Friday, May 13, 2016

Dibonceng Mbak Ida Royani

Saya merasa canggung duduk di sadel belakang sepeda motor yang dikendarai Mbak Ida Royani. Saya tidak tahu, apakah Mbak Ida Royani merasakan kecanggungan saya yang duduk di belakang punggungnya selama perjalanan dari Metro Pondok Indah ke Mampang Prapatan, Jumat malam, 6 Mei 2016 yang lalu. Hanya pada waktu masih kanak kanak saya duduk di sadel belakang sepeda motor yang dikendarai perempuan, baik itu tante atau kakak kakak perempuan saya. Setelah remaja dan dewasa, saya tidak pernah lagi duduk di sadel belakang sepeda motor yang dikendarai perempuan. Setelah remaja dan dewasa, sayalah yang mengemudi, dan perempuan perempuan itu yang duduk di belakang punggung saya.
Pada waktu masih kanak kanak, sewaktu duduk di sadel belakang sepeda motor, saya harus memegang atau memeluk erat erat pinggang tante atau kakak kakak perempuan saya yang mengemudi sepeda motor. Mereka akan menegur saya kalau pegangan atau pelukan saya kurang erat. "Pegangan yang kuat. Nanti jatuh!" Seperti itulah kurang lebih yang mereka katakan. Sekarang saya bukan lagi anak anak, dan Mbak Ida Royani bukan tante ataupun kakak perempuan saya. Meskipun duduk tepat di belakang punggungnya, saya tidak mungkin memegang atau memeluk pinggang Mbak Ida Royani. Duduk dibelakang punggungnya saja saya sudah canggung.
Sebelum terlalu jauh, saya jelaskan dahulu bahwa Mbak Ida Royani yang saya ceritakan di posting ini bukan Ida Royani penyanyi dan pemain film pada era 70 an yang sering tampil dalam film bersama Benyamin Sueb. Namanya pun baru saya ketahui beberapa waktu yang lalu pada aplikasi pemesanan ojek online.
Waktu itu, Jumat malam, 6 Mei 2016, sekitar jam 10 malam, di sekitar Jalan Metro Pondok Indah, Jakarta Selatan, saya memesan ojek online Grab Bike. Beberapa saat kemudian, di layar ponsel saya muncul notifikasi "We 've found you a driver". Di bawah notifikasi, ada foto dan nama pengemudi Grab Bike yang mengambil order saya. Tidak biasanya, ternyata kali ini nama pengemudi Grab Bike yang akan mengantar saya adalah nama perempuan: Ida Royani.
Semula saya masih belum yakin, pengemudi yang mengambil order saya adalah seorang perempuan. Saya memang pernah mendengar ada beberapa pengemudi ojek perempuan. Saya juga pernah 3 kali naik taksi yang dikemudikan pengemudi perempuan. (Satu di antara pengemudi taksi perempuan itu mengatakan, sebelumnya dia adalah pengemudi Bus TransJakarta). Meskipun demikian, saya mengira, pengemudi-pengemudi ojek perempuan dan pengemudi-pengemudi taksi perempuan tidak bekerja sampai larut malam. Saya masih menganggap, jalanan Jabodetabek di malam hari tidak cukup ramah kepada perempuan.
Sesaat kemudian, ponsel saya berdering. Saya mendengar suara perempuan menanyakan lokasi tempat saya ingin dijemput. Setelah itu, saya baru yakin, pengemudi Grab Bike yang akan mengantar saya memang seorang perempuan. Tidak lama kemudian, perempuan pengemudi Grab Bike itu datang. Saya tidak dapat melihat wajah Mbak Ida Royani, pengemudi Grab Bike ini, karena dia memakai penutup wajah.
Saya sampai di tempat tinggal saya sekitar jam 22:30. Setelah membayar, saya berpesan kepada Mbak Ida Royani: "Hati-hati ya Mbak." Dia menjawab dengan mengingatkan saya untuk memberikan bintang di laman review aplikasi Grab Bike.
Setelah itu Mbak Ida Royani kembali memacu sepeda motornya menembus malam Jakarta. Mungkin bagi Mbak Ida Royani, pesan agar berhati hati sudah terlalu biasa dan tidak beda dengan basa basi. Tampaknya pesan semacam itu tidak lebih penting dari jumlah bintang yang diberikan customer pada laman review aplikasi Grab Bike.
Meskipun demikian, saya tetap menganggap, seharusnya pengemudi-pengemudi taksi perempuan dan pengemudi-pengemudi ojek perempuan seperti Mbak Ida Royani tidak bekerja sampai larut malam. Bagi saya, jalanan Jabodetabek di malam hari tidak cukup ramah kepada perempuan, termasuk kepada Mbak Ida Royani.

Belakangan saya berpikir mengapa Mbak Ida Royani selalu menutup wajahnya. Sejak menjemput saya di Metro Pondok Indah sampai mengantar saya ke Mampang Prapatan, saya tidak pernah melihat wajahnya. Sepertinya, menutup wajah adalah semacam pertahanan bagi Mbak Ida Royani terhadap ketidakramahan jalanan Jabodetabek di malam hari kepada perempuan.

Friday, May 6, 2016

Terlezat ke 2 Se Timur Tengah... Anda tidak ketagihan jangan anda bayar !

Hari itu Rabu sore, 4 Mei 2016 lalu lintas Jakarta lebih padat dari pada biasanya. Mungkin karena besok Kamis dan Jumat adalah hari libur. Saya ditraktir seorang teman di restoran di sekitar Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan. Di papan nama restoran ini ada tulisan "Terlezat ke 2 Se Timur Tengah... Anda tidak ketagihan jangan anda bayar !, ... Low Cholesterol ...".


Saya tertarik dengan nama menu "Soto Cairo" di daftar menu, jadi saya pilih menu itu. Sedangkan teman saya memilih menu Nasi Goreng Kambing. Untuk minuman, saya memilih Wedang Jahe. Setelah beberapa saat, pesanan kami diantar ke meja. Wedang Jahenya OK , tetapi tidak demikian dengan makanan nya.
Ternyata Soto Cairo ini pakai kuah santan. Saya jadi heran, bukankah katanya "Low Cholesterol"?. Terus, daging sotonya ternyata daging yang digoreng sampai kering seperti empal. Ini di luar perkiraan saya. Dalam bayangan saya, daging dalam dalam soto adalah daging rebus, bukan daging yang digoreng, apalagi digoreng sampai kering.
Bagaimana dengan rasanya? Terpaksa saya katakan, rasa Soto Cairo ini masih jauh dari lezat. Jadi masakan yang dinamakan Soto Cairo ini beda banget dari yang saya bayangkan dan saya harapkan sebelumnya. Hampir saja saya protes. Tetapi ... apa yang bisa saya protes? Tidak ada satupun claim restoran ini yang bisa saya salahkan.
Soal kuah santan? Bisa saja pihak restoran menjawab, "ini santan yang Low Cholesterol"... high ataupun low adalah relatif. Soal daging goreng kering seperti empal? Pihak restoran tinggal bilang , "daging digoreng memakai minyak goreng rendah cholesterol ". Atau bilang saja, "Daging Soto di Cairo memang begitu ". Saya tidak mungkin bisa membantah, karena belum pernah ke Cairo. Soal rasa? Rasa adalah relatif dan subjektif. Restoran ini mengaku "Terlezat ke 2" (bukan ke 1) , itupun "Se Timur Tengah" (bukan se Indonesia, ataupun se Kebayoran Baru). Saya tidak mungkin bisa membantah, karena belum pernah ke Timur Tengah.
Jadi saya harus menerima bahwa semua claim restoran ini tidak ada yang salah, Terus, soal "tidak ketagihan jangan bayar" ? Lha iyalah, saya memang tidak bayar, 'khan saya ditraktir :-)

Wednesday, May 4, 2016

Semarang - Bandung dengan ATR

Pesawat terbang dengan mesin berbaling baling (propeller) sudah lama sekali tidak saya jumpai, meskipun saya termasuk agak sering bepergian dengan pesawat terbang. Baru pada Sabtu , 16 April 2016 saya kembali menggunakan pesawat terbang dengan mesin berbaling baling dalam perjalanan dari Semarang ke Bandung.

Pada waktu membeli tiket penerbangan KalStar rute Semarang - Bandung, saya mengira pesawatnya bermesin jet semacam AirBus atau Boing yang biasa dipakai penerbangan sipil/komersial lain. Baru ketika akan berangkat, menjelang masuk pesawat, saya mengetahui bahwa pesawat yang akan membawa saya dari Semarang ke Bandung adalah pesawat terbang dengan mesin berbaling baling, tipe ATR. Selain itu, sebelumnya saya juga mengira, KalStar hanya melayani penerbangan di pulau Kalimantan. Saya baru tahu, KalStar juga melayani rute penerbangan di luar Kalimantan.

Karena penerbangan sipil/komersial yang biasanya saya gunakan hampir semua memakai pesawat bermesin jet, saya terlanjur beranggapan bahwa pesawat terbang dengan mesin berbaling baling adalah pesawat kuno atau pesawat tua. Kemudian, karena badan pesawat ini lebih kecil dari pesawat semacam AirBus atau Boing yang biasa dipakai penerbangan sipil/komersial, saya teringat cerita teman, bahwa pesawat kecil mudah terombang ambing oleh angin.

Hal hal itu membuat saya sempat ragu, apakah pesawat dengan mesin berbaling baling cukup aman untuk penerbangan Semarang - Bandung. Tetapi kemudian saya tidak lagi khawatir setelah teringat sebuah tulisan yang pernah saya baca , bahwa apabila mesin mati , pesawat dengan mesin berbaling baling lebih mampu melayang dari pada pesawat bermesin jet. Dan untunglah cuaca sepanjang penerbangan Semarang - Bandung sangat baik. Saya tidak merasakan guncangan yang berarti.

Ternyata bukan hanya jenis mesinnya yang berbeda. Ada beberapa perbedaan yang saya temui pada pesawat ATR dari KalStar ini dibandingkan dengan pesawat semacam AirBus atau Boing yang biasa dipakai penerbangan sipil/komersial.

1) Penumpang naik dan turun pesawat melalui pintu belakang. Pintu depan hanya untuk keluar masuk barang.

2) Sayap terletak di bagian atas, bukan di bagian bawah badan pesawat. Bagi saya yang suka melihat pemandangan melalui jendela pesawat, posisi sayap ini membuat saya leluasa menikmati pemandangan ini tanpa terhalang sayap.

Ini adalah beberapa foto yang saya ambil dalam penerbangan Semarang - Bandung.



<br />