Saturday, May 26, 2012

Akses Email Yahoo IMAP4

Anda punya account email gratis Yahoo? Saya juga memakai account email gratis Yahoo yang saya buat jauh sebelum Google menyediakan Gmail. Waktu itu Google hanya dikenal sebagai search engine. Sekarang saya juga punya account Gmail.Tetapi saya masih enggan meninggalkan Yahoo, karena alamat email Yahoo saya sudah terlanjur menyebar ke banyak teman. Saya makin betah memakai Yahoo setelah email gratis Yahoo dapat saya akses memakai email client (Thunderbird, Outlook, dll.).

Namun sayang sekali Yahoo tampaknya setengah hati dalam memberikan layanan email gratis. Semula hanya layanan email Yahoo Plus (berbayar) dan yang bukan yahoo.com yang dapat diakses memakai email client. Itupun hanya dengan protocol POP3. Ini sangat berbeda dengan Google yang menyediakan email gratis Gmail yang sejak awal dapat diakses memakai email client dengan pilihan protocol POP3 dan IMAP4. Bahkan anda dapat mengakses Gmail memakai Mail for Exchange (dari mobile device / smart phone) yang biasanya hanya untuk akses dari server Microsoft Exchange.

Sekarang email gratis Yahoo memang dapat diakses memakai protocol POP3 dan IMAP4. Kalau email Yahoo Anda adalah yahoo.com anda perlu berupaya sedikit dengan "memindahkannya" ke server Yahoo Asia. karena email Yahoo.com yang servernya di Amerika Serikat hanya dapat diakses dari web browser atau dengan email client Zimbra. Anda tidak perlu khawtir, "pemindahan" ini tidak mengubah alamat email Anda menjadi Yahoo.co.id ataupun yahoo.com.sg, dan email-email di server Yahoo Anda tidak akan berkurang. Tetapi sedikit sekali publikasi resmi Yahoo mengenai hal ini. Blog yang membahas protocol IMAP4 dan juga POP3 untuk email gratis Yahoo juga sedikit sekali. Apakah Anda dan para pengguna email gratis Yahoo sudahSetting Yahoo IMAP puas dengan mengakses email Yahoo hanya dari web browser?

Untuk protocol IMAP4, sepertinya Yahoo masih dalam proses uji coba. Hal ini terasa karena akses Yahoo memakai protocol IMAP4 beberapa kali tidak bisa dilakukan. Semula saya mengira hal ini karena server Yahoo sedang tidak aktif. Tetapi belum lama ini secara tidak sengaja saya dapatkan bahwa masalah ini antara lain juga karena setelan port IMAP4 Yahoo sering berubah. Semula setelan port IMAP4 Yahoo yang saya pakai adalah SSL dengan port 993. Seminggu lalu email Yahoo tidak bisa saya akses. Kemudian saya coba ubah setelan port IMAP4 Yahoo menjadi Start TLS dengan port 143, dan email Yahoo bisa diakses kembali. Sekitar 3 hari lalu email Yahoo kembali tidak bisa saya akses. Kemudian saya coba ubah setelan port IMAP4 Yahoo kembali menjadi SSL dengan port 993, dan email Yahoo bisa diakses kembali.

Jadi, kalau Anda termasuk di antara sedikit pengguna email gratis Yahoo yang memakai protocol IMAP4, sewaktu mengalami masalah ini, cobalah mengganti-ganti setelan port IMAP4 Yahoo antara SSL dengan port 993 dan Start TLS dengan port 143. Sedangkan Anda yang masih mengakses email Yahoo dari web browser, silakan mencoba akses memakai email client, dan ceritakan pengalaman Anda di sini.



Thursday, May 10, 2012

Pembatasan BBM Bersubsidi : More Stick Than Carrot

Adalah fakta bahwa BBM non subsidi lebih mahal dari BBM bersubsidi. Adalah fakta bahwa hampir semua mobil di sini didisain untuk memakai BBM, bukan BBG. Adalah fakta bahwa BBG lebih sulit diperoleh dari BBM (sayang saya tidak punya foto antrian panjang taksi-taksi yang akan mengisi BBG untuk saya pajang di posting ini). Adalah fakta bahwa pernah terjadi sejumlah kecelakaan akibat masalah pada instalasi gas di mobil-mobil yang telah dikonversi untuk memakai BBG.

Menyusul ditolaknya opsi kenaikan harga BBM, pemerintah gencar berusaha agar konsumsi BBM bersubsidi berkurang, dan mesyarakat beralih ke BBM non subsidi serta beralih dari BBM ke BBG. Untuk mencapai tujuan ini, jika diamati dari berbagai pernyataan pemerintah (termasuk Lima Aturan Hemat BBM dan Listrik yang akan diumumkan Presiden SBY 23 Mei '12), tampak pemerintah lebih banyak memakai stick dari pada memakai carrot. Kita dihimbau dan mungkin akan "dipaksa" mengurangi pemakaian BBM bersubsidi, tetapi hampir tak ada upaya pemerintah agar kita tertarik memakai BBM non subsidi atau beralih ke BBG. Hampir tak ada upaya pemerintah untuk edukasi tentang manfaat atau keunggulan BBG dibanding BBM. Hampir tak ada upaya Pertamina atau pemerintah untuk edukasi dan tentang manfaat atau keunggulan BBM non subsidi dibanding BBM bersubsidi (jika memang ada).

Adalah fakta bahwa BBM non subsidi lebih mahal dari BBM bersubsidi. Namun tidak sedikit produk berharga mahal yang tenyata lebih laku dari yang harganya lebih murah. Tentu produk mahal tersebut jadi laku berkat strategi dan taktik marketing. Lalu, mengapa Pertamina tidak memakai pendekatan marketing untuk membuat Pertamax lebih laku dari Premium? Mengapa pemerintah atau Pertamina tidak memakai pendekatan marketing untuk membuat BBG lebih menarik dari pada BBM?

Saya bukan ahli marketing, jadi saya tidak kompeten untuk memberi saran. Saya hanya pernah mendengar bahwa ada SPBU milik perusahaan asing yang berpromosi dengan memberi minuman/soft drink kepada pelanggannya dan ada juga yang mengadakan undian berhadiah. Saya yakin Ibu Karen Agus Setiawan dan orang-orang Pertamina dan pemerintah lebih jago soal marketing dari pada saya. Ayo tunjukkan kemampuanmu. Jangan hanya berlindung pada regulasi. Jangan hanya pasang spanduk " Premium adalah BBM bersubsidi untuk golongan tidak mampu. Terima kasih telah menggunakan BBM non subsidi."

Berikut adalah Lima Aturan Hemat BBM dan Listrik yang akan diumumkan Presiden SBY 23 Mei '12:

  1. Semua mobil pemerintah pusat, BUMN, BUMD dan kepala daerah secara bertahap dilarang gunakan BBM bersubsidi.
  2. Perceparan konversi dari BBM ke BBG harus dilaksanakan. Sisi teknologi terus disempurnakan dan keberadaan SPBG-nya juga ditambah.
  3. Menegaskan larangan kepada perusahaan pertambangan dan perkebunan menggunakan BBM bersubsidi. Pertamina akan buka stasiun pengisian khusus solar non subsidi dan pelaksanaannya diawasi jajaran pemerintah daerah.
  4. Tidak ada lagi pembangkit listrik baru milik PLN yang menggunakan BBM. Pilihan sumber tenaga yang didorong besar-besaran adalah matahari di samping batu bara, gas alam, panas bumi, air, dan biogas.
  5. Gedung milik pemerintah wajib mematikan AC setiap pukul 17.00 WIB. Sementara fasilitas lampu penerangan selambatnya harus dipadamkan pukul 19.00 WIB.

Sunday, May 6, 2012

Kado May Day Nan Murah Meriah

Pada peringatan May Day (Hari Buruh Internasional) tanggal 1 Mei 2012 yang lalu, Presiden SBY menghadiahkan kado istimewa kepada para pekerja Indonesia. Salah satu kado tersebut adalah kebijakan Pemerintah untuk peningkatan batas penghasilan tidak kena pajak dari Rp 1,3 juta per bulan menjadi Rp 2 juta per bulan. Konon buruh menilai kebijakan itu sebagai suap untuk membungkam tuntutan penghapusan sistem kerja outsourcing dan upah layak nasional. Terlepas apakah Anda menganggap kebijakan itu untuk membungkam tuntutan penghapusan sistem kerja outsourcing dan upah layak nasional, saya pikir, batas penghasilan tidak kena pajak masih perlu dinaikkan menjadi lebih dari Rp 2 juta per bulan.
Menurut saya Pemerintah seharusnya melakukan intensifikasi, bukan ekstensifikasi wajib pajak. Ini dengan asumsi bahwa sebaran (distribusi) tingkat penghasilan masyarakat kita sesuai dengan asas Pareto. Dengan memanfaatkan sebaran yang mengikuti asas Pareto, pendapatan negara dari pajak bisa diperoleh dengan lebih efektif dan efisien jika berfokus pada kelompok wajib pajak yang berpenghasilan tinggi. Andai sebaran tingkat penghasilan masyarakat kita sesuai dengan asas Pareto, kata seorang rekan saya: "Dari dua ratus juta sekian penduduk Indonesia ini, yang betul-betul kaya dan pantas dikejar pajaknya cuma sekitar 40 juta orang (20% dari 200 juta). Yang 160 juta orang pajaknya tidak seberapa. Ongkos buat ngurusin SPT pajak yang 160 juta orang itu, bisa-bisa lebih mahal dari pajaknya"
GRAFIK SEBARAN PARETO
Membebaskan masyarakat berpenghasilan Rp 2 juta per bulan dari kewajiban membayar pajak, serupa dengan memotong sedikit "ujung ekor" Grafik sebaran Pareto. Karena itu, seharusnya kebijakan ini hanya sedikit sekali mempengaruhi pendapatan negara dari pajak. Bahkan kebijakan ini sebenarnya menguntungkan Pemerintah, karena akan berkurangnya beban untuk mengadministrasikan pajak-pajak dari masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 2 juta per bulan. Jadi, kebijakan Pemerintah untuk meningkatkan batas penghasilan tidak kena pajak dari Rp 1,3 juta per bulan menjadi Rp 2 juta per bulan adalah kado May Day yang murah meriah.
Selain murah meriah, kebijakan ini juga akan meningkatkan prestasi pemerintah. Di Tabloid Kontan di tulis:
Dengan menaikkan PTKP, pemerintah berharap, konsumsi dalam negeri bisa meningkat sepanjang tahun. Maklum, di tengah krisis perekonomian dunia seperti sekarang, konsumsi dalam negeri menjadi andalan utama untuk memutar roda perekonomian. Tahun ini Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3%.
Kado ini bisa diulangi pada May Day yang akan datang. Kalau pada May Day yang akan datang ada kado kebijakan untuk meningkatkan batas penghasilan tidak kena pajak menjadi lebih dari Rp 2 juta per bulan, maka bagi Pemerintah juga masih murah meriah. Mengapa? Karena akibat inflasi, maka Rp 2 juta pada May Day yang akan datang, nilainya lebih rendah dari Rp 2 juta pada hari ini.