Beberapa waktu yang lalu, soal Lagu Indonesia Raya terdiri dari satu stanza atau tiga stanza, banyak diberitakan media. Ketika itu, seorang kenalan saya mengtakan: "Mestinya lirik Lagu Indonesia Raya diganti jadi: ...Indonesia Raya SEJAHTERA! SEJAHTERA!....". "Lho? Lagu kebangsaan koq liriknya diganti?" tanya saya.
Dia menjawab: " Apa salahnya? Di masa WR Supratman, (lirik) Lagu Indonesia Raya juga bukan: "...Indonesia Raya MERDEKA! MERDEKA!...." tetapi ".. Indones Indones, MULIA! MULIA! ....".
Menurut dia, mulia dan sejahtera itu derajatnya lebih tinggi dari merdeka. "Di masa '45 fokus kita memang pada kemerdekaan, tetapi sekarang isunya harus beralih ke kesejahteraan. Kita memang sudah 62 tahun merdeka. Tetapi apa kita sudah mulia? Apa kita sudah sejahtera?" dia balik bertanya.
Dia melanjutkan dengan mengatakan, bahwa orang Amerika menyebut hari kemerdekaan sebagai independence day. Kata independence kalau diindonesiakan bisa diartikan sebagai ketidaktergantungan.
"Mana ada negara yang sama sekali tidak tergantung pada negara lain?" tanya saya. Dia tertawa dan mengatakan: "So, artinya kamu setuju bahwa kemerdekaan itu relatif."
Jadi, sudah seberapa Merdeka kita?
Friday, August 17, 2007
Sunday, August 12, 2007
Mendadak Golput
"INIKAH YANG ANDA INGINKAN? JANGAN GOLPUT!" Kalimat ini tertulis pada poster-poster yang saya jumpai di halte bus di Jakarta Selatan, akhir Juli 2007. Di poster itu tergambar seorang laki-laki dengan beringas mengayunkan tongkat hendak memukul sesuatu. Di belakangnya, terlihat beberapa orang laki-laki entah sedang melakukan apa. Yang menarik perhatian saya, wajah dan pakaian orang-orang itu jelas memberi kesan peristiwa itu terjadi di Timur Tengah. Sayang saya tidak sempat mengambil foto poster tersebut untuk saya tunjukkan di Blog ini.
Saya setuju dengan ajakan menggunakan hak pilih dalam PILKADA DKI, tetapi saya sangat tidak suka pada gambar di poster tersebut. Kalau ingin memotivasi orang untuk peduli pada proses demokrasi, mengapa memakai ilustrasi kejadian di Timur Tengah?
Saya tidak berniat untuk Golput, walaupun pada akhirnya saya tidak menggunakan hak pilih dalam PILKADA DKI 8 Agustus 2007. Bukan ketidaksukaan saya pada gambar di poster itu yang menjadi penyebabnya. Seminggu menjelang hari PILKADA DKI, saya diberi tugas ke Bandung mulai tanggal 6 sampai 8 Agustus 2007. Entah apakah kantor saya memang tidak tahu bahwa PILKADA DKI akan dilaksanakan tanggal 8 Agustus 2007, atau memang sengaja mengabaikan hak demokrasi saya sebagai warga DKI Jakarta.

Semula saya ingin menolak tugas ini. Saya akan beralasan bahwa saya ingin memberikan suara pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Padahal sebetulnya saya menolak karena tidak suka bekerja di hari libur (tanggal 8 Agustus 2007 adalah hari libur untuk DKI). Namun kemudian saya berubah pikiran. Tugas di Bandung tanggal 6 sampai 8 Agustus 2007, saya perkirakan dapat saya selesaikan dalam waktu dua hari saja. Dengan begitu, hari ketiga, tanggal 8 Agustus 2007 akan dapat saya pakai untuk liburan di Bandung atas biaya kantor :). Lagi pula saya belum memutuskan apakah akan memilih Adang-Dani atau Fauzi-Prijanto. Saya juga tidak banyak tahu, apa saja yang dijanjikan kedua pasangan calon Gubernur kepada warga DKI Jakarta. Saya juga tidak yakin apakah kedua pasangan calon Gubernur jika terpilih, akan lebih banyak berupaya memenuhi janji mereka kepada warga DKI atau justru kepada partai-partai politik yang mendukung mereka.
Akhirnya saya memilih berangkat ke Bandung, sekaligus memutuskan untuk Golput dalam PILKADA DKI 8 Agustus 2007.
Saya setuju dengan ajakan menggunakan hak pilih dalam PILKADA DKI, tetapi saya sangat tidak suka pada gambar di poster tersebut. Kalau ingin memotivasi orang untuk peduli pada proses demokrasi, mengapa memakai ilustrasi kejadian di Timur Tengah?
Saya tidak berniat untuk Golput, walaupun pada akhirnya saya tidak menggunakan hak pilih dalam PILKADA DKI 8 Agustus 2007. Bukan ketidaksukaan saya pada gambar di poster itu yang menjadi penyebabnya. Seminggu menjelang hari PILKADA DKI, saya diberi tugas ke Bandung mulai tanggal 6 sampai 8 Agustus 2007. Entah apakah kantor saya memang tidak tahu bahwa PILKADA DKI akan dilaksanakan tanggal 8 Agustus 2007, atau memang sengaja mengabaikan hak demokrasi saya sebagai warga DKI Jakarta.
Semula saya ingin menolak tugas ini. Saya akan beralasan bahwa saya ingin memberikan suara pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Padahal sebetulnya saya menolak karena tidak suka bekerja di hari libur (tanggal 8 Agustus 2007 adalah hari libur untuk DKI). Namun kemudian saya berubah pikiran. Tugas di Bandung tanggal 6 sampai 8 Agustus 2007, saya perkirakan dapat saya selesaikan dalam waktu dua hari saja. Dengan begitu, hari ketiga, tanggal 8 Agustus 2007 akan dapat saya pakai untuk liburan di Bandung atas biaya kantor :). Lagi pula saya belum memutuskan apakah akan memilih Adang-Dani atau Fauzi-Prijanto. Saya juga tidak banyak tahu, apa saja yang dijanjikan kedua pasangan calon Gubernur kepada warga DKI Jakarta. Saya juga tidak yakin apakah kedua pasangan calon Gubernur jika terpilih, akan lebih banyak berupaya memenuhi janji mereka kepada warga DKI atau justru kepada partai-partai politik yang mendukung mereka.
Akhirnya saya memilih berangkat ke Bandung, sekaligus memutuskan untuk Golput dalam PILKADA DKI 8 Agustus 2007.
Friday, August 3, 2007
Passenger 29E
Meski mengantuk dan sudah pernah menonton film ini beberapa tahun lalu, "Passenger 57" yang dibintangi Wesley Snipes dan Bruce Payne masih bisa membuat saya terjaga didepan TV. Sebaliknya Passenger 29E yang duduk disamping saya dalam penerbangan dari Surabaya ke Jakarta, 4 Juli 07, membuat saya sangat gelisah dan ingin dapat segera menjauh darinya.
Passenger 29E yang saya maksud adalah penumpang yang duduk di kursi bernomor 29E. Tepat disamping saya (no. 29F). Dia adalah seorang laki-laki belia, berkulit terang, dan berkacamata. Selama perjalanan, anak muda ini duduk dengan tenang, sopan dan hanya sedikit berbicara. Dia bahkan membantu saya mengambil air mineral yang dibagikan pramugari (saya duduk di samping jendela, tidak cukup mudah bagi pramugari untuk menaruh air mineral di meja saya). Tetapi semua nilai plus ini bagi saya tidak cukup mengimbangi satu nilai minusnya. Yaitu: Bau badan orang ini sungguh tidak enak. Andai hal ini terjadi di bis kota, saya akan membuka jendela. Udara Jakarta (walau berpolusi) akan menetralkan aroma tak sedap ini. Tetapi di pesawat udara yang sedang berada di ketinggian sekian ribu kaki, mana mungkin saya membuka jendela?
Sepanjang perjalanan saya mengomel dalam hati. Mengapa harus saya yang tertimpa musibah ini? Saya menyesal telah meminta window seat. Padahal sewaktu antri untuk check in di Juanda, tepat di depan saya adalah seorang perempuan muda. Saya yakin aromanya jauh lebih bersahabat. Andai saya tidak meminta window seat, mungkin saja saya akan mendapat tempat duduk bersebelahan perempuan muda ini. Saya terbebas dari bau yang menyiksa dan bahkan mungkin saja perjalanan saya akan terasa sangat indah. Andai saja...........
Penderitaan saya baru berakhir setelah pesawat mendarat di Sukarno-Hatta. Saya biarkan sang Passenger 29E turun terlebih dahulu, baru saya mengambil ransel dan turun bersama para penumpang lainnya. Sampai di rumahpun pikiran saya masih saja menyalahkan sang Passenger 29E. Aroma tubuhnya benar-benar telah merusak suasana perjalanan saya.
Jumat malam, 6 Juli 2007, di sebuah acara di radio Smartfm, saya ceritakan hal itu kepada Mas Prie GS via SMS. Saya tidak ingat persis apa komentarnya, tetapi kurang lebih demikian: "Kejadian seperti ini memang bisa dianggap musibah yang bisa menimpa kita kapan saja dan dimana saja tanpa bisa kita hindari. Tetapi perlu disadari juga bahwa suatu saat, tanpa kita sengaja, bahkan tanpa kita sadari kitapun mungkin saja menjadi pihak yang menimbulkan gangguan dan ketidanyamanan bagi orang lain" tambahnya.
Jawaban Mas Prie GS tidak serta merta meredakan kekesalan saya pada si Passenger 29E. Namun perlahan-lahan saya menyadari bahwa sangat mungkin saya juga pernah menjadi sumber ketidaknyaman bagi orang lain. Saya ingat, di sebuah bioskop, saya pernah mengobrol dengan begitu bersemangat sehingga suara kami menjadi "noise" bagi sejumlah penonton di sekitar kami. Kadang-kadang saya lupa mematikan nada dering ponsel sewaktu solat di musola atau masjid. Saya pernah kurang hati-hati sewaktu berjalan, sehingga di depan sebuah toko yang terasnya sedang diperbaiki, saya menginjak plesteran semen yang masih basah lunak. Saya juga pernah lupa mereset/mematikan alarm jam meja di kamar kost saya sebelum pergi, sehingga deringnya yang begitu nyaring mengejutkan seisi rumah. Belum lagi dengan gangguan-gangguan yang pernah saya timbulkan tetapi sampai sekarang tidak pernah saya sadari.
Akhirnya saya dapat menghentikan kemarahan saya kepada sang Passenger 29E. Sekarang saya dapat memaklumi dan bahkan merasa kasihan padanya. Mungkin saja karena sesuatu hal dia terpaksa berangkat terburu-buru sehingga tidak sempat mandi dan mengenakan pakaian yang bersih. Mungkin sang Passenger 29E juga tidak kalah menderitanya dengan saya, karena merasa bersalah telah menebar aroma tak sedap dalam pesawat udara.
Rasa lega saya setelah dapat berhenti menyalahkannya, melebihi rasa lega saya ketika terbebas dari aroma tubuh sang Passenger 29E.
Subscribe to:
Posts (Atom)