Wednesday, December 30, 2015
Terbang dengan Batik Air...... Tidak Sempat Reservasi Hotel
Satu hal lagi yang saya kurang suka dari Batik Air adalah terlalu awal (terlalu cepat) menyuruh penumpang masuk ke pesawat. Inilah yang saya alami waktu ke Semarang dengan Batik Air ID 6352 tgl 6 Agustus 2015.
Jadwal penerbangan Batik Air ID 6352 pada tgl 6 Agustus 2015 itu adalah jam 19:50. Saya Check in di terminal 1 C Soekarno Hatta pada jam 18:30, Petugas Check in mengatakan bahwa waktu boarding pada jam 19:20, di Gate C7.
Pada sekitar jam 19:00 saya ingat bahwa saya belum reservasi hotel. Saya segera membuka laptop untuk reservasi hotel Ibis Semarang. Tiba-tiba saya mendengar announcement, meminta penumpang Batik Air ID 6352 tujuan Semarang untuk masuk ke pesawat melalui pintu 7. Karena ini adalah announcement agar masuk ke pesawat (bukan agar masuk ruang tunggu), maka saya mengira jadwal penerbangan Batik Air ID 6352 dimajukan. Meskipun belum sempat reservasi, saya segera mematikan laptop dan bergegas menuju gate 7, kemudian masuk pesawat. Begitu tergesa-gesanya, saya keliru menempati tempat duduk. Seharusnya saya di seat 6A, tapi saya duduk di seat 6F. Namun begitu saya akan pindah ke seat 6A, saya lihat seat itu sudah ditempati. Jadi saya tetap duduk di 6F. (seat belt di seat no 6F inilah yang tidak menghadap pada arah yang semestinya atau "melintir")
Karena sudah banyak penumpang yang masuk pesawat, saya mengira sebentar lagi pesawat akan berangkat. Ternyata saya keliru, Pesawat masih diam di landasan, dan saya lihat beberapa penumpang baru masuk sampai beberapa puluh menit kemudian. Baru pada jam 19:50 pesawat Batik Air ID 6352 take off. Jadi saya dan para penumpang menunggu dalam pesawat selama tiga perempat jam. Sedangkan air condition dalam pesawat waktu menunggu tsb. kurang dingin, sehingga saya dan para penumpang merasa kurang nyaman.
Setelah sampai di Bandara Ahmad Yani Semarang, saya segera menelpon Hotel Ibis Semarang untuk reservasi. Staf Hotel Ibis mengatakan bahwa reservasi sudah ditutup, dan hanya tinggal tersedia 3 kamar lagi. Staf Ibis tidak bisa menjanjikan bahwa saya akan mendapat kamar di Ibis malam ini. Dia menyarankan agar saya secepatnya datang ke Hotel Ibis agar kamar tidak diambil tamu yang datang lebih dulu. Dari seorang teman, saya dapat info bahwa di Semarang memang sedang ada event kebudayaan, jadi banyak hotel-hotel yang penuh.
Karena hari sudah malam (jam 21:00), di perjalanan ke Hotel Ibis, saya berharap-harap cemas dan khawatir tidak mendapat kamar hotel malam ini. Andai saja Batik Air tidak terlalu awal (terlalu cepat) menyuruh penumpang masuk ke pesawat. tentu saya masih sempat reservasi hotel sebelum berangkat ke Semarang. Untunglah setelah saya sampai di Hotel Ibis, saya masih mendapat kamar. Beberapa waktu kemudian saya lihat crew Batik Air ID 6352 tiba di Hotel Ibis. Ternyata mereka juga menginap di sini.
Sunday, August 9, 2015
KAHA, I want my 75 minutes back!
Hari itu, sekitar jam 5 sore saya menelpon KAHA (02129295300) untuk reservasi Hotel Ibis Semarang. Staf KAHA memberi saya nomor kode booking 018500345, dan mengatakan akan mengirimkan SMS konfirmasi ke ponsel saya. Sayapun menunggu dengan harapan segera mendapat SMS konfirmasi dari KAHA.
Setelah menunggu setengah jam (17:30) dan tidak ada SMS konfirmasi, saya menelpon KAHA untuk menanyakannya. Staf KAHA mengatakan SMS konfirmasi akan segera dikirim dan meminta saya menunggu lagi.
Seperempat jam kemudian, (17:45) saya menelpon KAHA lagi, karena belum ada SMS konfirmasi. Staf KAHA masih meminta saya menunggu lagi.
Setelah saya tunggu sampai setengah jam kemudian (jam 19:15), tetapi saya masih belum juga dapat SMS konfirmasi. Sayapun kembali menelpon KAHA. Sungguh di luar dugaan, Staf KAHA mengatakan, Hotel yang saya pesan tidak tersedia/penuh.
Saya sungguh tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti ini setelah menunggu lebih dari satu seperempat jam. Kalau Hotel yang saya pesan tidak tersedia/penuh mengapa setiap saya menelpon, KAHA meminta saya untuk terus menunggu? Mengapa tidak sedari tadi KAHA memberi tahu bahwa Hotel yang saya pesan tidak tersedia/penuh? KAHA sngguh tidak menghargai waktu saya dengan menyia-nyiakan waktu saya selama satu seperempat jam hanya untuk memberitahukan bahwa Hotel yang saya pesan tidak tersedia/penuh.
Kalau layanan KAHA seperti ini, saya ragu KAHA akan bertahan dengan makin banyaknya penyedia layanan reservasi hotel di internet.
KAHA, I want my 75 minutes back!

Sunday, February 1, 2015
Mengapa Garuda Kembali Memisahkan Airport Tax dari Harga Tiket?
Senin, 26 Januari 2015, saya akan berangkat ke Pontianak. Sewaktu Check in di counter Garuda di Bandara Soekarno Hatta, petugas Check in meminta saya membayar Airport Tax. Saya tidak menduga hal ini, karena setahu saya harga tiket Garuda sudah termasuk Airport Tax. Sewaktu membeli tiket Jakarta-Pontianak pulang-pergi, saya mengira Airport Tax sudah termasuk dalam harga tiket yang saya bayar. Tetapi petugas Check in mengatakan bahwa Airport Tax belum termasuk dalam harga tiket yang saya beli. Akhirnya saya bayar Rp 40 ribu, dan petugas Check in lalu menempelkan stiker Airport Tax di Boarding Pass saya.
Setelah tiba waktu boarding, saya antri bersama para penumpang lain. Sewaktu saya menunjukkan Boarding Pass, petugas boarding bukannya segera menyilakan saya masuk, tetapi malah menahan saya dan bertanya: "Tadi Bapak Check in di mana?" Saya merasa aneh, karena penumpang-penumpang lain bisa langsung masuk dan tidak ada yang ditanya. Saya juga heran dengan pertanyaan "... Check in di mana?", jadi saya jawab sekenanya: "Di Garuda". (La iya lah.. tiket saya tiket Garuda, masa saya check in di maskapai penerbangan lain?) Terdorong rasa heran, sayapun bertanya: "Memangnya ada apa?" petugas boarding menjawab: "Airport Tax-nya belum masuk ke sistem". Saya sudah siap-siap untuk protes kalau sampai saya tidak boleh masuk pesawat. Saya akan mengatakan, Stiker di boarding pass adalah bukti saya sudah bayar Airport Tax.......soal Airport Tax belum masuk ke sistem bukan urusan saya.... Tetapi ternyata petugas boarding membolehkan saya masuk pesawat. Jadi rencana protes dan ngomel saya batalkan .....
Saya heran, mengapa Garuda kembali memisahkan Airport Tax dari harga tiket? Setahu saya Garuda adalah maskapai penerbangan pertama yang (kembali) menyatukan Airport Tax dengan harga tiket. Saya menyebut "kembali", karena dahulu harga tiket sudah termasuk Airport Tax, yaitu pada waktu belum ada LCC, ketika industri penerbangan kita hanya dilayani oleh Garuda, Bouraq, Mandala, dan Merpati.
Pemisahan Airport Tax dari harga tiket merepotkan penumpang. Belum lagi kalau kita mengalami kejadian di waktu Boarding seperti yang saya ceritakan di atas. Seharusnya semua maskapai penerbangan menyatukan Airport Tax dalam harga tiket. Selain merepotkan penumpang, pemisahan Airport Tax dari harga tiket juga merupakan tambahan beban biaya bagi Angkasa Pura karena harus mencetak stiker tanda pembayaran Airport Tax dan menyiapkan petugas penerima pembayaran Airport Tax.
Saturday, September 13, 2014
Antara Florence, @Kemalsept, Prita, Inna Savova dan Saya
Awal September 2014, saya dapat tugas ke Semarang. Saya sengaja mencari tempat menginap di sebuah hotel di dekat Simpang Lima, terutama karena di kawasan ini kita mudah sekali untuk mencari penjual makanan meskipun pada larut malam. Simpang lima Semarang adalah pertemuan dari lima jalan, yaitu Jl. Pahlawan, Jl. Pandanaran, Jl. Ahmad Yani, Jl. Gajah Mada dan Jl A Dahlan. Di sekitarnya berdiri hotel-hotel berbintang dan pusat perbelanjaan. Simpang lima Semarang merupakan ruang terbuka yang biasa digunakan oleh masyarakat Semarang untuk beraktifitas. Simpang Lima sepertinya menjadi Land Mark kota Semarang, karena pusat kegiatan dan keramaian berada disini.
Suatu hari saya berjalan kaki mengitari Simpang Lima. Saya senang bahwa Pemerintah Kota Semarang menyediakan Zebra Cross -termasuk untuk menyeberang ke lapangan yang menjadi pusat Simpang Lima. Adanya Zebra Cross ini sangat membantu saya yang agak paranoid soal menyeberang jalan. Namun saya terkejut sewaktu akan menyeberang Jalan Ahmad Yani (di sisi selatan Plaza Matahari). Di Jalan ini memang ada Zebra Cross, tetapi di tengahnya ada pagar yang menghalangi penyeberang jalan. Penyeberang harus membungkuk untuk melewati celah di pagar ini. Karena celah ini sempit, penyeberang jalan yang berbadan besar atau yang gemuk akan kesulitan melewatinya. Zebra Cross terhalang pagar, sungguh kontradiktif.
Saya hampir saja mengunggah foto Zebra Cross yang dihalangi pagar ini ke akun Facebook saya. Saya juga hampir menuliskan kalimat bernada keluhan. Tetapi hal itu tidak jadi saya lakukan. Saya khawatir akan mengalami hal sama dengan Florence Sihombing yang ditahan karena dianggap menghina Jogja. Saya juga khawatir mengalami hal sama dengan dengan @kemalsept yang dilaporkan oleh Ridwan Kamil ke Polisi karena dianggap menghina Bandung.
Nasib Florence Sihombing dan @Kemalsept tidak sebaik Prita Mulyasari. Meskipun Prita ditahan dan diadili, tetapi dia mendapat dukungan dan pembelaan dari para pengguna media sosial. Yang saya belum dapat mengerti adalah mengapa perlakuan terhadap Inna Savova jauh lebih baik dari pada terhadap Florence Sihombing, @Kemalsept dan Prita. Inna Savova menyebut Bandung sebagai City of Pigs. Tetapi Inna Savova tidak dilaporkan ke Polisi. Walikota Bandung, Ridwan Kamil menanggapi santai soal blog Inna Savova yang menyebut Bandung 'The City of Pig'. Ia justru mengajak warga Bandung introspeksi terkait urusan sampah tersebut. Inna Savova sepertinya juga tidak penah membuat pemintaan maaf. Meskipun demikian tidak ada pihak yang menuntut atau melaorkan Inna Savova ke pihak penegak hukum. Ini berbeda dengan Florence, meskipun sudah membuat permintaan maaf, gabungan LSM dan sekelompok masyarakat melaporkan Florence Sihombing kepada Polda DIY. Florence dianggap menimbulkan kebencian, luka hati dan permusuhan terkait SARA di Jogja. Florence ditahan pada Sabtu (30/8) lalu mulai pukul 14.00.
Sebenarnya saya ingin sekali mengunggah foto Zebra Cross yang dihalangi pagar ini ke akun Facebook saya. Saya ingin sekali menulis kalimat seperti: "...Zebra Cross terhalang pagar di Simpang Lima Semarang ...." atau "..Jangan halangi penyeberang jalan.." atau "...Pemerintah Kota Semarang perlu lebih memperhatikan keperluan penyeberang jalan dan pejalan kaki......." Saya ingin sekali Walikota Semarang menanggapinya dengan santai dan mengatakan akan introspeksi, seperti yang dilakukan Ridwan Kamil terhadap tulisan Inna Savova. Namun saya tidak terlalu yakin bahwa Walikota Semarang akan menanggapi tulisan saya dengan cara yang sama seperti Ridwan Kamil menanggapi tulisan Inna Savova: Bandung 'The City of Pig'.
Saturday, February 8, 2014
Semanggi Suroboyo. Kuliner yang Sulit Dijumpai di Luar Surabaya
Pertengahan Januari 2014, saya ke Surabaya. Saya pernah tinggal cukup lama di Surabaya, dan banyak kuliner khas Jawa Timur yang saya sukai. Namun waktu itu saya tidak terlalu berharap akan dapat menikmati Semanggi Suroboyo. Nama Semanggi Suroboyo tidak cukup familiar dalam ingatan saya. Saya lebih kenal nama-nama kuliner Jawa Timur seperti Tahu Campur, Pecel Madiun, Tahu tek, Soto Sulung, Rujak Cingur, Lontong Kikil, Sate Kelopo, Rawon (termasuk Rawon Setan :) ) dll., Kuliner-kuliner seperti itu sudah banyak kita jumpai di luar Jawa Timur, sedangkan Semanggi Suroboyo sepertinya hanya ada di Surabaya.
Tetapi, siang itu sewaktu sedang jalan di komplek dosen ITS di daerah Sukolilo, saya mendengar suara "Semanggiiiiiiiiiiii......!". Suara itu datang dari seorang ibu gemuk dengan barang bawaan di punggung dan di atas kepalanya. Saya jadi ingat ke masa entah berapa tahun yang lalu saya terakhit menyantap Semanggi Suroboyo. Saya tidak ingin menyianyiakan kesempatan menikmati kuliner khas Surabaya ini.
Kebetulan saya sedang berada dekat sebuah pos Satpam yang sedang kosong. Saya memanggil ibu penjual Semanggi Suroboyo itu. Tetapi penjual Semanggi itu malah bilang:"Nanti dulu, ya Mas?", dan menghampiri pintu pagar sebuah rumah di depan Pos Satpam, dan berteriak lagi "Semanggiiiiiiiiiiii......!". Kemudian seorang perempuan keluar dari rumah itu, membawa sebuah piring. Ibu penjual semanggi itu, lalu membuatkan Semanggi untuk perempuan itu. Rupanya dia adalah pelanggan tetap. Jadi saya harus menunggu setelah Ibu penjual semanggi selesai melayaninya.
Siang itu saya menikmati "sepincuk" semanggi di emperan sebuah pos Satpam. Saya sempat agak kebingungan, karena ibu penjual Semanggi tidak punya sendok. Akhirnya saya coba menggunakan kerupuk yang disajikan di Semanggi ini, menjadi "sendok". Meski canggung, akhirnya saya berhasil juga menghabiskan "sepincuk" semanggi ini memakai "sendok" berupa pecahan kerupuk :)
Bagi yang belum kenal Semanggi Suroboyo, saya gambarkan bahwa makanan ini bahan utamanya adalah daun semanggi ditambah sayuran lain. (Saya sendiri tidak tahu, bagaimana bentuk pohon Semanggi, dan apa nama/sebutannya dalam bahasa daerah lain. Disajikan dengan bumbu yang mirip bumbu pecel, tapi rasanya beda dengan bumbu pecel, semuanya sayuran, tidak pakai nasi atau lontong. Semanggi hampir selalu disajikan di atas daun (dalam bahasa Surabaya disebut "pincuk") dan selalu dilengkapi kerupuk berukuran besar.
Mengapa Semanggi Suroboyo. sulit dijumpai di luar Surabaya? Saya pernah mendengar bahwa daun semanggi untuk bahan baku Semanggi Suroboyo sekarang semakin susah diperoleh, bahkan di Surabaya sendiri. Saya juga tidak tahu apakah Semanggi merupakan tanaman yang ada kebunnya atau tanaman liar. Tetapi saya tidak yakin, bahwa kelangkaan daun semanggi jadi penyebab Semanggi Suroboyo sulit dijumpai. Justru saya menduga bahwa tidak atau belum banyak orang yang mengenal dan menggemari Semanggi Suroboyo. Kalau banyak orang yang gemar dengan Semanggi Suroboyo, tentu akan banyak yang mau menanam daun semanggi. Saya jug amenduga, Semanggi kurang populer karena dianggap kurang bergengsi atau kurang hygenis. Saya belum pernah menjumpai semanggi di rumah makan atau warung. Sejauh yang saya tahu, Semanggi selalu dijual/dijajakan oleh Ibu-ibu yang berjalan menyusuri pemukiman.
Semoga kuliner khas Surabaya ini tidak punah. Mudah-mudahan ada Arek Suroboyo yang berinisitif menyajikan Semanggi Suroboyo secara lebih hygenis.
Sunday, October 20, 2013
Taktik Penjual Asuransi Tambahan di Airport Palembang
Di setiap Airport/Bandara, kita sering menjumpai meja/counter yang menawarkan Asuransi tambahan. Saya mengatakan Asuransi tambahan, karena setiap beli tiket pesawat terbang, kita sudah dapat asuransi. Anda boleh membeli asuransi tambahan, boleh juga tidak membeli lagi. Sekarang di banyak Bandara sudah dipasang tulisan yang menjelaskan bahwa asuransi yang ditawarkan di meja/counter tsb adalah Asuransi tambahan/Tidak wajib. Sayang sekali, di Airport/Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang tidak ada tulisan yang menjelaskan bahwa asuransi yang ditawarkan di meja/counter tsb adalah Asuransi tambahan/Tidak wajib.
Saya juga tidak suka dengan cara para penjual asuransi tambahan tsb. dalam menawarkan asuransinya. Sewaktu kita akan masuk ke ruang tunggu, mereka mengatakan "Tiketnya, Pak?" "Tiketnya, Bu.?" Saya lihat ada beberapa penumpang yang akan masuk ruang tunggu menurut dan mampir dulu ke meja/counter yang menawarkan Asuransi tambahan ini. Saya yakin, ini karena penumpang-penumpang itu mengira mereka wajib membeli lagi asuransi tambahan, bukan karena memang berkeinginan menambah asuransi yang sudah termasuk dalam harga tiket pesawat.
Ini suatu taktik yang manjur untuk menipu penumpang-penumpang yang baru pertama naik pesawat terbang. Para penumpang ini akan mengira, bahwa mereka wajib membeli asuransi tambahan. Sebuah cara dagang yang tidak terpuji dan tidak patut ditiru.
Mengapa PT Angkasa Pura II selaku pengelola Airport/Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II membiarkan hal ini?
Sunday, December 30, 2012
I Missed The Window Seat
Meskipun begitu, saya selalu memilih tempat duduk di dekat jendela (Window Seat). Ini karena biasanya penerbangan saya hanya penerbangan domestik yang waktunya tidak terlalu lama. Selain itu, saya biasanya ke toilet dulu sebelum waktu boarding. Saya tidak suka memakai toilet di pesawat terbang yang sempit itu, apalagi sewaktu pesawat sedang terguncang karena terbang dalam cuaca kurang baik.
Dengan duduk di dekat jendela (Window Seat), saya bisa leluasa melihat keluar pesawat. Saya suka menikamati pemandangan melalui jendela pesawat, terutama saat take off dan landing. Selain di waktu take off dan landing, pemandangan di luar pesawat memang agak membosankan, karena hanya tampak langit dan awan. Meskipun begitu, kadang-kadang tampak puncak-puncak gunung yang muncul di antara awan. Tidak jarang juga, cahaya matahari senja yang menembus awan membentuk bayangan dan warna yang sangat indah. Kalaupun tidak ada pemadangan yang menarik, dengan duduk di dekat jendela (Window Seat), saya bisa leluasa tidur tanpa terganggu penumpang yang lewat.
Saturday, December 8, 2012
Tidak Mendapat Sinyal SmartFren EVDO di Banjarmasin
Bulan November 2012 yang lalu saya pergi ke Banjarmasin. Setahu saya, SmartFren sudah menjangkau Banjarmasin, seperti yang ditunjukkan pada peta jangkauan di web SmartFren. tetapi setelah tiba di Banjarmasin saya tidak berhasil mendapatkan sinyal. Semula saya mengira Smart memang sedang tidak aktif atau mungkin saya berada di blank spot.
Karena sedang memerlukan koneksi internet, saya mau mengganti kartu SmartFren di Modem dengan kartu CDMA F****. Dulu saya masih sering memakai Kartu CDMA F**** untuk internetan, tetapi sekarang hanya saya pakai untuk menelpon, karena kecepatannya belakangan ini luar biasa sangat amat lambat sekali kalau saya pakai buat internetan di Jakarta (di beberapa tempat di luar Jakarta, kecepatannya masih bisa ditoleransi, antara lain di Surabaya dan Bandung). Sudah berkali-kali masalah ini saya laporkan ke CS F****, tapi tidak pernah ada perubahan.
Dulu saya juga sering memakai Kartu CDMA S***O** untuk internetan. Kecepatan Kartu CDMA S***O** untuk internetan umumnya jauh lebih memuaskan dari pada Kartu CDMA F****. Tetapi belakangan aktivasi paket internet Kartu CDMA S***O** sering kali gagal. Masalah ini juga sudah berkali-kali saya laporkan ke CS S***O**, tapi tidak pernah ada perubahan. Karena itu, Kartu S***O** sudah tidak saya pakai lagi.
Kartu CDMA F**** sekarang memang sudah ada yang EVDO, tetapi Kartu F**** yang saya miliki ini masih CDMA1x. Oleh sebab itu saya harus mengganti setting di Modem ke CDMA1x. Tanpa sengaja, waktu saya mengganti setting di Modem ke CDMA1x, yang di dalam Modem masih kartu SmartFren. Tiba-tiba saya lihat indikator sinyal SmartFren menunjukkan sekitar 80%. Setelah saya coba browsing dan email, ternyata kecepatannya lumayan.
Sepertinya SmartFren di tempat saya masih CDMA1x, sehingga tadi saya tidak dapat sinyal, karena modem selalu saya set di EVDO.
Jadi apakah di Banjarmasin, SmartFren memang masih belum EVDO? Mungkin pengguna SmartFren di Banjarmasin bisa mengkonfirmasi.
Sunday, August 28, 2011
Menginap di Hotel " With Moslem Atmospher"
Kalau ke Bandung, biasanya saya lebih suka menginap di daerah utara. Dago atas, misalnya. Hal ini karena di sini masih lumayan sejuk, dan masih enak buat lari-lari pagi. Saya kira, Anda juga dapat merasakan bahwa Bandung tidak lagi sesejuk di waktu-waktu lalu.
10 Agustus '11 saya ke Bandung, tapi karena ini bulan Ramadhan, saya tidak berencana lari-lari pagi. Lagi pula, tempat kerja saya kali ini di selatan, sekitar jalan Moh. Toha. Jadi saya tidak mencari Hotel di Bandung utara. Yang saya perlukan adalah hotel yang menyediakan sahur dan berdekatan dengan tempat kerja saya.
Setelah searching di Google, saya ketemu nama Hotel Lingga di jalan Sukarno Hatta. Satu yang menarik, hotel ini menyebut dirinya: "For Everyone Who Desire Moslem Atmospher". Jadi saya boleh berharap hotel Lingga ini menyediakan sahur. Sewaktu saya telpon, receptionist mengatakan hotel ini memang menyediakan sahur. Selain itu, kebetulan sekali, selama Ramadhan Hotel Lingga memberi diskon tarif 30%.
Rabu sore, diantar seorang teman, setelah menyusuri Jalan Sukarno Hata dan menengok ke kiri dan ke kanan :) akhirnya kami melihat papan nama Hotel Lingga, di dekat Jalan Cijagra. Tapi kami masih harus terus ke persimpangan Jalan Buah Batu untuk berputar arah, karena Hotel Lingga terletak di kanan jalan kalau kita dari arah Jalan Moh. Toha.
Saya mendapat kamar di lantai 2. Karyawan Hotel Lingga mengantarkan saya melalui koridor yang dihias dengan ornamen berbentuk kubah. Saya mendapat kamar no 212. Wah, jadi ingat "Wiro Sableng" :). Kamarnya cukup lega dan bersih. Lantainya tanpa karpet. Pendingin udaranya tidak tampak baru, tapi berfungsi baik dan tidak berisik. Di dekat jendela ada sofa dan meja yang di atasnya ada air mineral, pemanas air dan juga teh dan kopi buat yg suka menikmati kopi atau teh hangat.
Di dinding kamar juga ada ornamen berbentuk kubah.
Mungkin Ornamen berbentuk kubah ini dimaksudkan untuk memperjelas Moslem Atmospher yang jadi tag line Hotel Lingga. Tetapi ornamen berbentuk kubah ini membuat saya jadi ingat Masjid Salman di ITB yang tidak berkubah. Konon, waktu Presiden Soekarno bertanya, mengapa Masjid Salman tidak berkubah, Sang Arsitek, Ir. Achmad Noe'man menjawab, bahwa dalam Islam yang penting adalah "api" nya. Di majalah Housing Estate Edisi Agustus 2011, Ir. Achmad Noe'man menjelaskan tentang disain Mesjid Salman yang tanpa kubah "....Bentuknya tidak mencontek dari mana-mana. Saya berijtihad tanpa kubah karena memang tidak ada tuntunannya dalam Al Quran".
Sewaktu mandi, air hangat di shower mengalir lancar. Exhaust fan juga berfungsi baik. Tapi sayang agak berisik.
Menjelang waktu berbuka, ada yg mengetuk pintu. Ternyata roomboy Hotel Lingga mengantarkan jus buah. "Untuk buka puasa." katanya.
Sekitar jam 3 pagi, telpon berdering, Staf Hotel Lingga memberitahu bahwa sahur sudah siap. Biasanya di Jakarta saya sahur setelah jam 3:30, tapi saya khawatir waktu Imsak di Bandung lebih cepat dari Jakarta. Karena itu saya segera Ke cofee shop. Ternyata di sana sudah ada antrian panjang para tamu yang mau makan sahur.
Biasanya saya selalu menyantap buah-buahan sebelum makan nasi. Tetapi karena ikut antrian, saya terpaksa membalik urutan ini. Saya lihat ada beberapa tamu Hotel Lingga yang membawa makanan untuk disantap di kamar, karena tidak kebagian tempat duduk. Untunglah setelah selesai antri, saya menda
pat tempat duduk yang kosong.
Semula saya hanya berencana menginap 2 malam. Tetapi karena ada pekerjaan tambahan, saya harus menginap semalam lagi di Bandung, tetapi saya lupa memberi tahu Front Office. Akibatnya, Jumat pagi Staf Hotel Lingga mengatakan sudah ada calon tamu yang memesan kamar saya. Staf Hotel Lingga menjelaskan, saya tidak harus pindah hotel, tetapi kemungkinan harus pindah kamar, dan roomboy akan memindahkan barang-barang saya. Namun kemudian ternyata Staf Hotel Lingga berhasil mengusahakan supaya saya tidak perlu pindah kamar.
Secara umum saya cukup puas menginap di hotel Lingga. Staf Hotel Lingga ramah dan sangat membantu. Hanya ada sedikit yang saya pikir perlu dilengkapi. Saya tidak menemukan ada sejadah di kamar. Sebagai hotel yang memakai tag line "For Everyone Who Desire Moslem Atmospher", saya pikir sejadah seharusnya jadi perlengkapan standar Hotel Lingga. Saya juga tidak menemukan sandal di kamar. Semoga di waktu yang akan datang lebih baik
Tuesday, January 12, 2010
Hujan Lokal di Sriwijaya Air
Pesawat Sriwijaya Air SJ 172 tujuan Banjarmasin sedang bergerak menuju landasan pacu Bandara Suka
rno Hatta, pada Kamis 7 Januari 2010. Tiba-tiba penumpang di tempat duduk nomor 21 B merasakan tetesan air mengenai rambutnya. Para penumpang dan juga saya, semula mengira air itu akibat pengembunan (kondensasi) Air Conditioner di kabin pesawat. Tetapi kemudian air tidak hanya menetes, tetapi mengucur. Dua pramugari memeriksa tempat barang-barang di atas tempat duduk dan menemukan sebuah tas yang basah dan terus mengeluarkan air. Sepertinya di dalam tas tersebut ada air atau minuman yang penutupnya kurang rapat.
Para Pramugari Sriwijaya Air yang sedang mempersiapkan keberangkatan, jadi sibuk mengatasi masalah hujan lokal ini. Kertas tisu yang mereka selipkan di celah tempat menetesnya air berhasil menghentikan tetesan air di atas tempat duduk nomor 21 B. Tetapi tidak lama kemudian, air mengucur dari tempat lain. Kali ini air mengenai penumpang di tempat duduk nomor 19 B dan nomor 23 B. Tetesan air kemudian bisa dihentikan setelah Pramugari menutupnya dengan kertas tissu.
Penumpang maskapai penerbangan bertiket "murah" memang banyak yang membawa bekal minuman atau makanan, karena umumnya maskapai penerbangan ini tidak memberikan minuman atau makanan kepada penumpangnya. Sriwijaya Air adalah satu yang masih memberikan snack dan air mineral di pesawat.
Jadi, kalau anda bepergian dan membawa minuman ataupun benda cair, pastikan tempatnya tertutup rapat.
Sunday, April 26, 2009
From Surabaya With (out) O2 Atom Life
Saya kembali mendapat tempat duduk di dekat jendela dalam penerbangan dari Surabaya kembali ke Jakarta. Saat "take off", dari jendela saya lihat Surabaya di malam hari berkilau dalam cahaya lampu. Begitu juga waktu akan mendarat, kilauan lampu-lampu Jakarta tampak di bawah. Saya ingin sekali memotretnya. Waktu bera
ngkat ke Surabaya, dari jendela pesawat saya sempat memotret puncak Semeru yang diselimuti awan, meskipun hanya dengan kamera 2 MP di PDA O2 Atom Life. Sayang sekarang saya sudah tidak punya O2 Atom Life... :(
Saya kembali ke Jakarta tanpa O2 Atom Life. PDA putih itu hilang sehari sebelum saya kembali ke Jakarta. Saya tidak tahu, apakah tertinggal di taksi atau di front office hotel waktu menaruh kunci, atau tertinggal di kamar hotel, atau....
Saya "mati gaya", tidak bisa memotret, menelpon, SMS, baca/kirim email, buka Facebook, browsing etc., etc... Bukan hanya itu. Sejumlah nomor telpon dan alamat ikut hilang. Foto-foto yang belum sempat saya pindah ke komputer juga hilang, termasuk foto-foto waktu di "warung bambu" samping Tunjungan Plasa. Saya sering ke sini waktu masih kuliah di Surabaya belasan tahun lalu. Untung tidak ada foto-foto yang masuk katagori "17 tahun ke atas" :).
Foto di atas adalah foto waktu upgrade ROM O2 Atom Life ke Window 6.1 (unofficial) buatan Medkid.
Monday, December 15, 2008
Menginap Di Hotel Tanpa Jendela (Lagi)
Malam itu, hujan mengguyur sepanjang perjalanan kami dari Rantau Prapat ke Medan. Waktu masuk Medan, sudah jam 01:00 pagi. Kami check in di sebuah hotel tidak jauh dari perempatan jalan ke arah Masjid Raya al-Mashun. Mesjid ini dibangun pada masa kesultanan Deli.
Tanpa saya duga, pengalaman yang lalu terulang kembali. Kami mendapat kamar tanpa jendela lagi. Memang ada jendela, tetapi menghadap ke koridor. Tetapi karena sudah terlanjur check in dan sudah hampir pagi, saya tidak begitu mempedulikan hal ini dan langsung tidur.
Setelah bangun saya mulai merasakana udara pengap dan bau agak kurang enak. Ternyata kamar hotel ini bukan hanya tanpa jendela, sanitasi kamar mandinya juga tidak bagus dan tidak dilengkapi ventilator (exhaust fan). Jadi udara tidak sedap dari kamar mandi menyerbu ke seisi kamar. Wah, apa jadinya kalau saya menginap lebih lama lagi di sini.
Wednesday, December 10, 2008
Ternyata ”Rantau Prapat” Tidak Sama Dengan ”Prapat”.
Mungkin karena terbiasa mengasosiasikan "Priok" dengan "Tanjung Priok" dan "Labu" dengan "Pondok Labu", saya selama ini menganggap"Prapat" dan "Rantau Prapat" adalah kota yang sama. Setelah mendapat tugas ke Rantau Prapat seminggu yang lalu, saya baru mengerti bahwa "Rantau Prapat" ternyata tidak sama dengan "Prapat".Untunglah setibanya di Polonia, Medan, rekan kami, Pak Pardede telah mengirim sopir untuk menjemput. Ternyata Rantau Prapat berjarak 266 km dari Medan, hampir ke perbatasan Riau. Sedangkan Prapat berjarak sekitar 176 km dari Medan, dekat Danau Toba. Kalau tidak dijemput, saya bakal nyasar ke Parapat. ...Thanks Pak Pardede!
Perjalanan Medan ke Rantau Prapat bisa ditempuh dalam waktu 6 atau 7 jam. Tetapi Pak Pardede meminta kami mampir dulu ke kantornya di Pematang Siantar (127 km dari Medan).
Tidak Jadi Menginap di Suzuya
Setelah menginap semalam di Pematang Siantar, sekitar jam 09:00 pagi kami melanjutkan perjalanan ke Rantau Prapat yang jaraknya 235 km. Saya memikirkan nanti Rantau Prapat mau menginap dimana? Saya khawatir karena Zhar Aditya menulis di blog nya,: "Waduh, kalo disini jangan ke hotel murah….entar digedorin poker (perek bahasa sini) mulu gak bisa tidur ntar" Saya sudah tanya sama Aditya via comment box, tapi mungkin dia tidak sempat menjawab. Akhirnya saya SMS teman saya, Ian. Dia anak Medan yang sekarang tinggal di Jakarta. Ian merekomendasikan hotel Suzuya. "Ratenya sekitar 300 rb", katanya via SMS.Kami mampir makan siang di rumah makan di Aek Kanopan (kalau tidak salah). Uniknya rumah makan ini cara menyajikannya mirip rumah makan Padang, tetapi menunya lebih mirip masakan Jawa. Selain ada teri medan kesukaan saya, juga ada tempe dan urap segala. Cocok dengan selera saya!
Siang hari kami sampai di Rantau Prapat. Kami melewati jalan di depan Hotel Suzuya. Terletak di tengah kota. Disamping Hotel ini ada KFC yang disebut Zhar Aditya sebagai satu-satunya KFC di Rantau Prapat. Tetapi kami tidak menginap di hotel Suzuya, karena ternyata kami sudah dipesankan kamar di Hotel Nuansa Resort.Mandi Kembang, eh Mandi Air Dingin di Malam Hari
Hotel Nuansa Resort tidak sebesar Hotel Suzuya. Tidak ada kolam renang seperti hotelnya Aditya. Letaknya juga tidak ditengah kota, dan tentu saja tidak ada KFC nya . Tetapi secara umum hotel ini cukup bagus. Tidak ada gedoran di malam hari
. Yang kurang cuma: Waktu saya mau mandi air hangat tidak tidak ada. Waktu saya tanya, katanya gas habis. Memang petugasnya kemudian datang dan langsung mengganti tabung gas, tetapi saya sudah keburu selesai mandi.
Malam itu saya coba akses internet Telkomflexi yang sudah saya aktifkan combonya. Tetapi ternyata Telkomflexi tidak berhasil mengakses jaringan internet di Rantau Prapat . Akhirnya saya ganti RUIM Card dengan StarOne, dan langsung berhasil mengakses jaringan internet. Saya heran, di Jakarta justru Telkomflexi yang selalu berhasil mengakses jaringan internet, sedangkan StarOne mesti dipancing berkali-kali. Pernah saya tanya CS di Gallery Indosat di Plasa Blok M, tetapi jawabannya cuma: "Dicoba lagi aja". Saya jadi nyesel nanya..
Rantau Prapat cerah di pagi hari itu. Waktu yang pas buat lari-lari pagi. Berbeda dengan di Pematang Siantar, tidak banyak yang berolah raga pagi di sini. Mungkin karena Hotel Nuansa Resort letaknya di jalan yang menjadi jalur transportasi luar kota. Kendaraan yang lewat jalan ini umumnya berkecepatan tinggi. Jadi kurang nyaman untuk lari-lari pagi. Untunglah di sebelah barat Hotel ada jalan yang agak sepi melewati RSUD dan komplek perumahan. Sekembalinya ke Hotel, saya mendengar kicauan burung disekitar Hotel, tapi tidak tampak seekor burungpun. Belakangan saya diberitahu bahwa suara itu adalah suara kaset untuk memancing burung walet. Di samping Hotel memang ada bangunan yang dijadikan sarang walet.
Mandi Air Dingin Lagi
Waktu saya mau mandi air hangatnya tetap tidak keluar dari shower. Jadi gas yang tadi malam kemana lagi ya? 
(peta diambil dari http://www.infoka.kereta-api.com/informasi/?tipe=25&peta=sumut&id_con=15 )
Semalam di Pematang Siantar
Saturday, June 28, 2008
Hotel-hotel Tanpa Jendela
Dalam perjalanan saya ke sejumlah kota di negeri tercinta ini, paling tidak telah 3x saya terpaksa menginap di kamar hotel tanpa jendela. Padahal saya sangat tidak suka berada di sebuah ruangan tak berjendela. Di tiap hotel, saya selalu menolak kamar di lantai dasar. Selain khawatir suara berisik, saya juga khawatir jendela kamarnya menghadap tembok pagar sehingga pandangan keluar terhalang. Di pesawatpun saya selalu meminta tempat duduk window seat.
Hotel tanpa jendela pertama yang saya jumpai adalah Hotel Merlin dikawasan Nagoya, Batam beberapa tahun lalu. Klien kami di Batam yang memesankan hotel ini dan waktu itu saya baru pertama kali ke Batam.
Hotel tanpa jendela yang kedua adalah Hotel CitiInn di Jl Palang Merah, Medan. Saya terlanjur memilih hotel ini, karena dekat dengan kantor klien kami di jalan Listrik, Medan. Sebetulnya di kamar ada satu jendela, tetapi sayang menghadap ke dalam (ke koridor).
Hotel tanpa jendela yang ketiga adalah Hotel Dhaksina di Jalan Sisingamangaraja, juga di Medan. Saya terpaksa menginap di sini demi memudahkan antar jemput oleh klien kami, karena beberapa rekan saya telah lebih dulu menginap di sini.
Saya tidak bermaksud menjelekkan hotel-hotel yang saya sebut di atas. Pelayanan hotel-hotel tersebut cukup baik dan ramah. Bahkan hotel CitiInn menyediakan fasilitas WIFI yang bisa diakses di tiap kamar. Namun secara pribadi saya tidak ingin menginap di hotel yang kamarnya tanpa jendela. Bagaimana dengan anda?
Monday, September 10, 2007
Low Fare, High Cost
Friday, August 3, 2007
Passenger 29E
Wednesday, July 11, 2007
Memilih Antara Kereta Api Dan Pesawat Udara
Karena Bank Mandiri tidak mau memberi informasi yang jelas tentang cara pembelian tiket kereta melalui internet banking Bank Mandiri, saya cari alternatif lain. Di web PT KAI disebutkan bahwa tiket Kereta Api bisa dibeli lewat ATM. Saya segera menghubungi nomor telepon yang disebutkan di situ, tetapi tidak seorangpun menjawab.
Kemudian di detik.com saya baca, tiket Kereta Api bisa dibeli di beberapa agen. Tetapi ternyata kini agen-agen itu tidak lagi menjual tiket Kereta Api. Bahkan ada yang menjawab: " ....sekarang sudah jadi rumah makan..."
Akhirnya saya memutuskan naik pesawat udara ke Surabaya, meski harus nombok. Tiketpun diantar tidak lama setelah saya menelpon agen perjalanan langganan saya.
Hari itu, 3-Juli-07. Saya akan kembali ke Jakarta esok harinya. Karena sewaktu berangkat sudah nombok, saya mau kembali dengan naik Kereta api. Telpon PT KAI di Surabaya yang saya hubungi berkali-kali, tidak menjawab. Kemudian saya datang langsung ke stasiun Pasar Turi. Saya sodorkan blanko pemesanan tiket kepada petugas PT KAI. "Tidak ada!" katanya pendek, terdengar ketus, tanpa menoleh. Benar-benar jauh dari ramah :-(
Saya putuskan naik pesawat udara lagi untuk kembali ke Jakarta. Saya menelpon biro perjalanan. Tidak lama kemudian, tiket diantar ke hotel tempat saya menginap.
Tiket pesawat udara lebih mahal dari kereta api. Selain itu masih dikenakan airport tax sekitar Rp 30 ribu. Jarak bandara yang biasanya jauh dari kota, merupakan tambahan biaya lagi, karena tidak semua bandara mempunyai sarana transportasi masal semacam Bus DAMRI di Soekarno-Hatta. Namun tiket pesawat udara dapat diperoleh dengan sangat mudah. Bahkan kita tidak perlu meninggalkan kantor/rumah. Banyak agen perjalanan yang bersedia mengantar tiket pesanan kita ke kantor atau ke rumah. Beberapa perusahaan penerbangan juga sudah mempunyai fasilitas on line booking melalui internet.
Tiket kereta api memang lebih murah dari pesawat udara. Selain itu, berbeda dengan Bandara, stasiun kereta api umumnya berada di dalam kota. Tetapi waktu perjalanan kereta api lebih lama. Apalagi kini Jakarta-Surabaya tidak lagi bisa ditempuh dalam tempo 9 jam 50 menit seperti dulu. Kemudian, seperti yang saya alami, untuk mendapatkan tiket kereta api ternyata sungguh tidak mudah. Belum lagi soal pelayanan petugas tiket PT KAI yang tidak ramah.
Tingkat keselamatan penerbangan kita memang sedang dipertanyakan, namun sekarang tingkat keselamatan kereta api kita juga tidak begitu bagus. Jadi saya simpulkan, pilihan saya untuk naik pesawat udara tidak keliru, meskipun harus nombok.
Sunday, July 8, 2007
Bank Mandiri, I Want My 15 Minutes Back!
Kepada Bank Mandiri saya ingin mengatakan: "I want my 15 minutes back!", menirukan comment Mas Priyadi di posting Foto SPG di blog Pak Budi Rahardjo.
Saya ditugaskan ke Surabaya hari Senin, 2 Juli 07. Untuk perjalanan Jakarta-Surabaya, kantor saya hanya memberikan biaya seharga tiket Kereta Api. Masalahnya, tempat tinggal dan kantor saya jauh dari stasiun Kereta Api. Lagi pula, biro perjalanan langganan saya tidak menjual tiket Kereta Api. Untunglah, saya dapat informasi bahwa tiket Kereta Api bisa dibeli melalui internet banking Bank Mandiri.
Sayapun log in ke internet banking Bank Mandiri, masuk ke pembelian tiket Kereta Api dan diminta mengisi semacam kode. Karena tidak mengerti, saya menelpon 14000. Petugas Bank Mandiri tidak segera menjawab, malah menanyakan nomor kartu ATM saya, kemudian menanyakan tanggal lahir, lalu meminta saya menunggu. Kemudian, dia menanyakan alamat, menyuruh saya menunggu lagi, terus menanyakan nama ibu saya, dan saya masih diminta menunggu lagi. Setelah itu baru dia bertanya: "Apa yang bisa kami bantu?". Saya tanyakan kode apa yang harus saya isi. Saya diminta menunggu, setelah itu dia mengatakan, saya harus mengisi kode booking dari PT KAI. Sewaktu saya tanya "Dimana saya bisa dapatkan kode booking?", saya diminta menghubungi reservasi PT KAI. Nomor telpon reservasi agar ditanyakan di informasi telkom (108), katanya :-(
Saya heran, mengapa Bank Mandiri tidak mau memberi tahu nomor telepon yang harus saya hubungi untuk mendapatkan kode booking? Kalau penjelasannya seperti ini, buat apa saya ditanya macam-macam dan disuruh menunggu segala? Saya khan tidak sedang melaporkan kehilangan kartu yang memang memerlukan semacam cross check?
"Bank Mandiri, I want my 15 minutes back!"