Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Sunday, December 4, 2011

Kiat RSVP Bondan Winarno + Check and Recheck

"Sulitnya Mempraktekan Kiat RSVP Bondan Winarno" saya tulis di blog ini, Februari 2009. Bondan Winarno memberi resep menghadiri resepsi pernikahan dengan memplesetkan kata RSVP menjadi Rush in, Shake hand and Vanish Promptly. Kiat itu ditulis pada buku Seratus Kiat. Oktober lalu, saya mendapat undangan acara resepsi pernikahan di dua tempat pada jam yang sama. Dengan mempraktekan Kiat Rush in, Shake hand and Vanish Promptly yang dianjurkan Bondan Winarno, saya berhasil menghadiri ke dua acara tersebut.

Sekitar dua bulan ini saya banyak mendapat undangan acara walimah/resepsi pernikahan. Salah satunya bertempat di Klub Persada Halim Perdana Kusuma. Saya begitu yakin bahwa acara itu diselenggarakan hari ini, Minggu, 4 Desember '11, jam 11.00-13:00. Karena itu, jam 11:30 saya bersiap-siap menuju TKP. Sesampai di Jalan Halim Perdana Kusuma, saya agak heran, tidak tampak ada hiasan janur pintu gerbang seperti lazimnya acara pernikahan. Lebih mengherankan lagi, Satpam menghampiri saya dan bertanya ada keperluan apa? Setelah saya jawab, Satpam itu mengatakan, hari ini tidak ada acara resepsi di Klub Persada Halim Perdana Kusuma..... Setelah saya baca lagi di undangan, ternyata acaranya minggu depan, 11 Desember '11......

Sebelumnya saya pernah mengalami hal yang hampir serupa. Saya mendapat undangan dari teman kantor untuk menghadiri acara resepsi pernikahan di Gedung Aneka Tambang, pada suatu hari Minggu di tahun yang lalu. Saya juga yakin bahwa acara itu diselenggarakan hari Minggu, jam 11.00-13:00. Sewaktu tiba di Gedung Aneka Tambang, saya lihat sudah banyak sekali tamu yang datang. Sesuai kiat RSVP Bondan Winarno, setelah berhasil Rush in, saya ingin langsung Shake hand. Tetapi keinginan saya terhalang antrian panjang tamu-tamu yang juga ingin menyalami mempelai. Karena itu, saya memilih untuk mengambil makanan dulu sambil menunggu usainya antrian panjang itu. Setelah menikmati beberapa hidangan, saya bergabung dengan antrian untuk menyalami mempelai. Saya terkejut, ternyata baik mempelai maupun keluarganya tidak ada satupun yang saya kenal. Karena sudah terlanjur, saya teruskan saja menyalami mereka. Esok harinya, saya baca di undangan, acara resepsi memang di Gedung Aneka Tambang, tetapi pada hari Minggu jam 19:00-21:00, bukan jam 11.00-13:00.

Jadi ternyata Kiat RSVP Bondan Winarno perlu ditambah satu kiat lagi, yaitu Check and Recheck.

Monday, May 9, 2011

Jangan Terlihat Lebih Hebat dari Atasan Anda



Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto menulis buku berjudul "Nilai". Hari Minggu, 8 Mei 2011, Gramedia Pondok Indah, Jakarta menghadirkan Pak Prijanto, Wanda Hamidah dan Tina Talisa pada talk show mengenai buku ini.
Di antara banyak hal yang didiskusikan pada acara ini, ada satu kalimat Pak Prijanto yang saya ingat: "...jangan terlihat lebih hebat dari atasan Anda....."
Bagaimana menurut Anda?

Tina Talisa, Prijanto

Tina Talisa, Prijanto, Wanda Hamidah 

Tina Talisa, Prijanto, Wanda Hamidah 

Sunday, November 1, 2009

Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi

"Dan ibu-ibu meminta saya agar tidak menyanyi supaya suami mereka tidak berpikir yang bukan-bukan?"
"ya, kira-kira begitu Zus."
"Jadi selama ini ternyata para suami di sepanjang gang dibelakang rumah membayangkan tubuh saya tel......"

Begitulah sepotong dialog dalam Cerpen Seno Gumira Ajidarma "Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi". Dalam cerpen ini, Pak RT terpaksa melarang Sophie menyanyi di kamar mandi. Larangan itu dibuat atas desakan ibu-ibu yang resah karena suami-suami mereka selalu berimajinasi setiap mendengar Sophie menyanyi di kamar mandi.
Dengan alasan berbeda, Hugo Chavez, Presiden Venezuela mengimbau warganya untuk tidak menyanyi saat mandi. Alasannya: agar warga Venezuela mandi lebih cepat, sehingga air dan energi yang dihabiskan lebih sedikit.

"Some people sing in the shower, in the shower half an hour. No kids, three minutes is more than enough. I've counted, three minutes, and I don't stink," kata Chavez dalam rapat kabinet.

Venezuela sedang mengalami krisis air dan energi. Musim kering telah menyebabkan persediaan air untuk pembangkit listrik tenaga air jauh berkurang. Selain itu Venezuela juga sedang kekurangan investasi. Chaves sebelumnya sudah memerintahkan departemen dan istansi pemerintah memotong konsumsi listrik sampai 20 persen.

(gambar dari http://www.tempointeraktif.com/hg/oops/2009/10/26/brk,20091026-204478,id.html )

Tuesday, June 12, 2007

Berpolemik Lewat Buku

Terbitnya buku The Untrue Power of Water yang mengkritik buku The True Power of Water mengingatkan saya pada terbitnya buku Ayah Kaya Tidak Kaya oleh John T. Reed , yang mengkritik buku Rich Dad, Poor Dad oleh Robert Kiyosaki. "Selama bumi berputar, akan selalu ada tesis dan antitesis". kata seorang teman. Tesis dan antitesis mungkin ada manfaatnya guna membuka wawasan pembaca buku. Tetapi mengapa butuh waktu lama? Buku The Untrue Power of Water terbit lebih kurang setahun setelah beredarnya buku The True Power of Water -yang oleh New York Times dinilai bestseller. Demikian juga dengan Ayah Kaya Tidak Kaya yang terbit beberapa tahun setelah buku Rich Dad, Poor Dad laris terjual. Semoga waktu yang lama ini semata-mata karena kehati-hatian pengarangnya dalam menyusun antitesis. Bukan karena sengaja menunggu sampai buku yang dikritik habis terjual, sehingga toko buku dan penerbit dapat meraup keuntungan ganda dari penjualan dua macam buku-buku yang bertopik sama dengan sudut pandangan berbeda. Dengan lamanya beda waktu peneerbitan, buku yang dikritik terlanjur laris dan berhasil mempengaruhi banyak orang. Jika sudah demikian, kritik yang dikemukakan akan sulit mendapat dukungan. Dan bisal-bisa dicurigai cuma mau numpang popularitas dari buku yang dikritik.

Sunday, June 3, 2007

The Power of Water. True or Untrue?

Sudah baca buku The True Power of Water? Apakah anda termasuk orang yang terlanjur percaya pada yang dikatakan oleh Dr Masaru Emoto di buku tersebut? Sebuah buku berjudul The Untrue Power of Water saya jumpai di Gramedia Pondok Indah, kemarin malam. Seperti dugaan saya, buku terbitan Mizan ini isinya mengkritik buku The True Power of Water oleh Dr Emoto. Hasil kajian Dr Emoto saya dengar pertama kali dari siaran MQFM, Jumat pagi, 27 Januari 2006. Pagi itu, Abdullah "MQ" Gymnastiar membicarakan hasil riset Dr Emoto di Jepang, bahwa air dapat merespon kata, musik, dan emosi. Kata-kata dan emosi yang positif menghasilkan kristal air berbentuk hexagonal yang indah. Bentuk demikian tidak dapat diperoleh dengan kata-kata dan emosi yang negatif. Karena 70% tubuh kita terdiri dari air, Aa' Gym menganjurkan untuk selalu berhati-hati dan selalu memilih kata-kata dan emosi yang positif. Tertarik dengan uraian Aa' Gym, saya cari via Google dan ada sejumlah link yang memuat kajian Dr Emoto tersebut. Di antaranya adalah How water reflects our consciousness dan Miraculous Messages from Water. Buku The Untrue Power of Water ditulis oleh Yoroshii Haryadi dan Azaki Karni, dengan pengantar oleh Prof. Soewarno T. Soekarto. Penelitian Emoto - seorang Doktor bidang Humaniora - dianggap terlalu prematur dan tidak memenuhi standar penelitian ilmiah. Sewaktu menulis post ini, saya membaca di sebuah milis mengenai seseorang yang kecewa karena telah terlanjur memborong buku-buku Dr Emoto :
Saya berharap bukunya bermutu tetapi ternyata tidak ngilmiah sama sekali. Saya berharap ada data, metode penelitian, hasil, dan juga pustaka2 yg valid. ternyata hanya kebanyakan foto2 dan kalimat2 yg lebih mengarah ke bahasa dongeng daripada bahasa ilmiah. Buku2 masato memang mempunyai pesan yg bagus. tapi kan pesan bagus juga mestinya dibuat berdasarkan pekerjaan yg bagus. Tidak perlu rekayasa.
Jauh sebelumnya, September 2006, Priyadi Iman Nurcahyo sudah mengkritisi seminar Emoto di Jakarta yang melibatkan Aa Gym dan Menteri Siti Fadilah :
Bagi beberapa orang, hasil ‘penelitian’ ‘Dr.’ Emoto mungkin sangatlah mencengangkan. Tetapi menurut saya yang mencengangkan adalah bahwa tokoh-tokoh dengan reputasi sekaliber Aa Gym dan Siti Fadilah bersedia untuk membantu Emoto menyebarkan informasi yang menyesatkan. ......Bagi tokoh religi seperti Aa Gym, bahayanya juga sangat jelas: jika umat beriman karena percaya terhadap penelitian seperti ini, maka apa yang akan terjadi jika penelitian tersebut berhasil dipatahkan? Apalagi penelitian Emoto memang belum terbukti kebenarannya. Jadi, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan mulai sekarang juga: waspadalah!
Menurut Prof. Soewarno T. Soekarto:
“Sangatlah berlebihan jika harus menanggapi secara ilmiah hanya berdasarkan tulisan di buku-buku Emoto. Namun, dedikasinya dalam rangka memelihara air patut diapresiasi.”
Gambar diambil dari : http://www.worldcatlibraries.org/wcpa/top3mset/1dab1ddaf89306c1a19afeb4da09e526.html dan http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=buku_baru_full&id=6775

Saturday, May 12, 2007

Menunggu Review Lengkap Buku: Long Tail Pak Budi Rahardjo

Pak Budi Rahardjo menulis posting berjudul Review Buku: Long Tail di blognya. Dari sebuah web dan satu talk show di SmartFM, sekilas bagi saya tampaknya Long Tail dari Chris Anderson berseberangan dengan Pareto. Padahal saya terlanjur merasa nyaman dengan Pareto.
Saya sedang malas baca buku. Karena itu, saya tertarik dengan judul posting ini. Harapan saya, dengan membaca Review Pak Budi Rahardjo, saya bisa faham tanpa harus baca buku Long Tail. (Maklum, sedang kambuh malasnya). Padahal kata Pak Budi: "Ini buku yang wajib dibaca bagi para pelaku bisnis, blogger, dan Anda (apa pun pekerjaan Anda)".
Saya tidak sabar menunggu Gambar dari Pak Budi. Saya coba mencerna penjelasan Pak Budi sambil menggambar.


Berikut adalah penjelasan singkat Pak Budi :
"Idenya adalah sebagai berikut. Anda pernah lihat gambar grafik yang nilai di sumbu Y menurun secara eksponensial dengan bertambahnya nilai di sumbu X. [Nanti saya gambarkan.] Nah, biasanya orang jualan atau memberikan layanan hanya kepada yang paling banyak peminatnya, yaitu di sisi sebelah kiri (dimana nilai di sumbu Y, yang menyatakan jumlah peminat atau pembeli, nilainya tinggi). Toko musik, misalnya, hanya menjual kaset dan CD yang banyak pembelinya saja. Jarang ada toko musik yang menjual kaset / CD yang langka. (Apakah ada CD Waljinah?) Sisi sebelah kanan, yang sering disebut ekor atau tail, tidak ada yang memperdulikan. Siapa yang mau melayani mereka?
Ternyata ekor itu sangat panjang, sehingga disebut long tail. Berapa panjang? Pokoknya sangat panjang … puluhan ribu, ratusan ribu, dan jutaan. (Bagi Anda yang paham matematik, kalau diintegralkan maka luas area di sebelah kanna itu ternyata signifikan juga.) Nah, bisnis sekarang ternyata menuju ke sisi ekor itu. Ini dulunya diabaikan. Sekarang - dengan adanya komputer, internet, handphone - sisi ekor ini mulai mendapat perhatian yang lebih banyak. Blog merupakan salah satu contoh. Nati saya elaborasi lagi deh. "
Pak Budi belum sempat mereview secara lengkap, karena harus ketemu klien untuk presentasi.
Pada Gambar di atas, tampak jelas bahwa bagian ekor ( "kuning" ), luasnya (integralnya) lebih besar dari bagian "hijau". Menurut pemahaman saya, kalau kita bisa menjual semua CD yang termasuk katagori "ekor", hasilnya bisa mengalahkan hasil penjualan semua CD yang masuk katagori "banyak peminatnya" (hijau). Sepertinya, ini dengan asumsi semua CD "ekor" terjual dan harga serta biaya untuk menjualnya sama dengan CD yang masuk katagori "banyak peminatnya" (hijau). Mungkin, skenarionya adalah Teknologi Informasi memudahkan menjual dan menekan biaya menjual.
Tetapi saya masih punya pertanyaan yang belum bisa saya jawab sendiri. Bagaimana kalau CD-CD "hijau" dijual lebih mahal (karena demandnya lebih tinggi)? Bagaimana kalau Teknologi Informasi juga kita pakai untuk memudahkan dan menekan biaya menjual CD-CD yang masuk katagori "banyak peminatnya" (hijau) sehingga keuntungan bisa lebih tinggi lagi ?
Sepertinya saya harus menunggu posting Pak Budi mengenai Review Lengkap Buku: Long Tail.