Showing posts with label public service. Show all posts
Showing posts with label public service. Show all posts

Saturday, October 29, 2022

Pelanggaran Prokes COVID 19 di TransJakarta




Pemerintah telah mengumumkan  pelonggaran mengenakan masker di ruang terbuka. Meskipun demikian, Presiden Jokowi menegaskan, untuk kegiatan di RUANGAN TERTUTUP dan TRANSPORTASI PUBLIK tetap harus MENGGUNAKAN  MASKER. Penegasan ini diucapkan Presiden Joko Widodo  di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/5/2022).
Sehubungan dengan hal tersebut, pihak Transjakarta menyatakan, Transjakarta tetap mewajibkan seluruh pelanggan untuk mengenakan masker selama berada di fasilitas Transjakarta. Pernyataan ini disampaikan Kepala Departemen Korporasi & CSR PT Transjakarta, Iwan Samariansyah, sebagaimana diberitakan Metro TV, Jumat, 20 Mei 2022.
Namun, dalam pelaksanaan di lapangan,  sayang sekali, tidak semua pengguna Transjakarta patuh  memakai masker. Silakan perhatikan di video di atas. Ada penumpang  yang justru melepas masker sesudah duduk di bus Transjakarta.  Penumpang Transjakarta juga ada yang membuka masker sewaktu menggunakan ponsel. Ada penumpang yang hanya menggantungkan masker di dagunya selama di bus Transjakarta. Bahkan ada penumpang yang tidak memakai masker sama sekali selama di bus Transjakarta. Juga ada penumpang yang maskernya hanya dipakai menutup bagian bawah mulutnya. 
Ironisnya ,  petugas Transjakarta juga ada yang tidak memakai  masker secara benar.  Petugas Transjakarta ini hanya menggantungkan masker di dagunya 

... semoga mendapat perhatian manajemen TransJakarta...

Sunday, January 10, 2016

Transjakarta Minimalis Rasa Kopaja

Pada akhir Desember 2015 ini, Kopaja berstandar transjakarta (bus sedang warna biru muda - putih) mulai dioperasikan. Transjakarta patut mendapatkan apresiasi atas usahanya meningkatkan pelayanan kepada konsumennya. Lebih dari itu, setiap usaha memperbaiki fasilitas dan layanan patut didukung dan diapresiasi oleh pemerintah dan kita semua, mengingat dampak nya yang positif pada pengurangan kemacetan, konsumsi Bahan Bakar, dan polusi, serta multiplier effects nya pada tingkat nasional.

Sayang, pihak Transjakarta kurang informatif mengenai mulai beroperasinya Kopaja berstandar transjakarta ini. Tak ada spanduk/banner ataupun tulisan pemberitahuan mengenai Kopaja ini. Berbeda sekali sewaktu pihak TransJakarta akan menerapkan pembayaran non tunai (e-ticket). Pada waktu itu banyak sekali spanduk/banner yang dipasang di Halte-halte. Untunglah pada hari pertama dioperasikannya Kopaja yang sudah tergabung dengan Transjakarta, ada seorang petugas TransJakarta yang saya kenal memberi tahu saya, bahwa Kopaja warna biru muda - putih itu sudah tergabung dengan Transjakarta , dan penumpang tidak perlu membayar lagi (tidak seperti kalau kita naik Kopaja warna hijau-putih yang harus bayar lagi Rp. 6,000). Sepertinya tidak semua pengguna TransJakarta mengetahui informasi ini. Di halte-halte yang saya lewati, sedikit sekali penumpang yang naik, meskipun bis masih longgar. Mungkin mereka mengira Kopaja ini sama dengan Kopaja warna hijau-putih yang harus bayar lagi Rp. 6,000.

Baru pada 2 Januari 2015, saya melihat ada spanduk/banner di Halte, memberi tahu mengenai beroperasinya Kopaja warna biru-putih yang sudah tergabung dengan Transjakarta , dan penumpang tidak perlu membayar lagi. Mungkin di akhir tahun banyak pembuat spanduk/banner yang libur, sehingga pihak Transjakarta terlambat memberikan informasi kepada pelanggannya :-)
Bagi saya, Kopaja berstandar transjakarta ini adalah Transjakarta Rasa Kopaja atau Transjakarta Minimalis. Ukuran kendaraan dan kapasitas angkut jelas lebih kecil dari bus Transjakarta yang sudah ada sebelumnya. Interiornya berwarna hijau muda, warna khas bus kopaja. Jadi mudah ditebak, bus ini memang Kopaja yang dulu sudah lama beroperasi di jalur Busway, kemudian eksteriornya dicat ulang dengan warna biru muda - putih.

Bukan hanya ukurannya yang Minimalis, layanan Bus ini juga minimal. Awak Bus ini hanya satu orang pengemudi, tidak ada kondektur atau petugas. Jadi kalau ada penumpang yang tidak tertib (misalnya tidak mau antri) maka tidak ada petugas yang menegur. Padahal penumpang yang tidak tertib seringkali tidak peduli atau bahkan melawan kalau ditegur oleh sesama penumpang. Di jalur Monas-Ragunan saya pernah melihat seorang penumpang yang menduduki dua tempat duduk tanpa peduli kepada penumpang lain yang terpaksa berdiri. Bukan tidak mungkin, yang pernah saya tulis mengenai penumpang Kopaja AC P20 yang lebih menghargai burung dari pada manusia ("Ketika Burung Lebih Utama dari pada Manusia") dapat terulang di Transjakarta Minimalis ini.

Tidak adanya kondektur atau petugas juga membuka peluang pelaku kriminal lebih leluasa menjalankan usahanya. Sangat mungkin, tingkat amanannya tidak sebaik bus Transjakarta yang sudah ada sebelumnya. Jadi tingkat keamanan Bus ini juga Minimalis.

Ada satu hal yang lucu, bahkan konyol, bunyi klakson Transjakarta Minimalis juga Minimalis. Mirip bunyi klakson sepeda motor. Sangat tidak sesuai dengan kelasnya yang termasuk kendaraan ukuran sedang. Dampak bunyi klakson yang mirip sepeda motor ini, saat kendaraan bus ini terhalang serombongan sepeda motor yang berhenti ditempat yang tidak seharusnya, para pengemudi sepeda motor hanya bergeser sedikit waktu diklakson. Mungkin mereka mengira, yang dihalanginya hanyalah sesama sepeda motor.

Ada hal lain yang perlu jadi perhatian pihak TransJakarta. Beberapa bus Transjakarta Minimalis ini tidak dilengkapi pengenal yang jelas mengenai jurusannya. Sehingga penumpang harus bertanya dulu kepada sesama penumpang (karena tidak ada kondektur), malah tidak sedikit penumpang yang keliru terlanjur naik bus yang bukan jurusannya.

Monday, January 4, 2016

Transjakarta Yang Menyerupai APTB.

Saya pernah menulis mengenai makin buruknya kondisi bus-bus Transjakarta jurusan Ragunan-Dukuh Atas dan Ragunan-Monas di posting "Basah Kuyub Dalam Bus Trans Jakarta " dan "TransJakarta (Busway): Dulu dan Kini". Untunglah mulai dua atau tiga bulan lalu sudah ada unit-unit bus Transjakarta yang baru di jalur ini. Sangatlah patut Transjakarta mendapatkan apresiasi atas usahanya meningkatkan pelayanan kepada pengguna transportasi umum di Jakarta. Lebih dari itu, setiap usaha memperbaiki fasilitas dan layanan patut didukung dan diapresiasi oleh pemerintah dan kita semua, mengingat dampak nya yang positif pada pengurangan kemacetan,  konsumsi Bahan Bakar, dan polusi, serta  multiplier effects nya pada tingkat nasional.
Namun ada hal yang saya ingin kritisi mengenai unit-unit bus Transjakarta yang baru ini.
Suatu pagi, sekitar dua atau tiga bulan lalu, untuk pertama kalinya saya lihat ada Bis berwarna biru yang mirip sekali dengan APTB (Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus TransJakarta) di jalur Busway Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan . Sebelumnya Bis APTB warna biru seperti ini hanya saya jumpai di di jalur Busway Jalan Sudirman dan Gatot Subroto . Setelah Bis berwarna biru itu tiba di Halte, saya baca di dinding samping Bus ada tulisan TransJabodetabek, dan di kaca depan ada tulisan Trisakti. Tulisan , bentuk dan warna bus ini menyebabkan saya dan beberapa orang yang sedang menunggu di Halte ini makin yakin, bus ini adalah APTB dengan jurusan ke arah Universitas Trisakti. Karena Bus yang kami tunggu adalah Transjakarta jurusan Dukuh Atas atau ke Monas, yang selama ini berwarna kelabu, maka kami tidak naik ke Bus biru ini.
Belakangan baru kami tahu bahwa Bis berwarna biru  yang mirip APTB ini adalah bus Transjakarta yang baru, jurusan Ragunan-Dukuh Atas dan Ragunan-Monas. Sayang sekali pihak transjakarta tidak memberikan informasi mengenai bus Transjakarta yang baru ini. Warna biru  dan bentuk bis yang sangat mirip APTB, serta tulisan Trisakti di kaca depan membuat Bis ini tidak bisa langsung dikenali sebagai bus Transjakarta.
Saya tidak mengerti mengapa pihak Transjakarta tidak memberikan informasi di Halte-halte Busway mengenai beroperasinya unit-unit bis baru ini? Tak ada spanduk/banner ataupun tulisan pemberitahuan di Halte-halte. Berbeda sekali sewaktu pihak TransJakarta akan menerapkan pembayaran non tunai (e-ticket). Pada waktu itu banyak sekali spanduk/banner yang dipasang di Halte-halte

Saya juga tidak mengerti mengapa pihak Transjakarta memilih unit-unit bis baru ini yang hanya memiliki satu pintu di sisi kiri dan satu pintu di sisi kanan? Penumpang Unit-unit bis baru ini lebih sulit untuk masuk / keluar bus dibandingkan dengan bus-bus Transjakarta yang lama yang memiliki dua pintu di sisi kiri dan dua pintu di sisi kanan. Penumpang yang berada di belakang sangat kesulitan untuk turun/keluar , apabila bus dalam keadaan penuh. Silakan anda perhatikan, sering kali bagian di belakang kosong, sementara bagian tengah (dekat pintu) penuh sesak, karena penumpang tidak ingin berada di bagian yang jauh dari pintu, kecuali penumpang yang menuju halte terakhir. Di samping itu, ketika berhenti di halte, pintu bus yang hanya satu ini bisa saja bertepatan dengan satu di antara dua atau bahkan  tiga pintu yang ada di halte (terserah pengemudi bus). Penumpang yang akan masuk bus direpotkan dengan harus berpindah ke pintu halte yang bertepatan dengan pintu bus. Selain merepotkan dan tidak nyaman, ini juga membahayakan, terutama pada jam-jam puncak sewaktu jumlah penumpang sangat banyak dan semua ingin cepat masuk bus. Apalagi bus hanya berhenti sebentar dan banyak halte busway yang sempit.
Jadi saya simpulkan, dengan memilih jenis bus mirip APTB dengan pintu hanya satu seperti ini, pihak Transjakarta kurang memperhatikan kenyamanan dan keselamatan penumpang .

Wednesday, March 4, 2015

Tidak Jadi Beli Modem 4G LTE

Tentu saja saya tergiur dengan iklan yang mengatakan kecepatan internet di jaringan 4G LTE sepuluh Sepuluh kali lebih cepatkali lebih cepat. Saya sudah diberi brosur dan sudah bertanya banyak hal kepada wiraniaga/sales sebuah brand baru yang merupakan provider pertama yang meluncurkan 4G LTE (Long Term Evolution) di Indonesia. Saya pikir harga modem 4G LTE (termasuk paket internet) yang ditawarkan provider ini tidak mahal. Tetapi keinginan saya membeli modem 4G LTE dari provider ini saya urungkan. Sebabnya antara lain, coveragenya masih terbatas, padahal saya sering keluar kota. Di samping itu, modemnya di"lock". Kita akan terikat terus dengan provider ini. Misalnya suatu waktu kita merasa layanan provider ini tidak lagi sesuai dengan keinginan kita, maka kita akan kesulitan untuk pindah provider.

Kemudian saya mendengar kabar baik, bahwa para pemain lama di industri telekomunikasi sudah mulai uji coba jaringan 4G LTE, dan sudah banyak modem 4G LTE yang dijual tanpa "bundling" dan tidak di"lock".dengan operator tertentu. Namun, juga ada kabar buruk, bahwa jaringan CDMA akan digusur dari ranah telekomunikasi Indonesia. Yang lebih buruk lagi, konon jaringan CDMA digusur untuk memberi lahan bagi jaringan 4G LTE. Ponsel CDMA dan Modem CDMA saya akan jadi barang tak berguna :(

Akan makin banyaknya provider 4G LTE dan banyaknya pilihan modem 4G LTE yang tidak di"lock" membuat saya kembali tertarik untuk beli modem 4G LTE. Setelah tanya teman-teman dan searching di internet, saya menjatuhkan pilihan pada sebuah brand modem 4G LTE yang cukup populer dan harganya cukup terjangkau (sekitar Rp 200-250 ribu). Suatu hari saya hampir saja memesan modem itu dari sebuah on line store, namun karena suatu hal, saya menundanya dan menunggu sampai besok harinya.

Setelah itu, kebetulan saya baca beberapa berita mengenai rencana peluncuran jaringan 4G LTE di Indonesia. Dari berita-berita tersebut, bagi saya, standar dan frekuensi jaringan 4G LTE yang akan dipakai di Indonesia masih saya belum jelas. Ada berita bahwa jaringan 4G LTE di Indonesia akan menerapkan standar FDD (Frequency Division Duplexing) pada frekuensi 900 MHz. Tetapi sepertinya, ini hanya sementara, karena Kemenkominfo mengatakan, LTE akan menggunakan frekuensi 1.800 Mhz. Ada operator yang mengatakan, di frekuensi 900 MHz saat ini, kecepatannya di jaringan 4G LTE FDD justru lebih lambat dari 3G.

Di lain pihak, BRTI mengatakan bahwa LTE FDD tidak akan digelar di semua tempat, hanya di daerah tertentu saja, dan difokuskan untuk kepentingan bisnis. Dengan demikian, tersirat bahwa yang dapat dipakai secara luas oleh kita adalah LTE standar TDD (Time Division Duplexing). Provider yang saya sebut sebagai provider pertama yang meluncurkan 4G LTE di atas memakai Standar TDD di freuensi 2300 MHz. Modem 4G LTE yang hampir saya beli juga memakai Standar LTE TDD 2300/2600MHz. Saya dengar, di Indonsia sementara ini yang memakai Standar LTE TDD 2300/2600MHz hanya dua operator. Jadi kalau terlanjur beli Modem itu, maka saya juga akan terikat di dua operator/provider tersebut, meskipun modemnya tidak di"lock".

Jadi saya simpulkan bahwa standar dan frekuensi jaringan 4G LTE yang akan dipakai di Indonesia masih belum jelas. Saya merasa beruntung, belum terlanjur membeli Modem 4G LTE. Sayang sekali kalau terlanjur beli, kemudian kecepatannya di jaringan 4G LTE justru lebih lambat dari 3G, atau malah tidak bisa dipakai sama sekali.

Bagaimana menurut Anda?

Monday, February 2, 2015

Basah Kuyub Dalam Bus Trans Jakarta

Pada hari Minggu, 1 Februari 2014, saya menunggu Bus Transjakarta di halte Imigrasi, Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Waktu itu hujan baru saja reda dan saya akan menuju ke Pejaten. Setelah Bus Transjakarta tiba di halte Imigrasi, saya segera naik. Saya lihat ada beberapa penumpang yang berdiri, padahal ada kursi-kursi yang kosong. Setelah saya duduk di salah satu kursi yang kosong itu, saya baru menyadari bahwa kursi yang saya duduki itu basah. Ternyata semua kursi yang kosong itu dalam kondisi basah. Sebagian celana dan baju saya terlanjur basah. Bukan hanya itu, masih ada tetesan air dari langit-langit bus yang menetes ke kepala saya. Rupanya atap Bus Transjakarta bocor sehingga air hujan masuk ke dalam bus.

Setelah hampir sampai di halte Pejaten, Bus Transjakarta yang saya tumpangi keluar dari jalur Busway. Petugas/kondektur memberitahukan, jalur busway terhalang karena ada Bus Transjakarta yang mogok. Penumpang yang akan turun di halte Pejaten diminta agar turun di halte Jati Padang (melewati satu halte), kemudian naik Bus ke arah sebaliknya. Ternyata memang ada Bus TransJakarta yang mogok di dekat halte Pejaten.

Sesampainya di halte Jati Padang, saya dan beberapa penumpang turun dan menunggu Bus Transjakarta untuk menuju arah balik ke halte Pejaten. Sekitar jam 14:35, datang Bus Transjakarta dari arah Ragunan, dan saya segera naik. Setelah di dalam Bus, saya lihat kondisi bus ini lebih parah dari bus yang sebelumnya, karena lebih banyak lagi kursi yang basah. (lihat foto di bawah).

Basah Kuyup di Bus Transjakarta

Jakarta memang diguyur hujan hari itu, tetapi saya sungguh tidak menyangka Bus Transjakarta atapnya kropos dan bocor sehingga air hujan masuk ke dalamnya. Begitu parahkah kondisi Transjakarta saat ini?

Kondisi Bus Transjakarta yang menyedihkan ini jadi paradox dengan keinginan Pemerintah DKI agar kita memakai tranportasi umum. Saya tidak berharap Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok "blusukan" ke Bus Transjakarta untuk mengetahui kondisi Bus Transjakarta yang sudah perlu di "overhaul" atau malah diganti baru. Saya yakin pejabat-pejabat di bawah Gubernur dan juga para pengelola Transjakarta sudah mengetahui kondisi ini. Sayangnya, belum tampak ada tidakan perbaikan terhadap Bus-Bus Transjakarta yang kondisinya sudah parah ini.

Sepertinya pengelola Transjakarta lebih menonjolkan soal e-ticketing. Lihat saja di halte-halte Bus Transjakarta selalu dipajang spanduk/banner memamerkan bahwa Bus Transjakarta memakai e-ticket. E-ticket menurut saya bukan prioritas dibanding perbaikan Bus-Bus Transjakarta yang reyot, mogok dan bahkan atapnya kropos dan bocor seperti dua Bus yang saya tumpangi itu.

Saturday, September 13, 2014

Antara Florence, @Kemalsept, Prita, Inna Savova dan Saya

Awal September 2014, saya dapat tugas ke Semarang. Saya sengaja mencari tempat menginap di sebuah hotel di dekat Simpang Lima, terutama karena di kawasan ini kita mudah sekali untuk mencari penjual makanan meskipun pada larut malam. Simpang lima Semarang adalah pertemuan dari lima jalan, yaitu Jl. Pahlawan, Jl. Pandanaran, Jl. Ahmad Yani, Jl. Gajah Mada dan Jl A Dahlan. Di sekitarnya berdiri hotel-hotel berbintang dan pusat perbelanjaan. Simpang lima Semarang merupakan ruang terbuka yang biasa digunakan oleh masyarakat Semarang untuk beraktifitas. Simpang Lima sepertinya menjadi Land Mark kota Semarang, karena pusat kegiatan dan keramaian berada disini.

Suatu hari saya berjalan kaki mengitari Simpang Lima. Saya senang bahwa Pemerintah Kota Semarang menyediakan Zebra Cross -termasuk untuk menyeberang ke lapangan yang menjadi pusat Simpang Lima. Adanya Zebra Cross ini sangat membantu saya yang agak paranoid soal menyeberang jalan. Namun saya terkejut sewaktu akan menyeberang Jalan Ahmad Yani (di sisi selatan Plaza Matahari). Di Jalan ini memang ada Zebra Cross, tetapi di tengahnya ada pagar yang menghalangi penyeberang jalan. Penyeberang harus membungkuk untuk melewati celah di pagar ini. Karena celah ini sempit, penyeberang jalan yang berbadan besar atau yang gemuk akan kesulitan melewatinya. Zebra Cross terhalang pagar, sungguh kontradiktif.

Zebra Cross terhalang pagar di Simpang Lima Semarang 1

Zebra Cross terhalang pagar di Simpang Lima Semarang 2

Saya hampir saja mengunggah foto Zebra Cross yang dihalangi pagar ini ke akun Facebook saya. Saya juga hampir menuliskan kalimat bernada keluhan. Tetapi hal itu tidak jadi saya lakukan. Saya khawatir akan mengalami hal sama dengan Florence Sihombing yang ditahan karena dianggap menghina Jogja. Saya juga khawatir mengalami hal sama dengan dengan @kemalsept yang dilaporkan oleh Ridwan Kamil ke Polisi karena dianggap menghina Bandung.

Nasib Florence Sihombing dan @Kemalsept tidak sebaik Prita Mulyasari. Meskipun Prita ditahan dan diadili, tetapi dia mendapat dukungan dan pembelaan dari para pengguna media sosial. Yang saya belum dapat mengerti adalah mengapa perlakuan terhadap Inna Savova jauh lebih baik dari pada terhadap Florence Sihombing, @Kemalsept dan Prita. Inna Savova menyebut Bandung sebagai City of Pigs. Tetapi Inna Savova tidak dilaporkan ke Polisi. Walikota Bandung, Ridwan Kamil menanggapi santai soal blog Inna Savova yang menyebut Bandung 'The City of Pig'. Ia justru mengajak warga Bandung introspeksi terkait urusan sampah tersebut. Inna Savova sepertinya juga tidak penah membuat pemintaan maaf. Meskipun demikian tidak ada pihak yang menuntut atau melaorkan Inna Savova ke pihak penegak hukum. Ini berbeda dengan Florence, meskipun sudah membuat permintaan maaf, gabungan LSM dan sekelompok masyarakat melaporkan Florence Sihombing kepada Polda DIY. Florence dianggap menimbulkan kebencian, luka hati dan permusuhan terkait SARA di Jogja. Florence ditahan pada Sabtu (30/8) lalu mulai pukul 14.00.

Sebenarnya saya ingin sekali mengunggah foto Zebra Cross yang dihalangi pagar ini ke akun Facebook saya. Saya ingin sekali menulis kalimat seperti: "...Zebra Cross terhalang pagar di Simpang Lima Semarang ...." atau "..Jangan halangi penyeberang jalan.." atau "...Pemerintah Kota Semarang perlu lebih memperhatikan keperluan penyeberang jalan dan pejalan kaki......." Saya ingin sekali Walikota Semarang menanggapinya dengan santai dan mengatakan akan introspeksi, seperti yang dilakukan Ridwan Kamil terhadap tulisan Inna Savova. Namun saya tidak terlalu yakin bahwa Walikota Semarang akan menanggapi tulisan saya dengan cara yang sama seperti Ridwan Kamil menanggapi tulisan Inna Savova: Bandung 'The City of Pig'.

Saturday, August 16, 2014

Halte Busway Hanya Untuk TransJakarta?

Mulai 1 Agustus 2014, Transjakarta Busway tidak menjual tiket APTB, BKTB, Kopaja, Kopami di loket di halte. Setiap penumpang yang masuk ke halte dikenakan tiket Transjakarta. Penumpang yang ingin naik APTB, BKTB, Kopaja, Kopami baik jarak dekat atau jarak jauh dikenakan tarif sesuai masing-masing operator. Demikian pengumuman yang ditempel di loket halte busway di Jalan Warung Buncit Jakarta Selatan tanggal 5 Agustus 2014. Saya agak penasaran dengan dikeluarkannya pengumuman ini. Jadi saya menyakannya kepada petugas loket. Petugas menjelaskan, kalau saya mau naik Kopaja (AC) saya haruskan membayar Rp 3500 (tiket Transjakarta) dan nanti membayar lagi Rp 5000 kepada kondektur Kopaja. Artinya saya harus bayar dua kali, dengan jumlah sebesar Rp 8500. Padahal saya hanya naik bus Kopaja (AC), bukan TransJakarta), dan harga tiket Kopaja (AC) hanya Rp 3500. Saya katakan, bahwa aturan ini tidak logis. Petugas loket hanya menjawab bahwa memang hanya begitu arahan yang diberikan kantornya.
Karena saya masih penasaran dengan dikeluarkannya pengumuman ini, saya menyakannya kepada Call Center Transjakarta (80879449). Pihak Call Center Transjakarta menjelaskan bahwa, Transjakarta telah menerapkan sistem penghitungan otomatis jumlah tiket terjual berdasarkan jumlah orang yang masuk halte busway. Jadi pihak Transjakarta harus memberlakukan aturan, setiap orang yang masuk ke halte busway diharuskan membeli tiket Transjakarta. Di sisi lain, pihak Kopaja belum mencapai kesepakatan dengan pihak Transjakarta, sehingga, kalau penumpang Kopaja masuk Halte tanpa membeli tiket Transjakarta, maka pihak Transjakarta akan mengalami kesulitan (sebutlah tidak balance antara hasil penghitungan otomatis dengan jumlah tiket terjual). Sewaktu saya tanyakan, apakah peraturan ini hanya sementara sampai ada kesepekatan dengan pihak Kopaja, pihak Call Center Transjakarta mengatakan belum bisa memastikan apakah sementara atau seterusnya.
Kepada pihak Call Center Transjakarta saya mengatakan, bahwa dari pada harus membeli tiket lebih mahal, saya lebih baik menunggu Kopaja (AC) di luar halte busway. Meskipun lebih beresiko dan mengganggu pemakai jalan yang lain, saya kira tidak sedikit penumpang Kopaja AC yang berpikir seperti saya. Silakan lihat beberapa foto di bawah ini.
tunggu kopaja 1.jpg
tunggu kopaja 2.jpg
tunggu kopaja 3.jpg
Jadi sejak 1 Agustus 2014, Halte Busway hanya untuk penumpang TransJakarta. Penumpang APTB, BKTB, Kopaja, dan Kopami yang masuk ke halte busway diharuskan membeli tiket Transjakarta. Jadi TransJakarta mendapat tambahan pendapatan dengan sangat mudah tanpa memberikan jasa transportasi. Aturan ini adalah "makan siang gratis" untu TransJakarta. Jangan salahkan kalau ada yang menganggap aturan ini memang sengaja dibuat untuk prakondisi kenaikan harga tiket Transjakarta.
Mungkin ada pendapat bahwa TransJakarta berhak memungut uang dari penumpang APTB, BKTB, Kopaja, dan Kopami yang masuk ke halte busway, karena Halte Busway adalah milik TransJakarta. Memang benar bahwa Halte Busway adalah milik TransJakarta, tetapi menurut saya lahan tempat berdirinya Halte Busway dan jalur Busway adalah milik publik, bukan milik TransJakarta. Silakan membandingan lebar jalan yang bisa dilewati kendaraan umum dan pribadi sebelum dan sesudah adanya TransJakarta. Rata-rata jalur lebar jalan yang bisa dilewati kendaraan umum dan pribadi berkurang sekitar 30% setelah adanya TransJakarta. Jadi jalur TransJakarta telah mengambil 30% lebar jalan yang menjadi hak pengguna jalan lain. Di sisi lain, jumlah Bus TransJakarta masih sedikit, sehingga jalur Busway yang merupakan pengorbanan para pengguna jalan itu masih sering jadi idle asset alias under utilized.
Cara penjadwalan Bus TransJakarta juga belum bagus. Tidak jarang Bus TransJakarta datangnya lama sehingga antrian penumpang menumpuk di Halte Busway. Tidak jarang juga tiga atau lebih Bus TransJakarta "bergerombol" (beriringan) sementara penumpang di dalam Bus-bus tersebut hanya sedikit.
Karena lahan tempat berdirinya Halte Busway dan jalur Busway adalah milik publik, seharusnya TransJakarta tahu diri dan berbagi dengan kendaraan-kendaraan umum lain agar publik pengguna transportasi umum tidak dirugikan.

Saturday, June 21, 2014

XL Axiata Melawan SMS-SMS Penipu

Pernahkah Anda mendapat SMS yang mengatakan bahwa Anda mendapat hadiah? Atau SMS yang seolah dari kerabat dekat yang meminta bantuan, dari sekedar minta pulsa atau malah minta uang? Semoga Anda bukan termasuk orang yang mudah terbujuk/tergiur dengan SMS-SMS semacam ini.

http://jenddela.blogspot.com XL Axiata Melawan SMS-SMS penipu 1

http://jenddela.blogspot.com XL Axiata Melawan SMS-SMS penipu 2

XL Axiata adalah operator seluler yang berinisitif untuk melawan maraknya SMS-SMS penipu. Belum lama ini XL Axiata memberikan fasilitas kepada para pelanggannya untuk melaporkan SMS penipu. Caranya mudah. Apabila Anda mendapat SMS penipu semacam ini, maka Anda cukup memforward SMS tersebut ke nomor 588. Setelah itu Anda akan menerima notifikasi, bahwa pihak XL telah menerima informasi tentang SMS penipu tersebut, disertai ucapan terima kasih atas partisipasi Anda.

http://jenddela.blogspot.com XL Axiata Melawan SMS-SMS penipu 3

http://jenddela.blogspot.com XL Axiata Melawan SMS-SMS penipu 4

Kepedulian XL Axiata terhadap maraknya SMS-SMS penipu patut mendapat apresiasi. Selain mudah, fasilitas yang diberikan XL Axiata ini juga bebas pulsa. Jadi, apabila Anda mendapat SMS penipu, jangan ragu untuk memforward SMS penipu tersebut ke nomor 588. Semoga partisipasi Anda dan kepedulian XL Axiata dapat mengurangi maraknya SMS-SMS yang mengganggu kita.

Sunday, November 17, 2013

Ketika Musim Proyek Tiba

Dua hari yang lalu, saya baca posting Made, teman saya di Facebook. "Ūđåћ hujan byk galian serem aj mobil gw kejeblos mana jln sempit byk motor pula..". Kemudian, di Twitter juga ada kicaua: "Mulai banyak galian dimana2. Meeting dan training dadakan. Negara yang lagi sibuk ngabisin budget 2013........trotoar, jembatan2, tembok2 semua di Cat. Bahu-membahu tutup buku :).  Tulisan-tulisan di Facebook dan Twitter itu membuat saya teringat posting lama saya di tahun 2007,  "December effect"  .  Di posting itu saya mengkritisi kegiatan menghabiskan sisa anggaran yang terus berulang setiap akhir tahun, yang dilakukan demi mematuhi sebuah sistem. 
Saya yakin, Made dan yang  menulis di Twitter di atas hanya sebagian kecil dari yang merasa terganggu dengan kegiatan menghabiskan sisa anggaran di akhir tahun ini. Kita semua tahu, di tiap akhir tahun umumnya curah hujan meningkat. Tanah bekas galian membuat aspal jalan jadi licin, sehingga rawan kecelakaan. 
Galian PDAM (dari viva.co.id)

Apakah pihak yang melaksanakan pekerjaan tidak merasa terganggu karena harus bekerja di bawah cuaca yang tidak mendukung ini? Tentu saja mereka menghadapi tingkat kesulitan yang  lebih tinggi dari pada kalau bekerja di luar musim hujan. Tentu biayanya juga lebih tinggi dari pada biaya yang diperlukan kalau dikerjakan di luar musim hujan. Tetapi saya yakin juga bahwa para pelaksana pekerjaan (baca: Kontraktor) sudah memperhitungkan biaya ini dalam biaya yang mereka ajukan kepada pemerintah. Jadi sebenarnya negara mengeluarkan biaya yang seharusnya tidak perlu. Yang semestinya bisa dipakai untuk membiayai hal-hal lain yang diperlukan.

Sunday, October 20, 2013

Taktik Penjual Asuransi Tambahan di Airport Palembang

Di setiap Airport/Bandara, kita sering menjumpai meja/counter yang menawarkan Asuransi tambahan. Saya mengatakan Asuransi tambahan, karena setiap beli tiket pesawat terbang, kita sudah dapat asuransi. Anda boleh membeli asuransi tambahan, boleh juga tidak membeli lagi. Sekarang di banyak Bandara sudah dipasang tulisan yang menjelaskan bahwa asuransi yang ditawarkan di meja/counter tsb adalah Asuransi tambahan/Tidak wajib. Sayang sekali, di Airport/Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang tidak ada tulisan yang menjelaskan bahwa asuransi yang ditawarkan di meja/counter tsb adalah Asuransi tambahan/Tidak wajib. Asuransi tambahan di Palembang Airport 2

Saya juga tidak suka dengan cara para penjual asuransi tambahan tsb. dalam menawarkan asuransinya. Sewaktu kita akan masuk ke ruang tunggu, mereka mengatakan "Tiketnya, Pak?" "Tiketnya, Bu.?" Saya lihat ada beberapa penumpang yang akan masuk ruang tunggu menurut dan mampir dulu ke meja/counter yang menawarkan Asuransi tambahan ini. Saya yakin, ini karena penumpang-penumpang itu mengira mereka wajib membeli lagi asuransi tambahan, bukan karena memang berkeinginan menambah asuransi yang sudah termasuk dalam harga tiket pesawat.

Ini suatu taktik yang manjur untuk menipu penumpang-penumpang yang baru pertama naik pesawat terbang. Para penumpang ini akan mengira, bahwa mereka wajib membeli asuransi tambahan. Sebuah cara dagang yang tidak terpuji dan tidak patut ditiru.Asuransi tambahan di Palembang Airport 3

Mengapa PT Angkasa Pura II selaku pengelola Airport/Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II membiarkan hal ini?

Thursday, April 18, 2013

Jangan Kurangi Subsidi BBM, Naikkan Pajak Kendaraan Pribadi

Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah mencapai Rp 193,8 triliun, dan subsidi tersebut 77 % dinikmati oleh yang mampu/ yang tidak layak menerima subsidi, kata Wakil Menteri ESDM, Jero Wacik. Karena itu, pemerintah sedang berencana mengurangi subsidi BBM. Pemerintah akan melakukan pengendalian konsumsi BBM bersubsidi, salah satunya melalui kebijakan pemberlakuan dua harga atau dual pricing. Harga BBM bersubsidi untuk kendaraan roda dua dan angkutan umum diusulkan tidak naik. Opsi dua harga BBM bersubisidi ini dianggap lebih mudah dari sisi pengawasan. BBM Subsidi Untuk Mobil Mewah

Meskipun subsidi BBM semakin membebani APBN dan dianggap salah sasaran, seharusnya pemerintah tidak perlu menerapkan dua harga BBM. Cara yang lebih efektif dan tidak merepotkan adalah dengan menaikkan tarif pajak kendaraan (pribadi) bermotor dan dibuat progresif sesuai tingkat konsumsi / volume mesin. Mengapa?

  • Makin banyak jumlah kendaraan bermotor, makin banyak konsumsi BBM.
  • Pajak progresif mengkompensasi subsidi yang dianggap salah sasaran. Meskipun ada orang kaya yang membeli BBM bersubsidi, tidak apa-apa, karena dia telah dikenakan pajak kendaran yang lebih tinggi.
  • Pendapatan negara dari penerimaan pajak meningkat, sehingga dapat dipakai membiayai transportasi umum yang lebih manusiawi.
  • Harga kendaraan pribadi makin mahal, laju pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi berkurang.
  • Dengan berkurangnya laju pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi, kemacetan jalan lebih mudah diatasi (macet juga penyebab kendaraan makin boros BBM).
  • Memotivasi ekspor kendaraan bermotor, sehingga produsen otomotif tidak cuma jadi jago kandang.
  • Tidak perlu repot mengawasi SPBU. Tidak perlu impor Radio-frequency identification (RFID) dari Cina.
  • Tidak perlu repot memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT).
  • Tidak perlu repot menangani unjuk rasa protes kenaikan harga BBM. Kalaupun ada unjuk rasa protes kenaikan harga mobil pribadi :) , jumlah pendemonya pasti sedikit.

Apakah pemerintah berani menaikkan tarif pajak kendaraan (pribadi) bermotor ?

Saturday, July 7, 2012

Dilarang Melarang Secara Sewenang-wenang

Tanggal 1 Juli 2012 adalah HUT POLRI ke 66. Lagu yang lazim dinyanyikan pada hari ulang tahun adalah lagu Selamat Ulang tahun, lagu Panjang Umurnya atau semacamnya. Tetapi pada HUT POLRI tahun ini, saya kira yang paling pas adalah lagu Dilarang Melarang ciptaan Rhoma Irama.

Kalau ada melewati Jalan Patimura dari arah utara, di dekat Wisma Bhayangkara sebelum Under Pass di perempatan Jalan Trunojoyo, Anda akan melihat rambu lalu lintas yang melarang Anda melewati Jalan itu, kecuali jika Anda menuju ke Mabes POLRI.

Dilarang lewat kecuali ke Mabes Polri 1.jpg

Padahal rambu lalu lintas tersebut ada di Jalan Patimura yang merupakan Jalan Umum.

Dilarang lewat kecuali ke Mabes Polri 2.jpg

Masih di lokasi yang sama. Pada arah yang berlawanan Anda akan juga dapat menjumpai sebuah rambu yang melarang pejalan kaki untuk lewat. Padahal jalan ini adalah Jalan Umum (lokasinya kira-kira di jalan yang berseberangan dengan Kementerian PU).

Pejalan kaki dilarang lewat.jpg

Ke dua rambu-rambu larangan itu ada di jalan umum. Bukan di dalam lingkungan Mabes POLRI.

lokasi rambu sewenang2.jpg

Jadi apa wewenang POLRI membuat larangan itu?

Tuesday, April 10, 2012

Raung Sirine di Tengah Kemacetan

Pada malam-malam libur, biasanya saya tidak mau melalui Jalan Kemang, Jakarta Selatan. Jalan ini selalu macet parah, pada malam Sabtu, Minggu dan libur nasional. Namun, Sabtu malam, tanggal 7 April '12, saya mengulangi lagi kesalahan saya dengan melalui jalan yang selalu macet ini.
Antrian panjang kendaraan sudah dimulai sejak memasuki pertigaan antara Jalan Kemang dan Jalan Pangeran Antasari. Setelah "merayap" sampai mendekati perempatan dekat MacDonald, saya dengar raungan sirine. Mobilnya memang belum tampak, tapi saya mengira sirine itu dari mobil ambulan sedang membawa orang sakit. Kendaraan-kendaraan disekitar saya tampak seperti berusaha memberi jalan.
Ternyata suara sirine itu berasal dari sebuah kendaraan sejenis Multi Purpose Vehicle berwarna silver. Saya tidak dapat melihat merknya. Yang jelas mobil itu, berplat nomor warna hitam dan tidak tampak seperti ambulan, mobil polisi ataupun mobil pemadam kebakaran. Menurut yang saya baca di artikel yang bersumber dari  Komisi Kepolisian Indonesia, sirine hanya dapat digunakan oleh (PP No.43 tahun 1993, pasal 72).:
  1. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas, termasuk kendaraan yang diperbantukan untuk keperluan pemadam kebakaran
  2. Ambulan yang sedang mengangkut orang sakit.
  3. Kendaraan jenazah yang sedang mengangkut jenazah.
  4. Kendaraan petugas penegak hukum tertentu yang sedang melaksanakan tugas
  5. Kendaraan petugas pengawal kendaraan Kepala Negara atau pemerintah asing  yang menjadi tamu negara.
Dijelaskan juga bahwa tidak semua kendaraan boleh dilengkapi sirine. Pada PP 44 Tahun 1993, pasal 75 disebutkan bahwa sirine hanya boleh dipasang pada kendaraan tertentu, yaitu:
  1. Petugas penegak hukum tertentu
  2. Dinas pemadam kebakaran
  3. Penanggulangan bencana
  4. Kendaraan ambulan
  5. Unit palang merah
  6. Mobil jenazah

Jadi apa hak mobil ini meminta prioritas ditengah kemacetan lalu-lintas? Sayang sekali, waktu itu saya tidak terpikir untuk memotret ataupun mencatat nomor polisi mobil ini. Ingin sekali saya menayangkan foto mobil yang telah sewenang-wenang merampas hak saya dan para pemakai jalan yang tengah “merayap” ini.
Menurut talk show di Radio One, dampak penggunaan sirine semacam ini, antara lain  pengguna jalan menjadi tidak peduli dengan suara sirine, yang justru dipergunakan oleh petugas yang berwenang.  Seringkali ambulance, pemadam kebakaran, polisi dan aparat lain yang berwenang menggunakan sirine justru tidak digubris.
Jadi seharusnya polisi bertindak tegas terhadap pemakaian sirine oleh pihak yang tidak berhak.

Sunday, March 11, 2012

Tempat Merokok di Bis

Perda Larangan Merokok sudah sejak lama diberlakukan di DKI Jakarta. Meskipun jumlahnya makin sedikit, kadang-kadang masih ada juga yang merokok di tempat-tempat umum, termasuk di antaranya di Bis kota dan angkutan umum.
Kopaja P20 ini sepertinya ingin agar para penumpangnya tidak terganggu oleh asap rokok, namun tampaknya juga tidak ingin melarang perokok (mungkin karena sebagian dan bahkan umumnya pengemudi dan kondekturnya juga perokok). Karena itu, mereka berinisiatif memasang tanda BILA INGIN MEROKOK DI DEPAN.
Di deretan kursi depan Kopaja P20 ini, para perokok akan bebas menghirup tembakau dan mungkin juga berbagi rokok.

Tuesday, June 9, 2009

Penipuan via SMS Kembali Marak?

"...jika konsumen mendapatkan SMS yang berisi bahwa konsumen mendapat hadiah, hendaknya segera diklarifikasi ke call center/customer care operator, dan bukan klarifikasi ke nomor pengirim SMS, mengingat meski dengan mencantumkan nama operator, pengirim menggunakan nomor pribadi yang mungkin saja bukan pihak yang berwenang memberitahukan nama-nama pemenang ataupun memang berniat mengelabui konsumen," demikian tulis detikinet.com hari ini, dengan judul Awas! Penipuan via SMS Kembali Marak

Yang saya tidak mengerti adalah mengapa pihak berwajib tidak bisa menangkap pelakunya, padahal pemerintah telah mewajibkan setiap nomor ponsel (meskipun prabayar) harus diregistrasi? Yang makin membuat saya tidak mengerti lagi bahwa konon pihak berwajib juga kesulitan menangkap pelaku penipuan yang memakai nomor ponsel pasca bayar, padahal nomor ponsel pasca bayar adalah nomor yang sudah sangat jelas siapa pemiliknya.

Saya memang pernah beberapa kali mendapat SMS seperti di atas, dan biasanya langsung saya hapus. Mana mungkin saya percaya bahwa saya mendapat hadiah? Ikut undian atau program berhadiah saja nggak pernah (sudah kapok, karena nggak pernah dapat).

Saya berdoa semoga saya tetap tidak tergoda oleh SMS penipu, semoga pihak berwajib dapat menangkap semua penipu-penipu itu, semoga pihak berwajib tidak tersinggung, semoga penipu-penipu itu juga tidak tersinggung karena tulisan di blog ini dan menuduh saya mencemarkan nama baik mereka dan melanggar Undang Undang Internet dan Transaksi Elektronik, Amin!

Thursday, June 4, 2009

BEBASKAN IBU PRITA MULYASARI!

banner-prita-468x601.gif

Bukan kebiasaan saya menulis judul posting dengan huruf besar semua. Juga bukan kebiasaan saya untuk langsung mendukung atau menentang salah satu pihak yang berperkara. Namun untuk soal Ibu Prita Mulyasari vs RS Omni saya terpaksa melanggarnya. Alasannya sederhana: mendukung Ibu Prita Mulyasari sama pentingnya dengan mendukung hak2 kita sebagai konsumen. ...dan juga kebebasan menulis di blog.

BEBASKAN IBU PRITA MULYASARI!

Sunday, November 16, 2008

Anak Berdalih Ibu Ditagih

Konon, Roosmiah Bakrie, ibunda Aburizal Bakrie pernah berpesan kepada Ical: "Janganlah kau sia-siakan korban lumpur. Kau harus berikan ganti rugi," seperti dikutip oleh Vice Presiden PT Minarak Lapindo Brantas, Andi Darusalam Tabusala, sewaktu menyerahkan kunci kepada 100 korban lumpur Lapindo tahun 2007 lalu. Pagi ini, para korban Genangan Lumpur Lapindo Sidoarjo menemui ibunda Aburizal Bakrie, Menkokesra untuk menagih utang anaknya. Para korban Lapindo datang karena adanya keterlambatan pembayaran ganti rugi yang seharusnya dibayarkan PT Minarak Lapindo Brantas sejak Juli lalu. "Kami harap ibu mereka mau menasehati anaknya agar membayar utang untuk rakyat miskin," ujar Marwan, salah satu korban Lapindo.

Dengan berjalan kaki menuju rumah di Jalan Mangunsarkoro 42, Jakarta, mereka membawa oleh-oleh berupa hasil bumi. Namun kedatangan mereka tidak mendapat sambutan yang baik dari tuan rumah. Pagar rumah tinggi terkunci rapat dan dijaga beberapa orang. Akhirnya mereka pulang. Oleh-oleh sayur-sayuran dan pisang mereka letakkan di depan pagar.

Aburizal Bakrie pernah mengatakan bahwa penanggung jawab banjir lumpur di Sidoarjo adalah PT Lapindo Brantas. "Lapindo Brantas yang harus bertanggung jawab dan menangani teknis kerusakan disana," kata Aburizal, Rabu, 21 Juni 2006. Ia tidak tahu bagaimana Lapindo akan menangani bencana ini. "Tanyakan saja ke (Nirwan) Bakrie," katanya, "Jangan tanya saya, saya kan Menko Kesra."

Namun Aburizal Bakrie kemudian mengatakan, PT Lapindo Brantas (anak perusahaan Grup Bakrie) sudah bermurah hati bersedia membayar lahan dan rumah warga yang terdampak semburan lumpur meskipun tidak dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Pernyataan ini kemudian dikecam oleh YLBHI. Menurut Direktur Riset dan Pengembangan YLBHI Zainal Abidin, Aburizal Bakrie tidak cermat dalam membaca putusan PN Jakarta Pusat di mana majelis hakim jelas-jelas menyatakan bahwa semburan lumpur Lapindo diakibatkan karena kekurang hati-hatian Lapindo. Karena, kata dia, dalam pengeboran belum terpasang cassing/pelindung secara keseluruhan sehingga terjadi kick kemudian terjadi luapan lumpur.

"Pemerintah, sebagaimana diutarakan oleh Joko Kirmanto justru terjebak pada skenario bahwa Lapindo tidak bersalah tanpa melakukan kesungguhan untuk melakukan investigasi melalui aparatnya (polisi) untuk kemudian membawa kasus ini ke pengadilan," kata Zainal.

Semula saya menyambut gembira dengan masuknya para pengusaha dalam jajaran pemerintah dan kabinet. Saya tadinya berpikir mereka tidak bakal tergoda untuk korupsi atau memperkaya diri memanfaatkan jabatan (karena sudah kaya). Saya juga berharap kepiawaian mereka dalam berbisnis dapat menutupi kelemahan birokrasi dan memperbaiki manajemen pemerintah. Tetapi ternyata........

Monday, October 27, 2008

Sopan Santun Kepada Produk Bermelamin

Hebat sekali produk Cina! Sudah jelas mengandung melamin dan berbahaya, masih minta diperlakukan dengan sopan santun. Bukan hanya wartawan, bahkan menteri dan Presiden jadi repot dibuatnya. Hari ini, Senin (27/10/2008), rencananya akan dilakukan pemusnahan produk bermelamin asal China di halaman Kantor BPOM, Jl Percetakan Negara, Jakarta Pusat, pukul 10.00 WIB. Namun setelah wartawan menunggu dua setengah jam, Menkes mengumumkan pemusnahan batal dilakukan: "Mohon maaf karena pertimbangan tertentu, pemusnahan tidak jadi dilaksanakan". Konon atasan Menkes tidak mengizinkan pemusnahan ini. Namun Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng membantah : "Presiden SBY tidak pernah memberi instruksi seperti itu" . Wah kasihan, mana mungkin Ibu menteri membantah atasannya? Ketua Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Husniah Rubiana Thamrin menjamin:"Ibu menteri kan tadi sudah jelaskan, ini kan soal sopan santun saja, tapi yang jelas kita akan bakar, karena itu kewajiban pemerintah untuk melindungi masyarakat dari bahaya bahan-bahan makanan yang mengandung melamin. Yang jelas itu pasti kita musnahkan, tapi tidak untuk dipublikasikan." Ada apa ini..???

oduk-produk mengandung susu bermelamin asal Cina (dari http://www.kompas.com/)
Produk-produk mengandung susu bermelamin  asal Cina

Polisi mengawal persiapan pemusnahan produk bermelamin

Polisi mengawal persiapan pemusnahan produk bermelamin (dari http://images.kompas.com/)

Tuesday, October 21, 2008

Gangguan Kesehatan Jiwa Menimpa 50 Juta Orang Indonesia

Kesehatan jiwa sudak waktunya mendapat perhatian serius, karena dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Menurut studi Bank Dunia tahun 1995, hari-hari produktif ’yang hilang atau Dissabiliiy Adjusted Life Years (DALY’s) akibat masalah kesehatan jiwa mencapai 8,1% dari Global Burden of Disease, Angka ini lebih tinggi dari yang disebabkan penyakit lain, mislanya TBC (7,2%), Kanker(5,8%), Penyakit Jantung (4,4%) dan Malaria (2,6%).

Jumlah penderita gangguan kesehatan jiwa di Indonesia ternyata tidak kecil. Satu dari empat warga Indonesia menderita gangguan kesehatan jiwa, Demikian kata Dirjen Pelayanan Medik (Yanmedik) Departemen Kesehatan Dr Farid Husein , Selasa (21/10/2008). Hal yang sama pernah juga diungkapkan Prof Dr Dadang Hawari , mantan Ketua Persatuan Dokter Jiwa Indonesia berkaitan dengan hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober.

Secara persentasi angka di atas tidak berbeda dengan kondisi tahun 1995. Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SK-RT) Badan Litbang Departemen Kesehatan tahun 1995 diperkirakan terdapat 264 dari 1000 anggota Rumah Tangga menderita gangguan kesehatan jiwa. Jadi, kalau seandainya benar bahwa pemerintah menyatakan berhasil menurunkan angka kemiskinan, ternyata tidak demikian halnya dengan angka gangguan kesehatan jiwa. Jumlah penduduk kita diperkirakan 234.693.997 orang (data tahun 2007). Jadi, memakai perkiraan Dr Farid Husein dan Prof Dr Dadang Hawari, total yang kena gangguan jiwa bisa lebih dari 50 juta orang. Wah, yang jadi pemerintah apa nggak repot ngurusin 50 juta orang kurang sehat jiwa?

Tuesday, September 2, 2008

TransJakarta (Busway): Dulu dan Kini

Saya adalah satu di antara sekian banyak penduduk Jakarta yang jarang menggunakan TransJakarta (Busway). Mungkin malah lebih jarang dari beberapa teman yang tinggal di luar Jakarta, karena mereka bilang selalu menyempatkan naik Busway setiap kali liburan atau sedang ada tugas di Jakarta. Maklum, di daerah mereka tidak ada Busway. Namun, karena jarang menggunakan Busway, saya justru dapat merasakan perbedaan antara TransJakarta saat ini dengan TransJakarta di waktu-waktu awal beroperasinya.

Perbedaan yang paling saya rasakan adalah sikap petugas penjual tiket Busway. Di awal beroperasinya, mereka selalu mengucapkan kata Terima Kasih setiap kali menerima uang pembayaran. Di saat ini, jarang sekali kita dengar mereka mengucapkan kata Terima Kasih. Untunglah pada beberapa halte yang memakai tiket karcis/kertas, petugas penyobek karcis masih sering mengucapkan Terima Kasih setelah menyobek karcis. ;-)

Perbedaan lain adalah, di waktu awal beroperasinya pengereman Busway saya rasakan lebih halus. Sedangkan di saat ini, tidak jarang penumpang terhuyung-huyung ketika Busway direm. Entah karena perangkat rem Busway sudah tidak berfungsi sebaik di waktu lalu atau dikarenakan cara pengemudi Busway menginjak rem yang tidak sehalus di waktu lalu.

Di awal beroperasinya, saya dapat mengandalkan pemberitahuan "Pemberhentian berikutnya, halte @@@ ....... hati-hati melangkah. Next stop @@@ .... step carefully." . Di saat ini, memang masih bisa kita dengar pemberitahuan tersebut, tetapi tidak sedikit juga yang tidak berfungsi. Masih mending, kalau petugas / kondektur rajin memberitahukan pemberhentian-pemberhentian berikutnya. Kadang-kadang kondektur tidak memberitahu. Mungkin menganggap semua penumpang sudah tahu.

Perbedaan lain yang saya amati adalah, saat ini Busway kadang berhenti tidak pada posisi yang seharusnya, sehingga posisi pintu halte tidak pas dengan posisi pintu Busway. Hal ini sering menyulitkan penumpang yang akan keluar dan masuk Busway. Terlebih lagi kalau Jarak antara Busway dengan halte terlalu jauh. Bayangkan kalau ada penumpang yang terperosok di antara lantai halte denga lantai Busway!

SELAMAT HARI PELANGGAN NASIONAL, 4 SEPTEMBER 2008