Showing posts with label kerohanian. Show all posts
Showing posts with label kerohanian. Show all posts

Friday, July 24, 2015

Selamat Idul Fitri. Semoga Mencapai "JaNur" dan "kuPat"

Pada Hari Raya Idul Fitri dan sampai sekitar satu minggu sesudahnya, kita selalu menjumpai hidangan Ketupat  baik di rumah, di kediaman saudara, kerabat dan  di acara  silaturahmi  dan halal bi halal.  Sepertinya Idul Fitri tidak terpisahkan dari ketupat. Lihat saja, ucapan selamat Idul Fitri di banner/spanduk dan kartu ucapan banyak yang dihiasi gambar ketupat.  Bagaimana  Ketupat, kuliner yang sederhana dan bersahaja ini mendapat kehormatan menjadi semacam icon Idul Fitri?

Tradisi menghidangkan Ketupat pada Hari Raya Idul Fitri dapat dilacak ke masa Wali Songo. Konon Sunan Bonang mengajarkan, kita harus berpuasa sungguh-sungguh agar setelah berpuasa nanti bisa menikmati kupat (bahasa Jawa untuk Ketupat). Kupat adalah simbol yang diartikan sebagai laku sing papat (bahasa Jawa) atau empat sifat yang berhasil dicapai oleh mereka yang berpuasa. Laku sing papat atau empat sifat itu adalah lebar, lebur, luber, labur.
  1. Lebar  : telah menyelesaikan puasanya dengan melegakan.
  2. Lebur  : terhapus semua dosa yang dilakukan di masa lalu, 
  3. Luber  : melimpah ruah pahala amal-amalnya.
  4. Labur  : bersih dirinya dan cerah-bercahaya wajah dan hatinya.
Pembungus Ketupat adalah daun kelapa, yang dalam bahasa Jawa disebut Janur. Janur juga adalah simbol yang diartikan sebagai jatining nur, yakni hati yang putih bersih, sebagai hasil beribadah puasa dengan keikhlasan dan kesungguhan selama Ramadhan.
Jadi, Sunan Bonang  mengajaran agar kita berpuasa untuk "Menuju Jatining Nur dan Meraih Laku sing Papat". Menurut Moh. Mahfud M.D., (Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi) hal itu  digali dari hadis Nabi Muhammad :"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan penuh kesungguhan (maka) akan diampuni segala dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim).

Selamat Idul Fitri. Semoga kita dapat mencapai Jatining Nur dan Laku sing Papat.

Wednesday, July 10, 2013

Ketika Yang Wajib dan Yang Sunah Menjadi Satu

Sidang Isbat untuk menentukan awal Ramadhan tahun ini berlangsung tanpa dihadiri Muhammadiyah. Organisasi Muslim yang bergerak di banyak bidang sosial, kesehatan, pendidikan dll. ini telah memutuskan bahwa awal Ramadhan tahun ini adalah Selasa, 9 Juli 2013. Sepertinya Muhammadiyah merasa, kehadirannya di Sidang Isbat tidak akan mengubah keputusan Sidang untuk menunggu terlihatnya Hilal. Muhammadiyah juga mengganggap keputusannya sudah final, apapun keputusan Sidang Isbat, awal Ramadhan bagi Muhammadiyah adalah Selasa, 9 Juli 2013.

Seperti kita ketahui, pada Sidang Isbat, Menteri Agama mengumumkan bahwa awal Ramadhan tahun ini adalah Rabu 10 Juli 2013.

Selasa pagi 9 Juli 2013, sesaat setalah tiba di kantor, Satria, teman saya bertanya: "Sudah puasa?". Saya menjawab "Belum." Saya memang mengikuti pengumuman pemerintah.

"Satria sudah puasa?" saya balik bertanya. Dia menjawab: "Iya, saya puasa." Satria melanjutkan, "Saya mulai puasa hari ini, bukan karena saya Muhammadiyah, tapi saya cari aman. Kalaupun ternyata Ramadhan memang baru besok Rabu, berarti puasa saya hari ini puasa sunah"

Di posting Ketika Yang Haram dan Yang Wajib Menjadi Satu saya menulis tentang perbedaan hari Idul Fitri pada tahun 2011. Tanggal 30 Agustus 2011 masih bulan Ramadhan bagi sebagian Muslim di Indonesia yang mengikuti pengumuman pemerintah. Namun hari itu juga hari Idul Fitri bagi sebagian Muslim lainnya, yang mengikuti pengumuman Muhammadiyah. Menariknya, Muslim diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan tetapi diharamkan berpuasa pada hari Idul Fitri. Jadi pada situasi seperti tahun 2011, orang-orang seperti Satria harus mengikuti salah satu pilihan secara konsisten, tidak bisa cari aman seperti awal Ramadhan tahun ini.

Kepada Anda yang sedang membaca posting ini, kepada pengunjung blog ini, kepada penulis-penulis komentar di blog ini (yang sebagian besar mengaku sebagai Anonymous), kapanpun Anda mengawali bulan Ramadhan, saya mengucapkan selamat beribadah Ramadhan. Semoga Allah menerima ibadah kita.

Wednesday, August 31, 2011

Ketika Yang Haram dan Yang Wajib Menjadi Satu

Hari ini, 30 Agustus 2011 puasa diyakini sebagai suatu yang wajib oleh sebagian Muslim di Indonesia, namun hari ini puasa juga diyakini sebagai sesuatu yang haram oleh sebagian Muslim lainnya. Hari ini, 30 Agustus 2011 masih bulan Ramadhan bagi sebagian Muslim di Indonesia, namun hari ini juga hari Idul Fitri bagi sebagian Muslim lainnya. Muslim diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan tetapi diharamkan berpuasa pada hari Idul Fitri.
Organisasi-organisasi besar Islam tidak ada perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan 1432 H. Namun sepakat mengenai awal Ramadhan, ternyata tidak berarti sepakat juga mengenai akhir Ramadhan. Seperti yang kita ketahui, akhirnya sebagian Muslim di Indonesia merayakan Idul Fitri tanggal 30 Agustus 2011, sebagian lagi masih terus berpuasa pada hari tersebut dan merayakan Idul Fitri tanggal 31 Agustus 2011.
Meskipun demikian, kepada Anda yang sedang membaca posting ini, kepada pengunjung blog ini, kepada penulis-penulis komentar di blog ini (yang sebagian besar mengaku sebagai Anonymous), kapanpun Anda mengakhiri bulan Ramadhan, saya mengucapkan selamat Idul Fitri. Semoga Allah menerima ibadah kita. Mohon maaf, lahir dan batin. Mohon maaf juga jika ada tulisan di blog ini yang menyinggung perasaan Anda.

Wednesday, December 10, 2008

Selamat Idul Adha

Sehari setelah Idul Adha, saya mengirim SMS ucapan Selamat Idul Adha kepada seorang teman. "Thanks. Better late than never." jawabnya. Rupanya dia menganggap saya terlambat mengucapkan Selamat Idul Adha.

Apakah memang begitu? Bukankah sampai hari ini (tiga hari setelah tanggal 10 Zulhijah) masjid-masjid masih mengumandangkan takbir? Bukankah pada Hari Raya Idul Fitri kita masih mengucapkan Selamat Idul Fitri berminggu-minggu setelah tanggal 01 Syawal? Jadi mengapa kita merasa terlambat mengucapkan Selamat Idul Adha pada hari ini?

Selamat Idul Adha.

Selamat berkurban.

Semoga Allah selalu membimbing kita....

Sunday, September 28, 2008

Portofolio Zakat, Infaq dan Sodaqoh

Umat muslim Indonesia cukup menyadari keutamaan salat berjamaah. Namun sayang, belum banyak yang menyadari keutamaan zakat berjamaah. Zakat yang disalurkan melalui lembaga-lembaga Zakat, Infaq dan Sodaqoh jumlahnya jauh lebih kecil dari jumlah Zakat, Infaq dan Sodaqoh yang disampaikan langsung. Demikian info yang saya dapat dari sebuah sumber di BAZNAS.

Saya yakin banyak yang setuju bahwa jika disalurkan melalui lembaga-lembaga pengelola zakat yang amanah dan profesional, dana yang dihimpun tidak langsung habis, tetapi dapat menjadi dana bergulir untuk jangka panjang dan dapat menjadi sinergi yang efektif dalam mengatasi berbagai masalah di negeri ini. Tetapi tidak sedikit yang memilih memberi secara langsung dengan berbagai sebab. Termasuk karena masih kurang percaya dengan badan amil zakat. Tentu ketidakpercayaan para muzakki ini bukan tanpa sebab dan alasan. Mungkin saja memang ada lembaga pengelola zakat tidak amanah atau tidak profesional.

Sekarang jumlah lembaga yang pekerjaannya mengelola Zakat jumlahnya makin banyak. Beberapa di antaranya mempublikasikan laporan keuangan dan bahkan diudit oleh akuntan publik. Meskipun demikian, tetap tidak mudah memilah lembaga pengelola zakat yang amanah dan yang tidak amanah, yang profesional dan yang tidak profesional. Jadi tidak beda dengan berinvestasi, beribadahpun ada resikonya.

Untuk mengurangi resiko, saya kira prinsip portofolio "jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang" dapat diterapkan di sini. Misalkan anda menempatkan dana pada 10 jenis investasi, jika satu investasi gagal menghasilkan keuntungan, masih ada harapan pada 9 jenis investasi lainnya. Kesulitan kita memilih lembaga pengelola zakat tidak menghapus harapan kita agar dana zakat kita bermanfaat maksimal. Intinya, "jangan menyerahkan semua dana zakat anda hanya pada satu lembaga pengelola zakat". Misalkan anda menyalurkan zakat melalui sepuluh lembaga pengelola zakat. Jika satu dari sepuluh lembaga-lembaga Zakat, Infaq dan Sodaqoh tersebut ternyata tidak amanah atau tidak profesional, maka masih ada harapan bahwa dana Zakat, Infaq dan Sodaqoh dikelola secara amanah dan profesional oleh sembilan lembaga pengelola zakat lainnya.

Bagaimana menurut anda?

Thursday, September 18, 2008

Zakat Langsung vs Zakat Tidak Langsung

KH Didin Hafihudin, menyarankan kepada para pemberi zakat, untuk menyalurkan zakatnya melalui badan amil zakat.Tentu hal ini bukan semata-mata karena beliau adalah Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Menurutnya, dengan melalui lembaga amil zakat, dana yang dihimpun akan digabungkan dengan yang lain sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk yang lebih baik. "Jika pemberian dilakukan lewat lembaga, dana zakat menjadi kekuatan dasyat. Dana yang begitu besar itu dapat dimanfaatkan tidak hanya dalam bentuk uang tapi pendidikan seperti sekolah gratis, pengobatan gratis dan lainnya sehingga pemanfaatannya lebih untuk mensejahterakan masyarakat," kata KH Didin Hafihudin. Seorang teman saya termasuk yang memilih memberi secara langsung. Alasannya, pemberi zakat lebih tahu tentang orang-orang miskin di sekitarnya, yang memang betul-betul perlu dibantu. Seorang rekan yang lain merasa bahwa selama ini dia tidak pernah mendengar ada badan amil zakat yang membagi-bagikan zakatnya ke orang tidak mampu. Dia mempertanyakan "Duitnya di kemanain ya?". Jadi intinya sebagian orang masih kurang percaya dengan badan amil zakat Saya agak heran membaca berita bahwa Presiden SBY meminta Menteri Agama Maftuh Basyuni dan Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal (Pol) Sutanto untuk membuat model pemberian zakat secara langsung yang aman dan tidak menimbulkan korban. Apakah Presiden SBY mendukung pemberian zakat secara langsung padahal oleh banyak pihak dikhawatirkan hanya dapat memenuhi kebutuhan konsumtif penerima zakat. Apakah beliau tidak melihat besarnya manfaat yang dapat diperoleh dari hasil sinergi dana zakat jika dikelola oleh lembaga amil yang profesional dan jujur? Tampaknya Presiden SBY menyadari, tidak mudah mengubah persepsi masyarakat yang masih belum percaya pada lembaga zakat. Oh...what a low trust society.....? :cry: Ada gagasan menarik dari KH Miftachul Akhyar, Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Beliau menyarankan, para muzakki (pemberi zakat) yang mengeluarkan zakatnya dalam jumlah besar agar memberikan hartanya kepada beberapa orang mustahiq (penerima zakat) saja, dan tidak perlu dibagikan secara massal. Kiai Miftah menilai, pembagian zakat yang dilakukan oleh seorang muzakki di Pasuruan yang berbuntut ”kecelakaan” itu tidaklah bijak. Selain penuh resiko, dengan cara seperti itu setiap orang hanya mendapatkan jatah yang kecil dan uang yang diterima akan langsung habis. Menurut beliau, mestinya zakat diberikan kepada beberapa orang saja. Sebelum zakat diberikan, muzakki memberikan imbauan dan bimbingan kepada mustahiq agar uang zakat tersebut dapat digunakan sebagai modal usaha. agar tahun depan mereka tidak lagi datang sebagai mustahiq, tapi sudah menjadi muzakki (orang yang mengeluarkan zakat). ”Kalau menggunakan model ini, maka jumlah orang miskin semakin lama akan semakin berkurang,” kata KH Miftachul Akhyar. Bagaimana menurut anda?

Wednesday, August 27, 2008

Ramadhan Bukan Bulan Suci

Ramadhan bukan bulan suci! Dalam literatur-literatur Islam hanya ada empat bulan suci, dan Ramadhan tidak termasuk dalam empat bulan suci tersebut. Anggapan Ramadhan sebagai bulan suci adalah salah satu salah kaprah umat Islam. Demikianlah kurang-lebih yang disampaikan Khatib salat Jumat di Masjid Baitussalam, Duren Tiga, Jakarta Selatan. 22 Agustus 2008. Bagi saya yang terlanjur mengikuti anggapan bahwa Ramadhan adalah bulan suci, penjelasan ini sungguh mencengangkan. Masjid Baitussalam biasanya menghadirkan khatib-khatib yang cukup kredibel, jadi saya tidak punya alasan untuk meragukan pernyataannya. Lagi pula pengetahuan saya tentang literatur Islam terlalu dangkal untuk menolaknya. Lalu, sebutan apa yang pantas untuk Ramadhan? Menurut khatib, sebutan yang paling tepat untuk Ramadhan adalah bulan Ibadah.
 Dalam khutbahnya, khatib mengungkapkan sejumlah salah kaprah lainnya di kalangan umat Muslim dalam bulan Ramadhan. Di antaranya adalah menyambut dan meramaikan Ramadhan dengan petasan. Salah kaprah yang lain menurut khatib adalah lebih banyaknya jumlah jemaah di masjid pada waktu salat Tarawih dibanding pada waktu salat wajib. Menurutnya, salat Tarawih bukanlah wajib dan tidak harus berjamaah. Di Timur tengah, jemaah salat tarawih di masjid-masjid justru tidak pernah sebanyak jemaah salat wajib.
 Menurut khatib, salah kaprah berikutnya adalah penyelenggaraan salat Tarawih di rumah-rumah pejabat dan juga di hotel-hotel berbintang dengan menghadirkan aktris / selebriti. Hal ini dianggapnya telah menarik jemaah dari masjid-masjid. Pusat ibadah umat Muslim adalah masjid, bukan rumah pejabat atau hotel-hotel. Khatib mengkhawatirkan penyelenggaraan salat Tarawih di tempat-tempat tersebut mengaburkan makna dan tujuan salat tarawih dan ibadah Ramadhan.

  Selamat beribadah Ramadhan

Sunday, October 21, 2007

Semalam Yang Lebih Baik Dari Seribu Bulan

Memang basi banget! Ramadhan sudah selesai, koq bikin judul Semalam Yang Lebih Baik Dari Seribu Bulan!? Harap maklum, ide tulisan ini dapatnya baru sesudah lebaran kemarin. Usai Idul Fitri, MetroTV menyiarkan dialog dengan nara sumber Dr. Muhammad Syafii Antonio, MSc dan seorang ulama yang saya lupa namanya (mohon maaf). Salah satu dialog mereka menyinggung pemahaman sebagian umat Muslim tentang Lailatul Qadar. Dicontohkan tentang kebiasaan begadang mengharapkan ketemu sang Lailatul Qadar. Lengkap dengan mbawa rantang dan teko. Bahkan diceritakan tentang orang-orang yang setiap malam di akhir Ramadhan berjalan menyusuri sungai berharap akan melihat cahaya terang yang ajaib tiba-tiba turun dari langit. Menurut Syafii Antonio dan ulama tersebut, mencari Lailatul Qadar seharusnyan dilakukan dengan giat membaca Al Quran di malam-malam Ramadhan. Jika dari membaca dan mempelajari Al Quran, sesorang memperoleh inspirasi dan pencerahan yang mengubah hidupnya, maka dia telah mendapat semalam yang lebih baik dari seribu bulan. Pendapat kedua ulama ini buat saya sungguh menarik. Saya suka dengan pendapat ini, meskipun saya tidak kompeten untuk mengatakan pendapat inilah yang seharusnya diikuti. Semoga ada ulama yang mau berkomentar soal ini.

Monday, October 1, 2007

Win the Argumen and Loose the Ramadhan

Hari itu 30 September 2007. Kopaja S614 sudah hampir melewati rumah adik sepupu saya di Jalan Antasari Jaksel, tetapi kondektur belum juga mengembalikan uang kembalian saya sebesar delapan ribu rupiah. Saya berjalan ke pintu belakang, hendak meminta uang kembalian, sekaligus turun dari Kopaja. Sebelum saya bicara, kondektur sudah mengetuk-ngetuk pintu, memberi isyarat agar Kopaja berhenti. "Kembaliannya." kata saya. Kondektur tampak kaget, lalu menyerahkan tiga lembar uang ribuan. "Sepuluh ribu!" kata saya mengingatkan, bahwa tadi saya membayar dengan uang sepuluh ribu, bukan lima ribu rupiah. Kondektur menambahkan lima ribuan. Sementara Kopaja yang sempat berhenti, sekarang kembali melaju. "Berhenti, dong!" kata saya. Saya dengar kondektur menggerutu: "Nggak dari tadi!!??" "Situ yang nggak mau ngasih kembalian dari tadi!!!" jawab saya dengan nada tinggi. Dengan bersungut, kondektur memberi isyarat supaya Kopaja berhenti. Saya turun dari Kopaja juga dengan bersungut. Ada rasa dongkol, ada juga rasa bangga karena bisa memenangkan debat atau pertengkaran kecil dengan kondektur. Ooopss....! Menang debat sama kondektur, koq bangga!? Padahal saya sedang berpuasa.... Janji Tuhan memberi nilai berlipat ganda bagi kebajikan di bulan Ramadhan gagal saya manfaatkan sebagai leverage. Padahal baru kemarin saya menyimak Rene S. Canoneo membicarakan pentingnya leverage. Ternyata saya cuma baru bisa menyimak dan menghafal, bukan melakukan dan mengambil manfaat. ....saya memang mendapatkan uang kembalian delapan ribu rupiah yang menjadi hak saya. Saya juga berhasil memenangkan perdebatan. Tapi ternyata saya hanya "win the argument but loose the Ramadhan...." :-( Gambar diambil dari http://th165.photobucket.com/albums/u72/mlswarriors/th_leverage.jpg