Sunday, November 16, 2008

Anak Berdalih Ibu Ditagih

Konon, Roosmiah Bakrie, ibunda Aburizal Bakrie pernah berpesan kepada Ical: "Janganlah kau sia-siakan korban lumpur. Kau harus berikan ganti rugi," seperti dikutip oleh Vice Presiden PT Minarak Lapindo Brantas, Andi Darusalam Tabusala, sewaktu menyerahkan kunci kepada 100 korban lumpur Lapindo tahun 2007 lalu. Pagi ini, para korban Genangan Lumpur Lapindo Sidoarjo menemui ibunda Aburizal Bakrie, Menkokesra untuk menagih utang anaknya. Para korban Lapindo datang karena adanya keterlambatan pembayaran ganti rugi yang seharusnya dibayarkan PT Minarak Lapindo Brantas sejak Juli lalu. "Kami harap ibu mereka mau menasehati anaknya agar membayar utang untuk rakyat miskin," ujar Marwan, salah satu korban Lapindo.

Dengan berjalan kaki menuju rumah di Jalan Mangunsarkoro 42, Jakarta, mereka membawa oleh-oleh berupa hasil bumi. Namun kedatangan mereka tidak mendapat sambutan yang baik dari tuan rumah. Pagar rumah tinggi terkunci rapat dan dijaga beberapa orang. Akhirnya mereka pulang. Oleh-oleh sayur-sayuran dan pisang mereka letakkan di depan pagar.

Aburizal Bakrie pernah mengatakan bahwa penanggung jawab banjir lumpur di Sidoarjo adalah PT Lapindo Brantas. "Lapindo Brantas yang harus bertanggung jawab dan menangani teknis kerusakan disana," kata Aburizal, Rabu, 21 Juni 2006. Ia tidak tahu bagaimana Lapindo akan menangani bencana ini. "Tanyakan saja ke (Nirwan) Bakrie," katanya, "Jangan tanya saya, saya kan Menko Kesra."

Namun Aburizal Bakrie kemudian mengatakan, PT Lapindo Brantas (anak perusahaan Grup Bakrie) sudah bermurah hati bersedia membayar lahan dan rumah warga yang terdampak semburan lumpur meskipun tidak dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Pernyataan ini kemudian dikecam oleh YLBHI. Menurut Direktur Riset dan Pengembangan YLBHI Zainal Abidin, Aburizal Bakrie tidak cermat dalam membaca putusan PN Jakarta Pusat di mana majelis hakim jelas-jelas menyatakan bahwa semburan lumpur Lapindo diakibatkan karena kekurang hati-hatian Lapindo. Karena, kata dia, dalam pengeboran belum terpasang cassing/pelindung secara keseluruhan sehingga terjadi kick kemudian terjadi luapan lumpur.

"Pemerintah, sebagaimana diutarakan oleh Joko Kirmanto justru terjebak pada skenario bahwa Lapindo tidak bersalah tanpa melakukan kesungguhan untuk melakukan investigasi melalui aparatnya (polisi) untuk kemudian membawa kasus ini ke pengadilan," kata Zainal.

Semula saya menyambut gembira dengan masuknya para pengusaha dalam jajaran pemerintah dan kabinet. Saya tadinya berpikir mereka tidak bakal tergoda untuk korupsi atau memperkaya diri memanfaatkan jabatan (karena sudah kaya). Saya juga berharap kepiawaian mereka dalam berbisnis dapat menutupi kelemahan birokrasi dan memperbaiki manajemen pemerintah. Tetapi ternyata........

Friday, November 7, 2008

Akhirnya Bung Tomo Jadi Pahlawan Nasional

Selama ini saya mengBung Tomo (dari http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/d/dd/Bungtomo.jpg)ira Soetomo alias Bung Tomo adalah salah satu pahlawan kita. Ternyata baru hari ini, 7 November 2008, Bung Tomo mendapat gelar pahlawan nasional dari pemerintah. Bung Tomo telah meninggal 27 tahun lalu. Mengapa baru sekarang pemerintah memberi gelar pahlawan nasional?

Bung Tomo adalah tokoh penggerak semangat rakyat dalam peristiwa yang kemudian dicatat sejarah sebagai hari pahlawan. Bung Tomo pastilah salah satu orator ulung yang pernah dimiliki bangsa ini. Dalam pidatonya, Bung Tomo tidak hanya mengajak "Arek-arek Suroboyo", tetapi juga pemuda-pemuda yang bukan etnis Jawa untuk menolak menyerah kepada Inggris. Tidak heran 10 November 1945 menjadi peristiwa heroik yang dicatat sejarah.

Berikut adalah pidato Bung Tomo di radio [dari http://en.wikipedia.org/wiki/Bung_Tomo]:
"Hey Britain, as long as the wild ox, the youth of Indonesia, still have red blood that can make a white cloth red and white... as long as that we will not surrender. Friends, fellow fighters... especially the youth of Indonesia, we will fight on, will will expel the colonialists from our Indonesian land that we love... Long have we suffered, been exploited, trampled on. Now is the time for us to seize our independence. Our slogan: FREEDOM OR DEATH. GOD IS GREAT... GOD IS GREAT... GOD IS GREAT.. FREEDOM!" (Bung Tomo's radio speech, 9 November 1945)

Rekaman pidato Bung Karno di bawah ini, saya ambil dari Youtube (mohon ijin, ya mas wexku , terima kasih)