Monday, May 10, 2021

Jokowi Can Do No Wrong?

"Sebentar lagi Lebaran. Namun karena masih dalam suasana pandemi, pemerintah melarang mudik untuk keselamatan kita bersama. Nah, untuk Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasanya mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online. Yang rindu makan gudeg Jogja, bandeng Semarang, siomay Bandung, pempek Palembang, Bipang Ambawang dari Kalimantan, dan lain-lainnya, tinggal pesan. Dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah," Kalimat kalimat di atas disampaikan Presiden Joko Widodo, mengajak masyarakat yang tidak mudik selama lebaran 2021 untuk membeli beragam kuliner khas lebaran secara online.

Di pidato Jokowi menyebutkan  "Bipang Ambawang". Kalau kita mengetik kata "Bipang Ambawang" di mesin pencari di internet, yang muncul adalah nama rumah makan yang berlokasi di Ambawang, Kubu Raya, Kalimantan Barat. Di Google disebutkan, Kata "Bipang" di sini adalah singkatan dari Babi Panggang. Gambar di bawah ini adalah penampakan Bipang Ambawang (dari https://lifestyle.okezone.com/read/2021/05/08/298/2407708/ini-dia-bipang-ambawang-makanan-khas-kalimantan-yang-ramai-dibahas-di-medsos).


Di Tweeter Bung Fajroel Rachman mengatakan bahwa beliau berasal dari Kalimantan Selatan. Karena itu saya perlu mengatakan bahwa saya cukup lama tinggal di Kalimantan Selatan. Ada daerah di Kalimantan Selatan yang memang bernama mirip dengan Ambawang, yaitu Pantai Hambawang, tetapi setahu saya, Pantai Hambawang bukan penghasil jajanan bernama Bipang atau Bepang atau Jipang yang kata Bung Fajroel Rachman terbuat dari beras dengan gula.
Berbeda dengan Fajroel Rachman, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin tidak membantah bahwa "Bipang Ambawang" yang disebut Presiden Joko Widodo adalah memang babi panggang. Tetapi Ali Mochtar Ngabalin mempertanyakan, "Apa yang salah dari pernyataan Jokowi soal Bi-Pang? Bukankah beliau bapak dari seluruh suku dan agama di negeri ini. Semua punya makanan khas yang bermacam-macam. Kalau beliau memperkenalkan makanan khas tertentu kenapa nggak boleh? Apa karena soal mudik lebaran?" . Jadi meskipun membenarkan bahwa Bipang ini adalah babi panggang, Ali Mochtar Ngabalin seperti mengabaikan kalimat pertama Jokowi: "Sebentar lagi Lebaran...", dan membelokkan konteks hari Lebaran yang merupakan sinonim hari Idul Fitri-hari besar Umat Islam menjadi konteks hanya memperkenalkan makanan khas daerah.
Di samping tweet dari Fajroel Rachman dan Ali Mochtar Ngabalin, sejumlah Tweet (mungkin dari para buzzer) yang terkesan membabi buta membela ajakan Jokowi untuk membeli Bipang Ambawang juga beredar di internet. Padahal tidak akan ada risiko apapun terhadap reputasi Jokowi kalau Juru bicara Presiden, atau pihak Tim Komunikasi Presiden atau Pak Jokowi sendiri mau mengakui adanya kekeliruan, dan bahwa Bipang atau babi panggang Ambawang itu seharusnya tidak muncul dalam pidato Presiden yang konteks nya jelas adalah hari Lebaran - Hari Idul Fitri- hari besar Umat Islam. Jokowi bahkan akan dihargai dan dihormati sebagai seorang yang pemimpin yang rendah hati dan mau mengakui kekeliruannya. Membela secara membabi buta dan memposisikan Jokowi sebagai can do no wrong justru kontra produktif. Bukankah Jokowi sendiri yang beberapa kali mengatakan minta dikritik?
Untunglah ada pernyataan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi meminta maaf atas pernyataan Presiden Joko Widodo tersebut.: "Kami dari Kementerian Perdagangan selaku penanggungjawab acara itu sekali lagi memastikan tidak ada maksud apapun dari pernyataan bapak Presiden. Kami mohon maaf sebesar-besarnya bila terjadi kesalahpahaman karena niat kami hanya ingin agar kita semua bangga terhadap produksi dalam negeri termasuk kuliner khas daerah." . Pernyataan Muhammad Luthfi ini diapresiasi oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia Cholil Nafis:"Ya baiknya begitu, minta maaf kalau salah daripada membelanya tak karuan bikin polemik saat akhir Ramadan. Mari teladani pemimpin yang baik dan meminta maaf saat teledor," 
Mudah mudahan kalimat Pak Cholil Nafis: "Mari teladani pemimpin yang baik dan meminta maaf saat teledor," didengar oleh Juru bicara Presiden, Tim Komunikasi Presiden atau Pak Jokowi sendiri....

No comments:

Post a Comment

You can use HTML tags.