Wednesday, December 10, 2008

Ternyata ”Rantau Prapat” Tidak Sama Dengan ”Prapat”.

Mungkin karena terbiasa mengasosiasikan "Priok" dengan "Tanjung Priok" dan "Labu" dengan "Pondok Labu", saya selama ini menganggap"Prapat" dan "Rantau Prapat" adalah kota yang sama. Setelah mendapat tugas ke Rantau Prapat seminggu yang lalu, saya baru mengerti bahwa "Rantau Prapat" ternyata tidak sama dengan "Prapat".Untunglah setibanya di Polonia, Medan, rekan kami, Pak Pardede telah mengirim sopir untuk menjemput. Ternyata Rantau Prapat berjarak 266 km dari Medan, hampir ke perbatasan Riau. Sedangkan Prapat berjarak sekitar 176 km dari Medan, dekat Danau Toba. Kalau tidak dijemput, saya bakal nyasar ke Parapat. ...Thanks Pak Pardede!

Perjalanan Medan ke Rantau Prapat bisa ditempuh dalam waktu 6 atau 7 jam. Tetapi Pak Pardede meminta kami mampir dulu ke kantornya di Pematang Siantar (127 km dari Medan).

Tidak Jadi Menginap di Suzuya

Setelah menginap semalam di Pematang Siantar, sekitar jam 09:00 pagi kami melanjutkan perjalanan ke Rantau Prapat yang jaraknya 235 km. Saya memikirkan nanti Rantau Prapat mau menginap dimana? Saya khawatir karena Zhar Aditya menulis di blog nya,: "Waduh, kalo disini jangan ke hotel murah….entar digedorin poker (perek bahasa sini) mulu gak bisa tidur ntar" Saya sudah tanya sama Aditya via comment box, tapi mungkin dia tidak sempat menjawab. Akhirnya saya SMS teman saya, Ian. Dia anak Medan yang sekarang tinggal di Jakarta. Ian merekomendasikan hotel Suzuya. "Ratenya sekitar 300 rb", katanya via SMS.

Kami mampir makan siang di rumah makan di Aek Kanopan (kalau tidak salah). Uniknya rumah makan ini cara menyajikannya mirip rumah makan Padang, tetapi menunya lebih mirip masakan Jawa. Selain ada teri medan kesukaan saya, juga ada tempe dan urap segala. Cocok dengan selera saya!

Siang hari kami sampai di Rantau Prapat. Kami melewati jalan di depan Hotel Suzuya. Terletak di tengah kota. Disamping Hotel ini ada KFC yang disebut Zhar Aditya sebagai satu-satunya KFC di Rantau Prapat. Tetapi kami tidak menginap di hotel Suzuya, karena ternyata kami sudah dipesankan kamar di Hotel Nuansa Resort.

Mandi Kembang, eh Mandi Air Dingin di Malam Hari

Hotel Nuansa Resort tidak sebesar Hotel Suzuya. Tidak ada kolam renang seperti hotelnya Aditya. Letaknya juga tidak ditengah kota, dan tentu saja tidak ada KFC nya . Tetapi secara umum hotel ini cukup bagus. Tidak ada gedoran di malam hari Free Smiley Face. Yang kurang cuma: Waktu saya mau mandi air hangat tidak tidak ada. Waktu saya tanya, katanya gas habis. Memang petugasnya kemudian datang dan langsung mengganti tabung gas, tetapi saya sudah keburu selesai mandi.

Internet Telkomflexi vs StarOne

Malam itu saya coba akses internet Telkomflexi yang sudah saya aktifkan combonya. Tetapi ternyata Telkomflexi tidak berhasil mengakses jaringan internet di Rantau Prapat . Akhirnya saya ganti RUIM Card dengan StarOne, dan langsung berhasil mengakses jaringan internet. Saya heran, di Jakarta justru Telkomflexi yang selalu berhasil mengakses jaringan internet, sedangkan StarOne mesti dipancing berkali-kali. Pernah saya tanya CS di Gallery Indosat di Plasa Blok M, tetapi jawabannya cuma: "Dicoba lagi aja". Saya jadi nyesel nanya..Free Smiley Face

Terkecoh Kicauan Burung Palsu

Rantau Prapat cerah di pagi hari itu. Waktu yang pas buat lari-lari pagi. Berbeda dengan di Pematang Siantar, tidak banyak yang berolah raga pagi di sini. Mungkin karena Hotel Nuansa Resort letaknya di jalan yang menjadi jalur transportasi luar kota. Kendaraan yang lewat jalan ini umumnya berkecepatan tinggi. Jadi kurang nyaman untuk lari-lari pagi. Untunglah di sebelah barat Hotel ada jalan yang agak sepi melewati RSUD dan komplek perumahan. Sekembalinya ke Hotel, saya mendengar kicauan burung disekitar Hotel, tapi tidak tampak seekor burungpun. Belakangan saya diberitahu bahwa suara itu adalah suara kaset untuk memancing burung walet. Di samping Hotel memang ada bangunan yang dijadikan sarang walet.

Mandi Air Dingin Lagi

Waktu saya mau mandi air hangatnya tetap tidak keluar dari shower. Jadi gas yang tadi malam kemana lagi ya? Free Smiley Face

(peta diambil dari http://www.infoka.kereta-api.com/informasi/?tipe=25&peta=sumut&id_con=15 )

8 comments:

  1. Terima kasih sudah berkunjung ke kota saya. Walau sudah berlalu sangat lama, tapi tentunya kenangan itu takkan hilang begitu saja.
    Rantauprapat (*nulisnya disambung) mayoritas dikelilingi Kebun Sawit juga Karet. Biasanya juga tamu yang datang berurusan dengan kedua komoditi tersebut dan berurusan dengan perusahaan yang biasanya menyediakan Mess. Inilah yang membuat investor kurang berminat dibidang perhotelan di Rantauprapat. Hiburan minim, perbelanjaan apalagi. Dulu ada Sinar Mega yang sekarang sudah tutup. Tapi sekarang ada Suzuya dan Brastagi.
    Warga sini kalau mau hangout ya.. ke Medan. Berangkat naik KA Eksekutive AC malam 6 jam ke Medan.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Bang Dalimunthe. Akhir Juli 2011 saya ke Sumut lagi, tapi tidak sampai ke kota Abang di Rantauprapat. Saya cuma di Medan dan Belawan.
    Selamat beribadah Ramadhan.

    ReplyDelete
  3. hehehehe...mang itulah ranto prapat...lom bsa memaksimalkan potensinya,padahal bnyak bgt tuh potensi yg bsa dikembangkan,dari pariwisata sampe pertanian..kelemahan terbesarny,KORUPSI MERAJALELA..apalagi di instansi pemerintahannya,paling banyak,coba saja pemerintah daerah lebih tegas n ju2r,tuh bakal jadi kabupaten maju

    ReplyDelete
    Replies
    1. @ vicky: Korupsi memang menghancurkan segalanya. Ayo kita lawan

      Delete
  4. rantauprapat tampak kisruh
    karena korupsi
    namun rakyat hanya diam saja
    karena,
    masyarakat di rantauprapat penghasilannya lebih dari cukup :)
    termaksud sejahtera, walau korupsi merajalela di kotaku
    kalau kena prit polisi aja, minimal bayar 100rb, mana mau mereka di bayar 50rb apalagi 20rb,.
    bandingkan aja dgn kota anda, kalau kena prit polisi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @ aiglus: Bagaimanapun juga korupsi adalah kejahatan. Ayo tetap semangat untuk melawan korupsi

      Delete
  5. Saya arief dalimunthe kelahiran Rantauprapat,tapi saya skrg berdomisili disubang,sejak saya tinggal 15thn silam keadaan Rantauprapat tidak jauh berbeda dgn sebulan yg lalu saat saya pulang,Rantauprapat memang memiliki potensi dan penghasilan alam yg melimpah,tetapi karena KKN yg sudah akut,jadilah kota kelahiranku seolah jalan ditempat tanpa perkembangan yg berarti dari segala aspek,sungguh prihatin..entah sampai kapan kotaku tercinta ini akan seperti ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bang Arief Dalimunthe,
      Saya termasuk yang percaya bahwa bagus atau tidaknya suatu lembaga/organisasi sangat tergantung dari yang memimpin. Kalau dipimpin oleh orang yag jujur, tegas, berani dan nothing to loose, saya yakin tidak akan ada yg berani KKN.
      Salam

      Delete

You can use HTML tags.