Tuesday, August 25, 2009

Arah Kiblat Salat Tarawih Tak Lagi Membingungkan

Hari ini, 25/08/09 saya kembali ikut salat tarawih di sebuah gedung pertemuan di sebuah perumahan di Jakarta Selatan (di tempat yang sama dengan yang saya tulis pada pada posting Arah Kiblat Salat Tarawih Yang Membingungkan). Untunglah kali ini posisi karpet bermotif gambar sejadah telah telah diperbaiki sesuai arah kiblat, sehingga jemaah dapat melaksanakan ibadah salat tarawih dengan baik.posisi sejadah 2a.JPG

Namun, karena bentuk bangunan memang tidak sesuai dengan posisi arah kiblat, maka penyesuaian posisi karpet menyebabkan berkurangnya jumlah jemaah yang dapat ditampung. Jamaah salat tidak boleh berada di depan Imam. Karena itu sebagian shaf terdepan harus dikosongkan.

Dalam salat berjamaah memang Imam harus paling depan, tetapi setahu saya Imam tidak harus pada posisi di tengah. Jadi andai posisi imam digeser ke kanan (ke arah sudut), maka sebenarnya jumlah jemaah yang dapat ditampung tidak perlu harus berkurang. Sebelumnya jumlah jemaah yang dapat tertampung adalah 19 x 3 = 57 jemaah. Jika posisi imam di tengah maka jumlah jemaah hanya 57 - 2 - 8 = 47 jemaah. Sedangkan jika posisi imam di kanan maka jumlah jemaah yang dapat ikut salat tarawih 57 - 7 - 2 + 9 = 57 jemaah.

posisi sejadah 2c.JPG

Saturday, August 22, 2009

Arah Kiblat Salat Tarawih Yang Membingungkan

Pada bulan Ramadhan biasanya banyak diselenggarakan salat tarawih berjamaah. Salat tarawih tersebut tidak selalu diselenggarakan di mesjid. Demikan juga salat tarawih berjamaah yang saya ikuti hari ini, 22 Agustus 2009. Tempatnya adalah sebuah gedung pertemuan di sebuah perumahan di Jakarta Selatan. Saya lihat penyelenggara salat tarawih telah menyiapkan sarana salat, termasuk tempat wudlu. Lantai ruang salat ditutup karpet bermotif gambar sejadah.

Menjelang salat Isya akan dimulai, seorang penyelenggara berbicara melalui loudspeaker. Beliau memberitahukan bahwa arah kiblat adalah sedikit miring ke kanan seperti posisi sejadah imam, tetapi karpet telah terlanjur ditata mengikuti bentuk/posisi gedung. Karena itu, para jemaah diharapkan salat dengan menghadap kiblat mengikuti arah imam dan agar tidak mengikuti arah gambar sejadah di karpet.

Tidak lama kemudian, salat isya dimulai. Jemaah di depan dan samping saya mulai berdiri. Saya mengira jemaah akan membentuk shaf (barisan) yang juga miring ke kanan, menyesuaikan dengan arah kiblat. Ternyata semua jemaah tetap membentuk shaf yang tegak lurus dengan gedung, tetapi dengan badan menghadap sedikit miring/serong ke kanan. Jadi agak diagonal dengan posisi arah gambar sejadah di karpet.

Saya merasa canggung dengan posisi salat berjamaah seperti ini. Gambar sejadah di karpet sering kali membuat saya terpengaruh untuk bergeser dari arah kiblat yang dicontohkan imam. Ternyata bukan hanya saya. Posisi badan menghadap sedikit miring/serong ke kanan hanya bertahan sampai awal salat tarawih. Beberapa rakaat berikutnya, beberapa jemaah mulai bergeser menghadap sesuai posisi gambar sejadah di karpet.

Sepertinya penyelenggara salat tarawih perlu lebih cermat dalam menata tempat yang akan dipakai salat. Saya kira lebih baik memakai karpet polos atau tanpa karpet. Yang penting lantainya bersih. Kalau jemaahnya banyak dan tidak semuanya bisa melihat imam, sebaiknya ada penanda posisi shaf, supaya jemaah dapat menghadap arah kiblat yang benar.