Memang basi banget! Ramadhan sudah selesai, koq bikin judul Semalam Yang Lebih Baik Dari Seribu Bulan!? Harap maklum, ide tulisan ini dapatnya baru sesudah lebaran kemarin.
Usai Idul Fitri, MetroTV menyiarkan dialog dengan nara sumber Dr. Muhammad Syafii Antonio, MSc dan seorang ulama yang saya lupa namanya (mohon maaf). Salah satu dialog mereka menyinggung pemahaman sebagian umat Muslim tentang Lailatul Qadar. Dicontohkan tentang kebiasaan begadang mengharapkan ketemu sang Lailatul Qadar. Lengkap dengan mbawa rantang dan teko. Bahkan diceritakan tentang orang-orang yang setiap malam di akhir Ramadhan berjalan menyusuri sungai berharap akan melihat cahaya terang yang ajaib tiba-tiba turun dari langit.
Menurut Syafii Antonio dan ulama tersebut, mencari Lailatul Qadar seharusnyan dilakukan dengan giat membaca Al Quran di malam-malam Ramadhan. Jika dari membaca dan mempelajari Al Quran, sesorang memperoleh inspirasi dan pencerahan yang mengubah hidupnya, maka dia telah mendapat semalam yang lebih baik dari seribu bulan. Pendapat kedua ulama ini buat saya sungguh menarik. Saya suka dengan pendapat ini, meskipun saya tidak kompeten untuk mengatakan pendapat inilah yang seharusnya diikuti. Semoga ada ulama yang mau berkomentar soal ini.
Sunday, October 21, 2007
Saturday, October 6, 2007
Dari "Manusia Gerobak" ke "Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta"
Sabtu 6 Oktober 2007, tanpa sengaja saya membaca Gerobak di blog Seno Gumira Ajid
arma (yang konon dibuat oleh fans-nya Seno). Setiap ingat Seno Gumira Ajidarma, saya selalu ingat "Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta". Sepuluh tahun lalu, kumpulan cerpen Seno ini saya baca berulang-ulang. Entah sampai berapa kali. Itu bukan karena saya penggemar berat cerpen-cerpen Seno. Waktu itu saya sedang cengeng karena ditimpa "kemalangan" yang mirip dengan tokoh cerita dalam cerpen itu. :-(
Setelah membaca Gerobak tulisan Seno, pertanyaan- pertanyaan saya tentang Manusia Gerobak terjawab sudah:
" ... mereka datang dari negeri kemiskinan. ..... mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. ....... orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya harus tahu, bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa, sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka.... Tulis Seno
Saya kira banyak yang tidak suka dengan "pameran kemiskinan" ini. Begitu juga saya. Saya jadi ingat khatib salat Jumat kemarin. Menurutnya, di hari kemudian, banyak orang yang menyesal karena tidak melaksanakan kewajiban zakat, infaq dan sedekah. Bahkan, yang sudah melaksanakan juga banyak yang menyesal karena tidak memberi lebih banyak. (sayang khatib tidak menjelaskan apakah ada yang menyesal karena belum berhasil mengelola zakat, infaq dan sedekah untuk membuat orang berhenti miskin.). Ternyata kita tidak harus menunggu hari kemudian untuk menyesal menyaksikan "pameran kemiskinan Manusia Gerobak".
arma (yang konon dibuat oleh fans-nya Seno). Setiap ingat Seno Gumira Ajidarma, saya selalu ingat "Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta". Sepuluh tahun lalu, kumpulan cerpen Seno ini saya baca berulang-ulang. Entah sampai berapa kali. Itu bukan karena saya penggemar berat cerpen-cerpen Seno. Waktu itu saya sedang cengeng karena ditimpa "kemalangan" yang mirip dengan tokoh cerita dalam cerpen itu. :-(Setelah membaca Gerobak tulisan Seno, pertanyaan- pertanyaan saya tentang Manusia Gerobak terjawab sudah:
" ... mereka datang dari negeri kemiskinan. ..... mereka memang tidak perlu mengemis untuk mendapat sedekah. ....... orang-orang yang dianggap berkelebihan diandaikan dengan sendirinya harus tahu, bahwa manusia-manusia dalam gerobak itu perlu mendapat sedekah. Demikian pula manusia-manusia dalam gerobak itu tampaknya merasa, sudah semestinyalah mereka mendapat limpahan pemberian sebanyak-banyaknya tanpa harus mengemis lagi. Mereka cukup hanya harus hadir di kota kami dan mereka akan mendapatkan sedekah yang tampaknya mereka anggap sebagai hak mereka.... Tulis Seno
Saya kira banyak yang tidak suka dengan "pameran kemiskinan" ini. Begitu juga saya. Saya jadi ingat khatib salat Jumat kemarin. Menurutnya, di hari kemudian, banyak orang yang menyesal karena tidak melaksanakan kewajiban zakat, infaq dan sedekah. Bahkan, yang sudah melaksanakan juga banyak yang menyesal karena tidak memberi lebih banyak. (sayang khatib tidak menjelaskan apakah ada yang menyesal karena belum berhasil mengelola zakat, infaq dan sedekah untuk membuat orang berhenti miskin.). Ternyata kita tidak harus menunggu hari kemudian untuk menyesal menyaksikan "pameran kemiskinan Manusia Gerobak".
Friday, October 5, 2007
Manusia Gerobak
Lebaran tinggal seminggu lagi. Melewati halte Busway Imigrasi Jakarta Selatan, malam itu (05 Oktober 2007) saya melihat beberapa gerobak di tepi jalan. Mirip gerobak pencari barang bekas yang biasa saya lihat. Yang berbeda, di samping masing-masing gerobak itu ada anak kecil, seorang perempuan, dan seorang laki-laki. Sepertinya satu keluarga.
Di dekat salah satu gerobak, si ibu duduk di samping anaknya (masih bayi) yang tidur beralaskan beberapa lapis kain di atas trotoar. Sementara si ayah tidur di dalam gerobak. Di gerobak lain si ayah, ibu dan anaknya sedang duduk berbincang. Gerobaknya penuh kardus, bekas botol air mineral dan barang bekas lain. Saya lihat gerobak-gerobak yang lain tidak jauh berbeda. Selalu ada anak kecil atau bayi. Bahkan ada yang membawa perempuan hamil.
Pemandangan ini pernah saya lihat menjelang lebaran tahun lalu. Sepertinya mereka bukan sedang meminta-minta, karena mereka tidak menadahkan tangan. Bahkan seolah tidak peduli kepada orang-orang yang lewat. Lalu, apa tujuan mereka? Apakah setiap menjelang lebaran para pencari barang bekas punya kebiasaan membawa serta keluarganya untuk menginap di tepi jalan?
Monday, October 1, 2007
Win the Argumen and Loose the Ramadhan
Hari itu 30 September 2007. Kopaja S614 sudah hampir melewati rumah adik sepupu saya di Jalan Antasari Jaksel, tetapi kondektur belum juga mengembalikan uang kembalian saya sebesar delapan ribu rupiah.
Saya berjalan ke pintu belakang, hendak meminta uang kembalian, sekaligus turun dari Kopaja. Sebelum saya bicara, kondektur sudah mengetuk-ngetuk pintu, memberi isyarat agar Kopaja berhenti.
"Kembaliannya." kata saya. Kondektur tampak kaget, lalu menyerahkan tiga lembar uang ribuan.
"Sepuluh ribu!" kata saya mengingatkan, bahwa tadi saya membayar dengan uang sepuluh ribu, bukan lima ribu rupiah. Kondektur menambahkan lima ribuan. Sementara Kopaja yang sempat berhenti, sekarang kembali melaju.
"Berhenti, dong!" kata saya.
Saya dengar kondektur menggerutu: "Nggak dari tadi!!??"
"Situ yang nggak mau ngasih kembalian dari tadi!!!" jawab saya dengan nada tinggi.
Dengan bersungut, kondektur memberi isyarat supaya Kopaja berhenti.
Saya turun dari Kopaja juga dengan bersungut. Ada rasa dongkol, ada juga rasa bangga karena bisa memenang
kan debat atau pertengkaran kecil dengan kondektur.
Ooopss....! Menang debat sama kondektur, koq bangga!? Padahal saya sedang berpuasa.... Janji Tuhan memberi nilai berlipat ganda bagi kebajikan di bulan Ramadhan gagal saya manfaatkan sebagai leverage. Padahal baru kemarin saya menyimak Rene S. Canoneo membicarakan pentingnya leverage. Ternyata saya cuma baru bisa menyimak dan menghafal, bukan melakukan dan mengambil manfaat.
....saya memang mendapatkan uang kembalian delapan ribu rupiah yang menjadi hak saya. Saya juga berhasil memenangkan perdebatan. Tapi ternyata saya hanya "win the argument but loose the Ramadhan...." :-(
Gambar diambil dari http://th165.photobucket.com/albums/u72/mlswarriors/th_leverage.jpg
kan debat atau pertengkaran kecil dengan kondektur.
Ooopss....! Menang debat sama kondektur, koq bangga!? Padahal saya sedang berpuasa.... Janji Tuhan memberi nilai berlipat ganda bagi kebajikan di bulan Ramadhan gagal saya manfaatkan sebagai leverage. Padahal baru kemarin saya menyimak Rene S. Canoneo membicarakan pentingnya leverage. Ternyata saya cuma baru bisa menyimak dan menghafal, bukan melakukan dan mengambil manfaat.
....saya memang mendapatkan uang kembalian delapan ribu rupiah yang menjadi hak saya. Saya juga berhasil memenangkan perdebatan. Tapi ternyata saya hanya "win the argument but loose the Ramadhan...." :-(
Gambar diambil dari http://th165.photobucket.com/albums/u72/mlswarriors/th_leverage.jpg
Subscribe to:
Posts (Atom)