Monday, February 16, 2009

Sulitnya Mempraktekan Kiat RSVP Bondan Winarno

Dalam buku Seratus Kiat, Bondan Winarno memberi resep menghadiri resepsi pernikahan dengan memplesetkan kata RSVP menjadi Rush in, Shake hand and Vanish Promptly. Saya sudah lama mengetahui kiat ini, tetapi tidak pernah sepenuhnya mempraktekannya. Setelah shake hand, biasanya saya makan dulu, baru vanish.

Hari ini saya menghadiri undangan sebuah resepsi pernikahan. Di undangan tertulis "jam 11.00 sampai ??? (lupa)". Saya pikir datang jam 12 bukan termasuk terlambat. Tetapi, waktu rush in memasuki ruangan, saya dengar suara pembawa acara memanggil-manggil nama-nama pihak keluarga yang akan foto bersama mempelai. Kemudian saya lihat beberapa orang sedang foto bersama pengantin. Di sisi kiri masih ada antrian panjang yang mau foto bersama, mengabadikan kenangan (yang mudah-mudahan) sekali seumur hidup ini.

"Wah nggak bisa langsung shake hand, nih." pikir saya. Karena itu, saya berpaling ke meja hidangan. Maksud saya makan dulu, sambil menunggu selesai antrian yang mau berfoto, setelah itu shake hand and vanish. Tetapi... piring habis dan hidangan sepertinya tinggal sedikit tersisa. Saya tengok ke kanan, ke meja lain yang diberi tulisan "Sate (lupa ayam apa kambing)", lho koq cuma kelihatan lontong, satenya mana? Saya balik kanan, untunglah masih ada agar-agar dan buah.

Supaya tidak kecewa karena tidak kebagian makan, saya anggap saja hidangannya bukan termasuk katagori "Mak Nyusss..". Bukan maksud saya untuk tidak menghargai keluarga mempelai. Saya yakin mereka telah berusaha maksimal agar acara berjalan baik. Belakangan saya tahu bahwa sewa gedung hanya sampai jam 13.00. Jadi datang jam 12 termasuk terlambat untuk acara resepsi yang harus berakhir jam 13.00. Tidak gampang mempraktekan Kiat RSVP Bondan Winarno. Lebih tidak gampang lagi menyelenggarakan acara resepsi semacam ini. Konon tidak selalu mudah untuk mendapatkan tempat yang sesuai pada jadwal waktu yang telah direncanakan, karena daftar tunggu yang akan menyewa sudah begitu panjang. Konon juga, ada pengelola gedung yang hanya mau satu paket dengan catering. Jadi keluarga mempelai terpaksa memakai katering yang belum mereka kenal dan yakini kualitasnya.

Saya mengakui, undangan untuk menghadiri acara walimah/resepsi pernikahan adalah sebuah penghormatan dari pihak mempelai. Terlebih lagi, saya termasuk yang sering tidak bisa datang. Bahkan kadang saya masih merasa bersalah, waktu acara nikah adik sepupu saya di Jakarta beberapa tahun lalu, saya malah sibuk dengan pekerjaan saya di sebuah daerah terpencil di Sumatera.

No comments:

Post a Comment

You can use HTML tags.