Saturday, May 12, 2007

Menunggu Review Lengkap Buku: Long Tail Pak Budi Rahardjo

Pak Budi Rahardjo menulis posting berjudul Review Buku: Long Tail di blognya. Dari sebuah web dan satu talk show di SmartFM, sekilas bagi saya tampaknya Long Tail dari Chris Anderson berseberangan dengan Pareto. Padahal saya terlanjur merasa nyaman dengan Pareto.
Saya sedang malas baca buku. Karena itu, saya tertarik dengan judul posting ini. Harapan saya, dengan membaca Review Pak Budi Rahardjo, saya bisa faham tanpa harus baca buku Long Tail. (Maklum, sedang kambuh malasnya). Padahal kata Pak Budi: "Ini buku yang wajib dibaca bagi para pelaku bisnis, blogger, dan Anda (apa pun pekerjaan Anda)".
Saya tidak sabar menunggu Gambar dari Pak Budi. Saya coba mencerna penjelasan Pak Budi sambil menggambar.


Berikut adalah penjelasan singkat Pak Budi :
"Idenya adalah sebagai berikut. Anda pernah lihat gambar grafik yang nilai di sumbu Y menurun secara eksponensial dengan bertambahnya nilai di sumbu X. [Nanti saya gambarkan.] Nah, biasanya orang jualan atau memberikan layanan hanya kepada yang paling banyak peminatnya, yaitu di sisi sebelah kiri (dimana nilai di sumbu Y, yang menyatakan jumlah peminat atau pembeli, nilainya tinggi). Toko musik, misalnya, hanya menjual kaset dan CD yang banyak pembelinya saja. Jarang ada toko musik yang menjual kaset / CD yang langka. (Apakah ada CD Waljinah?) Sisi sebelah kanan, yang sering disebut ekor atau tail, tidak ada yang memperdulikan. Siapa yang mau melayani mereka?
Ternyata ekor itu sangat panjang, sehingga disebut long tail. Berapa panjang? Pokoknya sangat panjang … puluhan ribu, ratusan ribu, dan jutaan. (Bagi Anda yang paham matematik, kalau diintegralkan maka luas area di sebelah kanna itu ternyata signifikan juga.) Nah, bisnis sekarang ternyata menuju ke sisi ekor itu. Ini dulunya diabaikan. Sekarang - dengan adanya komputer, internet, handphone - sisi ekor ini mulai mendapat perhatian yang lebih banyak. Blog merupakan salah satu contoh. Nati saya elaborasi lagi deh. "
Pak Budi belum sempat mereview secara lengkap, karena harus ketemu klien untuk presentasi.
Pada Gambar di atas, tampak jelas bahwa bagian ekor ( "kuning" ), luasnya (integralnya) lebih besar dari bagian "hijau". Menurut pemahaman saya, kalau kita bisa menjual semua CD yang termasuk katagori "ekor", hasilnya bisa mengalahkan hasil penjualan semua CD yang masuk katagori "banyak peminatnya" (hijau). Sepertinya, ini dengan asumsi semua CD "ekor" terjual dan harga serta biaya untuk menjualnya sama dengan CD yang masuk katagori "banyak peminatnya" (hijau). Mungkin, skenarionya adalah Teknologi Informasi memudahkan menjual dan menekan biaya menjual.
Tetapi saya masih punya pertanyaan yang belum bisa saya jawab sendiri. Bagaimana kalau CD-CD "hijau" dijual lebih mahal (karena demandnya lebih tinggi)? Bagaimana kalau Teknologi Informasi juga kita pakai untuk memudahkan dan menekan biaya menjual CD-CD yang masuk katagori "banyak peminatnya" (hijau) sehingga keuntungan bisa lebih tinggi lagi ?
Sepertinya saya harus menunggu posting Pak Budi mengenai Review Lengkap Buku: Long Tail.

"Jendela" Dalam Judul Blog

Sewaktu memilih kata "Jendela"menjadi judul blog ini, saya tidak menyangka bahwa sudah banyak blogger yang juga memilih kata Jendela menjadi nama blog mereka. Saya tipe orang yang kurang begitu suka kelihatan mirip atau dianggap mirip dengan orang lain. Saya juga tidak sependapat dengan William Shakespeare mengenai apalah arti sebuah nama.
Dari Google Blog Search saya dapatkan sejumlah blog yang juga memakai kata Jendela pada judulnya : JENDELA HIKMAH, Jendela RIRI SATRIA di Internet, Jendela Si Anak Jalanan, JENDELA ooknugroho , Jendela Ide, Jendela Luluk, Jendela dan Kemeja. Bahkan ada yang memakai nama yang sama, dengan huruf berbeda: jEnDeLa HaTi dan Jendela Hati

Saya pernah berencana untuk membuang kata Jendela dari judul blog ini. Saya juga mempertimbangkan membuat blog baru. Berbagai nama yang lebih unik telah saya pikirkan. Tetapi begitu mau mengganti judul blog ini, level kemalasan saya meningkat. "Gitu aja koq repot", pikir saya.
Saya sudah terlanjur memilih kata Jendela untuk judul blog ini. Keinginan untuk tampil beda dan unik tidak berhasil mengalahkan kemalasan saya. Untuk sekedar berkelit, saya katakan bahwa, kalau suatu kata banyak dipilih jadi judul blog, itu artinya banyak yang suka dengan kata tersebut.
Jadi apa salahnya tetap memakai kata Jendela untuk blog ini? Kecuali ada blogger yang protes karena merasa punya hak eksklusif untuk memakai kata Jendela untuk judul blognya.

Wednesday, May 2, 2007

Jangan Mau Jadi Guru atau Dosen!

Benar. Anda tidak salah baca. Jangan mau jadi guru atau dosen, kalau anda peduli dengan pendidikan dan hari depan bangsa. Pendidikan masih jadi barang mewah untuk sebagian besar rakyat kita. Namun tidak demikian dengan kehidupan para tenaga pendidiknya. Bukanlah hal yang mengherankan kalau seorang guru SMA di Jakarta masih harus sibuk dengan berbagai pekerjaan sampingan untuk sekedar bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Awal tahun 2005 ada seorang Doktor, dosen perguruan tinggi ternama, setelah terkatung-katung tiga hari tak mampu bayar ICU, akhirnya meninggal karena leukemia di sebuah Rumah Sakit di Jakarta. (Tulisan Nining I Soesilo di Kompas, Doctor Miscellaneous Causa). Pada peringatan Hardiknas 2 Mei 2007, Mendiknas mengakui, pemerintah baru bisa menganggarkan 11,8 persen APBN untuk pendidikan. Padahal Undang Undang mengamanatkan anggaran pendidikan 20 persen dari dana APBN. Ternyata gaji seorang Guru Besar yang sudah berdinas sekitar 40 tahun hanya sekitar Rp 2.7 juta sebulan. Hanya sekitar 1/15 x gaji anggota DPR (Tulisan Ahmad Syafii Maarif di Republika, Nasib Profesor di Indonesia). Tentu saja, ada juga guru dan dosen yang hidup berkecukupan. Tetapi bisa dipastikan, itu diperoleh dari sumber penghasilan lain. Artinya mereka tidak sepenuhnya menekuni profesi sebagai guru dan dosen. Bukan tidak mungkin, guru dan dosen pada prakteknya hanya jadi pekerjaan sambilan bagi mereka. Dengan kenyataan ini, mana mungkin kualitas lulusan perguruan tinggi kita akan sebaik lulusan perguruan tinggi di negeri tetangga, misalnya? Dengan rendahnya mutu lulusan kita, bagaimana mungkin mampu bersaing pada tingkat regional, apalagi internasional? Karena itu, jangan mau jadi guru atau dosen. Lho!? Bagaimana nasib pendidikan kita kalau tidak ada yang mau jadi guru dan dosen? Justru inilah jalan yang harus ditempuh untuk menyelamatkan pendidikan nasional. Kalau tidak ada yang mau jadi guru dan dosen, maka guru dan dosen akan menjadi profesi langka. Sementara kebutuhan terhadap profesi guru dan dosen akan tetap ada dan meningkat, maka mekanisme supply-demand akan mengangkat guru dan dosen ke posisi finansial dan status sosial yang lebih baik. Jika guru dan dosen telah menjadi profesi bergengsi, maka akan banyak yang berminat menekuni profesi ini. Kalau banyak yang berminat, maka seleksi alam akan memilih yang terbaik. Memang hanya yang terbaik yang pantas menjadi guru dan dosen, pendidik generasi penerus kita. Selamat Hari Pendidikan Nasional!