Sunday, January 9, 2022

Harga Tanah di Ibu Kota Negara Baru Akan Naik, Kata Sri Mulyani

"Bapak presiden memberikan pemihakan luar biasa bagi Kalimantan dan Kalimantan Timur, persiapan membangun IKN. Saya hampir yakin Bapak/Ibu kalau punya tanah di sini harganya sebentar lagi naik semuanya.". kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam keterangannya dikutip pada Kamis (6/1/2022).

Sri Mulyani juga mengatakan: "Kami akan bangun jalan tol, jadi bapak dan ibu sekalian yang punya tanah di sini juga harus punya perencanaan yang makin matang, karena hidup di lokal ini benar-benar akan berubah dengan hadirnya IKN," ujar Sri Mulyanidalam Acara Penandatanganan Prasasti Penanda Aset SBSN di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu, 5 Januari 2022.

Saya tidak mengerti, apa perlunya Menteri Keuangan Sri Mulyani berbicara soal akan naiknya harga tanah di Ibukota Negara Baru? Saya yakin semua orang di sekitar kawasan Ibukota Negara Baru dan mungkin juga di seluruh Indonesia sudah mengetahui harga tanah di sana akan naik. Bahkan sekarangpun harga tanah di daerah itu sudah naik. Kata orang awam, tanah/lahan tidak ada pabriknya.  Seiring makin banyaknya orang yang memerlukan hunian (pertambahan penduduk), meningkatnya kegiatan ekonomi, dan berubahnya status wilayah (apalagi dari  Kabupaten menjadi bagian dari Ibu kota Negara), harga tanah akan naik. Sudah banyak contoh seperti itu. 

Memang banyak cerita orang orang yang mendadak kaya karena tanahnya dibeli untuk lahan suatu proyek.  Silakan Anda baca di sini dan juga di sini. Tetapi Anda mungkin masih ingat, pada masa orde baru ada rencana pemindahan Ibukota Negara ke Jonggol. Harga tanah di Jonggol meningkat. Kemudian banyak orang yang terlanjur spekulasi tanah di Jonggol akhirnya gigit jari, karena pemindahan Ibukota Negara ke Jonggol akhirnya dibatalkan.

Jadi menurut saya, Menteri Keuangan Sri Mulyani  tidak perlu dan tidak ada pentingnya berbicara mengenai  akan naiknya harga tanah di Ibukota Negara Baru. Beliau adalah Menteri Keuangan,  bukan  pengamat property. Bukankah lebih baik beliau berbicara sesuai wewenang dan tugas beliau sebagai Menteri Keuangan? 

(Foto dari https://en.wikipedia.org/wiki/Sri_Mulyani dan https://www.google.com/maps/search/ikn+Sepaku,+Kabupaten+Penajam+Paser+Utara/@-1.1263747,116.7314316,10z)

Thursday, December 30, 2021

Ustadz Mengkritik Ustadz

".....Kita sekarang berdakwah disambut, Rasulullah dahulu berdakwah disambit...........  Banyak di antara kita yang sebelumnya miskin,  kemudian berdakwah dan lalu menjadi kaya.  Sedangkan Rasulullah dan para sahabat sebelumnya  adalah orang orang kaya, kemudian berdakwah dan menjadi miskin....." 

Begitulah kurang lebih kalimat yang saya dengar dari Babe Haikal Hassan di sebuah acara di TVONE minggu lalu. Kalimat kritik ini memang ditujukan kepada para Ustadz dan yang mengkritik juga seorang ustadz. Sepertinya kritik seperti ini memang harus datang dari seorang ustadz. Kalau dilontarkan oleh orang yang bukan ustadz mungkin akan jadi perdebatan panjang,

 Yang bisa saya bayangkan dari kalimat kritik Babe Haikal Hassan di atas  adalah seorang ustadz seharusnya tidak menjadikan kegiatan dakwah sebagai sumber penghasilan. Lalu bagaimana seorang  ustadz menghidupi dirinya dan keluarganya dan mendanai kegiatan dakwah nya?

Apakah seseorang yang akan menjadi ustadz harus terlebih dahulu menjadi seorang yang punya penghasilan yang cukup, atau bahkan harus punya pasive income dahulu? Yang seperti ini memang gambaran seorang ustadz ideal.  Hanya saya khawtir, ustadz yang bisa seperti ini jumlah tidak banyak.

Atau, apakah seorang ustadz harus punya suatu pekerjaan tetap yang dapat diandalkan untuk membiayai keperluan hidup dirinya dan keluarganya? Tetapi kalau demikian, tentu sebagian besar waktu dan tenaga sang ustadz mau tidak mau harus dicurahkan pada pekerjaan utamanya. Kegiatan dakwah mungkin sekali hanya jadi kegiatan sampingan di luar jam kerja.

Atau, haruskah kegiatan dakwah dan kehidupan para ustadz sepenuhnya didanai pemerintah, sehingga para ustadz dapat fokus pada kegiatan dakwah tanpa harus terganggu oleh urusan kekurangan biaya hidup? Pada alternatif ini tampaknya sang ustadz akan dapat sepenuhnya melaksanakan dakwah, tetapi saya khawatir sang ustadz jadi tidak merdeka,  dan  tidak berani bersuara berbeda dengan pemerintah.

Bagaimana pendapat Anda? 

(Foto diunduh dari  https://mobile.twitter.com/Haikal_Hassan/photo)


Sunday, December 12, 2021

Hunian Para Penyayang Kucing

HATI HATI!! ADA KUCING NYEBRANG. Anda akan mendapatkan peringatan ini begitu memasuki Jalan Kemang Selatan XI, Jakarta Selatan (Foto di bawah ini). 

Sesudah Anda masuk, Anda juga akan mendapatkan peringatan serupa, HATI HATI!! JANGAN NGEBUT BANYAK KUCING MELINTAS  di beberapa tempat di Jalan ini (Foto foto di bawah).


Saya melewati Jalan Kemang Selatan XI ini sewaktu olahraga pagi pada Minggu, 12 Desember 2021. Membaca peringatan peringatan itu, saya menduga pemukiman di Jalan Kemang Selatan XI ini dihuni oleh orang orang yang suka memelihara kucing. Pagi itu saya lihat ada sekitar 4 ekor kucing. Tiga ekor kucing berada di Jalan,  sedangkan satu ekor kucing ada di halaman rumah. Di bawah ini adalah foto satu di antara kucing kucing itu. Kucing ini mengikuti saya sambil mengeong, kemudian mengitari kaki saya dan menggeser gesek badannya di kaki saya. 

Wednesday, December 1, 2021

Ini 212 Juga

Setiap tanggal 2 Desember, ingatan sebagian besar dari kita mungkin tertuju pada sebuah peristiwa gerakan massa yang terjadi di pusat kota Jakarta,  dan bahkan di dekat pusat pemerintahan republik ini pada tahun 2016 yang lalu.  

Presiden Joko Widodo berpidato di hadapan peserta aksi 212 (dari Wikipedia).


Seminggu yang lalu, di Mal Pondok Indah 2 saya melihat sebuah logo dengan tulisan besar "212" berwarna merah, seperti pada foto di bawah ini. Logo 212 itu membuat saya teringat pada aksi massa yang terjadi pada tanggal 2 Desember 2016 tersebut, karena waktu itu sudah hampir masuk bulan Desember. Saya juga mendengar berita bahwa pihak kepolisian kemungkinan tidak akan memberikan ijin acara peringatan atau reuni peserta (alumni 212). Lalu mengapa logo 212 ini bisa muncul di Mal Pondok Indah, satu di antara pusat perbelanjaan terkemuka di Jakarta.?

Boot 212 di Mal Pondok Indah 2


Ternyata 212 di sini adalah merek wewangian/parfum. Namun produk wewangian ini bukan di jual oleh 212 Mart yang didirikan oleh Koperasi Syariah 212,  juga tidak ada hubungannya dengan gerakan massa tanggal 2 Desember 2016. 

Gerai 212 Mart 


Berikut adalah beberapa iklan wewangian 212






Thursday, November 25, 2021

Sandal Hilang di Mesjid

Sandal hilang di mesjid sudah terlanjur jadi hal biasa. Padahal ada barang hilang di rumah ibadah seharusnya adalah sesuatu yang memalukan. Lebih memalukan lagi kalau mengingat bahwa ancaman terhadap tindakan pencurian dalam hukum Islam sangatlah keras.
Itulah yang terjadi pada sandal saya pada 5 November 2021, di Mesjid At Taqwa, Duren Tiga,  Jakarta Selatan. Selesai salat, saya tidak dapat menemukan sandal saya lagi. Padahal sandal saya itu bukan sandal mahal, juga bukan sandal baru. Sudah sekitar satu tahun saya pakai. Di sekitar tempat itu banyak sandal lain yang lebih bagus, tampak lebih baru, dan mungkin lebih mahal dari pada sandal saya. Saya tidak mengerti  mengapa sandal saya yang dipilih pencuri itu?



Sewaktu saya menyusuri sekeliling teras mesjid, ada beberapa orang yang bertanya.  Satu di antaranya adalah seorang laki laki yang tadi menjadi Imam salat. Sesudah saya jawab bahwa saya kehilangan sandal, laki laki yang tadi menjadi Imam itu masuk ke ruang pengurus mesjid, kemudian keluar membawa dua pasang sandal jepit baru dan masih terbungkus plastik.
"Ini saya ganti." katanya.  "Tinggal dua, silakan pilih yang cocok ukurannya ". 
Saya sungguh tidak menyangka, pengurus mesjid At Taqwa Duren Tiga begitu perhatian kepada jemaah nya. Belum pernah saya menjumpai hal ini di mesjid lain.  Sebelumnya saya khawatir, saya harus berjalan tanpa alas kaki.  Sedangkan  matahari sedang bersinar terik. Aspal jalan di depan mesjid pasti sedang panas panas nya. 
Saya mengucapkan terima kasih kepada Imam dan pengurus mesjid At Taqwa Duren Tiga. Sepertinya pengurus mesjid sudah mempersiapkan persediaan sandal untuk mengantisipasi kejadian jemaah kehilangan sandal.  Sungguh sangat patut diapresiasi. 



Sunday, November 21, 2021

Kembali Terjerumus Pada Godaan Mie Instant

Saya berusaha menghindari makan Mie Instant.  Bukan karena tidak suka dengan konglomerat pemilik pabrik Mie Instant, bukan juga karena alergi Mie Instant, dan juga bukan karena saya sedang menggalang gerakan anti terhadap segala sesuatu yang nstant. Saya merasa sudah terlalu sering makan Mie Instant di masa lalu. Jadi saya harus mengimbangi dengan makan sayuran dan makanan yang lebih alami, dan bukan buatan pabrik.

Selama ini hal itu tidak terlalu sulit untuk dilakukan.  Tetapi memasuki musim hujan, godaan untuk mengkonsumsi Mie Instant jadi makin kuat.  Hembusan angin dingin di luar,  guyuran air hujan,  dan genangan air di jalan, serta rasa gurih bumbu mie instan dan cepat dan mudah nya penyajian mie instan seolah berkolaborasi dengan kemalasan saya.  

Akhirnya, selama musim hujan ini saya kembali terjerumus pada godaan Mie Instant yang terkutuk. 🙂😀

Thursday, October 21, 2021

Untuk Apa Check in Peduli Lindungi di Halte Busway Pondok Indah 2?

Mulai awal minggu ini, setiap penumpang  Transjakarta diwajibkan mememindai kode Peduli Lindungi sebelum masuk halte busway. Tidak ada yang keliru dengan penerapan aturan ini. Namun sepertinya Transjakarta tidak atau belum memikirkan kondisi spesifik setiap halte busway dalam menerapkan kewajiban menggunakan aplikasi Peduli Lindungi. Tidak semua halte busway perlu menerapkan aturan ini.

Satu diantara halte busway yang seharusnya tidak perlu menerapkan kewajiban menggunakan aplikasi Peduli Lindungi adalah halte busway Pondok Indah 2. Mengapa demikian? Bagi Anda yang pernah datang di halte busway Pondok Indah 2 tentu mengetahui bahwa halte busway ini terhubung dengan Mal Pondok Indah. Satu satunya jalur masuk dan keluar halte ini adalah melalui Mal Pondok Indah.  Tidak ada jalan lain.  Perkenankan saya meminjam kalimat dari blog Anandastoon: "haltenya terintegrasi langsung dengan pusat perbelanjaan Pondok Indah Mall namun dengan ramp yang sangat panjang, serta calon penumpang 'dipaksa' masuk dari mallnya untuk hinggap di halte yang cukup ramai ini."

Anda juga tentu mengetahui bahwa, Mal Pondok Indah dan semua Mal/Plasa di Jakarta sudah lebih dahulu mewajibkan setiap pengunjung untuk mememindai kode Peduli Lindungi sebelum masuk mal. Jadi, setiap calon penumpang Transjakarta yang masuk ke halte busway dari  Mal Pondok Indah dapat dipastikan sudah melalui proses check in aplikasi Peduli Lindungi di Mal Pondok Indah.

 Untuk apa dilakukan proses check in lagi di halte busway? Bukankah ini hanya  menambah pekerjaan yang tidak perlu untuk petugas Transjakarta, dan membuang kuota internet dengan sia sia? Belum lagi kalau kita perhatikan fakta bahwa proses check in aplikasi Peduli Lindungi tidak selalu lancar. Baik yang disebabkan masalah teknis (jaringan internet, masalah di ponsel,  dll.), ataupun non teknis (belum semua orang fasih memakai aplikasi smartphone). Ini tentu dapat memperlambat keluar/masuk penumpang. Seharusnya ini jadi pertimbangan pengelola Transjakarta.