Sopan Santun Kepada Produk Bermelamin

0 comments Monday, October 27, 2008
Hebat sekali produk Cina! Sudah jelas mengandung melamin dan berbahaya, masih minta diperlakukan dengan sopan santun. Bukan hanya wartawan, bahkan menteri dan Presiden jadi repot dibuatnya. Hari ini, Senin (27/10/2008), rencananya akan dilakukan pemusnahan produk bermelamin asal China di halaman Kantor BPOM, Jl Percetakan Negara, Jakarta Pusat, pukul 10.00 WIB. Namun setelah wartawan menunggu dua setengah jam, Menkes mengumumkan pemusnahan batal dilakukan: "Mohon maaf karena pertimbangan tertentu, pemusnahan tidak jadi dilaksanakan". Konon atasan Menkes tidak mengizinkan pemusnahan ini. Namun Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng membantah : "Presiden SBY tidak pernah memberi instruksi seperti itu" . Wah kasihan, mana mungkin Ibu menteri membantah atasannya? Ketua Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Husniah Rubiana Thamrin menjamin:"Ibu menteri kan tadi sudah jelaskan, ini kan soal sopan santun saja, tapi yang jelas kita akan bakar, karena itu kewajiban pemerintah untuk melindungi masyarakat dari bahaya bahan-bahan makanan yang mengandung melamin. Yang jelas itu pasti kita musnahkan, tapi tidak untuk dipublikasikan." Ada apa ini..???

oduk-produk mengandung susu bermelamin asal Cina (dari http://www.kompas.com/)
Produk-produk mengandung susu bermelamin  asal Cina

Polisi mengawal persiapan pemusnahan produk bermelamin

Polisi mengawal persiapan pemusnahan produk bermelamin (dari http://images.kompas.com/)

Read On




Gangguan Kesehatan Jiwa Menimpa 50 Juta Orang Indonesia

0 comments Tuesday, October 21, 2008

Kesehatan jiwa sudak waktunya mendapat perhatian serius, karena dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Menurut studi Bank Dunia tahun 1995, hari-hari produktif ’yang hilang atau Dissabiliiy Adjusted Life Years (DALY’s) akibat masalah kesehatan jiwa mencapai 8,1% dari Global Burden of Disease, Angka ini lebih tinggi dari yang disebabkan penyakit lain, mislanya TBC (7,2%), Kanker(5,8%), Penyakit Jantung (4,4%) dan Malaria (2,6%).

Jumlah penderita gangguan kesehatan jiwa di Indonesia ternyata tidak kecil. Satu dari empat warga Indonesia menderita gangguan kesehatan jiwa, Demikian kata Dirjen Pelayanan Medik (Yanmedik) Departemen Kesehatan Dr Farid Husein , Selasa (21/10/2008). Hal yang sama pernah juga diungkapkan Prof Dr Dadang Hawari , mantan Ketua Persatuan Dokter Jiwa Indonesia berkaitan dengan hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober.

Secara persentasi angka di atas tidak berbeda dengan kondisi tahun 1995. Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SK-RT) Badan Litbang Departemen Kesehatan tahun 1995 diperkirakan terdapat 264 dari 1000 anggota Rumah Tangga menderita gangguan kesehatan jiwa. Jadi, kalau seandainya benar bahwa pemerintah menyatakan berhasil menurunkan angka kemiskinan, ternyata tidak demikian halnya dengan angka gangguan kesehatan jiwa. Jumlah penduduk kita diperkirakan 234.693.997 orang (data tahun 2007). Jadi, memakai perkiraan Dr Farid Husein dan Prof Dr Dadang Hawari, total yang kena gangguan jiwa bisa lebih dari 50 juta orang. Wah, yang jadi pemerintah apa nggak repot ngurusin 50 juta orang kurang sehat jiwa?
Read On




Ketika Setetes Melamin Merusak Susu Sebelanga

0 comments Saturday, October 4, 2008

Cina kembali dituding memproduksi bahan berbahaya. Sebelum kasus susu melamin, telah muncul kasus zat beracun pada pewarna mainan anak-anak dan ditemukannya bahan kimia berbahaya pada sikat gigi yang dibuat di Cina. Mencampur melamin supaya kandungan protein susu seolah lebih tinggi dapat dianggap praktek dagang yang tidak etis. Pihak Cina mengakui kasus ini sebagai permasalahan dalam kontrol kualitas.

Pengakuan adanya kelemahan kontrol kualitas paling tidak bisa sedikit mengalihkan dan melunakkan tudingan praktek mencari keuntungan secara tidak etis. Andai tidak diakui sebagai kelemahan kontrol kualitas mungkin dunia akan mempertanyakan daya tarik Cina sebagai tujuan investasi. Apakah biaya produksi yang rendah cukup memberikan keuntungan yang wajar agar pengusaha-pengusaha di Cina tidak mudah tergoda praktek mencari keuntungan dengan cara tidak etis? Apakah biaya tenaga kerja yang begitu murah memang didukung oleh fasilitas dan sarana kerja yang cukup manusiawi? Apakah......

Praktek mencari keuntungan dengan cara semacam itu tetap saja tidak etis, meskipun di negeri komunis berwajah kapitalis seperti Cina. Bagaimana di negeri kita yang Pancasila ini? Tampaknya sebagian pengusaha-pengusaha kita juga tidak cukup etis dalam mencari keuntungan. Tentu kita masih belum lupa tentang formalin dalam tahu dan ikan, baso borax, beras berpemutih, daging glonggongan, makanan dengan bahan pewarna tekstil, air mineral kemasan palsu, obat palsu, kosmetik palsu dan lain-lain. Hanya karena produk-produk tersebut bukan untuk ekspor, maka kasusnya tidak seheboh susu melamin Cina.

Apakah persaingan usaha di negeri kita telah begitu keras dan sengit, sehingga hampir segala cara ditempuh?
Read On