukaan saya, juga ada tempe dan urap segala. Cocok dengan selera saya!

Siang hari kami sampai di Rantau Prapat. Kami melewati jalan di depan Hotel Suzuya. Terletak di tengah kota. Disamping Hotel ini ada KFC yang disebut Zhar Aditya sebagai satu-satunya KFC di Rantau Prapat. Tetapi kami tidak menginap di hotel Suzuya, karena ternyata kami sudah dipesankan kamar di Hotel Nuansa Resort.

Mandi Kembang, eh Mandi Air Dingin di Malam Hari

Hotel Nuansa Resort tidak sebesar Hotel Suzuya. Tidak ada kolam renang seperti hotelnya Aditya. Letaknya juga tidak ditengah kota, dan tentu saja tidak ada KFC nya . Tetapi secara umum hotel ini cukup bagus. Tidak ada gedoran di malam hari Free Smiley Face. Yang kurang cuma: Waktu saya mau mandi air hangat tidak tidak ada. Waktu saya tanya, katanya gas habis. Memang petugasnya kemudian datang dan langsung mengganti tabung gas, tetapi saya sudah keburu selesai mandi.

Internet Telkomflexi vs StarOne

Malam itu saya coba akses internet Telkomflexi yang sudah saya aktifkan combonya. Tetapi ternyata Telkomflexi tidak berhasil mengakses jaringan internet di Rantau Prapat . Akhirnya saya ganti RUIM Card dengan StarOne, dan langsung berhasil mengakses jaringan internet. Saya heran, di Jakarta justru Telkomflexi yang selalu berhasil mengakses jaringan internet, sedangkan StarOne mesti dipancing berkali-kali. Pernah saya tanya CS di Gallery Indosat di Plasa Blok M, tetapi jawabannya cuma: "Dicoba lagi aja". Saya jadi nyesel nanya..Free Smiley Face

Terkecoh Kicauan Burung Palsu

Rantau Prapat cerah di pagi hari itu. Waktu yang pas buat lari-lari pagi. Berbeda dengan di Pematang Siantar, tidak banyak yang berolah raga pagi di sini. Mungkin karena Hotel Nuansa Resort letaknya di jalan yang menjadi jalur transportasi luar kota. Kendaraan yang lewat jalan ini umumnya berkecepatan tinggi. Jadi kurang nyaman untuk lari-lari pagi. Untunglah di sebelah barat Hotel ada jalan yang agak sepi melewati RSUD dan komplek perumahan. Sekembalinya ke Hotel, saya mendengar kicauan burung disekitar Hotel, tapi tidak tampak seekor burungpun. Belakangan saya diberitahu bahwa suara itu adalah suara kaset untuk memancing burung walet. Di samping Hotel memang ada bangunan yang dijadikan sarang walet.

Mandi Air Dingin Lagi

Waktu saya mau mandi air hangatnya tetap tidak keluar dari shower. Jadi gas yang tadi malam kemana lagi ya? Free Smiley Face

(peta diambil dari http://www.infoka.kereta-api.com/informasi/?tipe=25&peta=sumut&id_con=15 )

Selamat Idul Adha

Sehari setelah Idul Adha, saya mengirim SMS ucapan Selamat Idul Adha kepada seorang teman. "Thanks. Better late than never." jawabnya. Rupanya dia menganggap saya terlambat mengucapkan Selamat Idul Adha.

Apakah memang begitu? Bukankah sampai hari ini (tiga hari setelah tanggal 10 Zulhijah) masjid-masjid masih mengumandangkan takbir? Bukankah pada Hari Raya Idul Fitri kita masih mengucapkan Selamat Idul Fitri berminggu-minggu setelah tanggal 01 Syawal? Jadi mengapa kita merasa terlambat mengucapkan Selamat Idul Adha pada hari ini?

Selamat Idul Adha.

Selamat berkurban.

Semoga Allah selalu membimbing kita....

Semalam di Pematang Siantar

Pesawat Garuda GA 186 membawa kami tiba di Polonia Medan sekitar jam 13:20. Sebenarnya tujuan perjalanan kami adalah ke Rantau Prapat, bukan ke Pematang Siantar. Tetapi pengemudi yang menjemput kami mengatakan bahwa rekan kami, Pak Pardede meminta kami mampir dulu ke kantornya di Pematang Siantar (127 km dari Medan). Kopi Siantar dan Roti Bakar Kami tiba di Pematang Siantar menjelang malam. Kemudian kami diajak ke Kedai SEDAP untuk menikmati kopi Siantar dan Roti Bakar bersama Pak Pardede, Pak Nasution dan Pak Simbolon (saya kesulitan menghafal nama depan beliau, lebih mudah menghafal nama marganya). Konon nikmatnya kopi Siantar yang disajikan kedai ini bisa bikin ketagihan. Tetapi sayang saya tidak doyan kopi. Jadi saya memilih menikmati secangkir teh dan roti bakar dengan selai Srikaya yang menjadi ciri khas kedai ini. Kata Pak Pardede, Kedai SEDAP ini telah berdiri sejak tahun 1937. Lapangan Adam Malik Kami menginap di sebuah Guest House dekat kantor Bank Indonesia. Tidak jauh dari sebuah lapangan atau taman yang pada malam hari banyak penjual makanan. Malam itu Pematang Siantar diguyur hujan, Menjelang pagi saya terbangun untuk mematikan AC di kamar karena merasa kedinginan. Walau malamnya diguyur hujan, pagi harinya cerah. Waktu yang pas buat lari-lari pagi. Saya lihat pagi itu banyak juga yang berolah raga di sekitar taman yang ternyata bernama Lapangan Adam Malik. Mantan Menlu dan Wapres Adam Malik memang dilahirkan di Pematang Siantar. Saya tidak tahu apa reaksi warga masyarakat Pematang Siantar.tentang buku Legacy of Ashes, the History of CIA tulisan Tim Weiner yang menuduh Adam Malik sebagai agen CIA. Kontur tanah kota ini agak berbukit. Terletak di ketinggian 283 m dari permukaan laut (ini saya baca di papan Stasiun Pematang Siantar). Kereta Api ke Medan berangkat tiap hari jam 6:50 Sekitar jam 09:00 pagi kami berangkat ke Rantau Prapat yang jaraknya 235 km.