Showing posts with label uncatagorized. Show all posts
Showing posts with label uncatagorized. Show all posts

Sunday, March 11, 2012

Tempat Merokok di Bis

Perda Larangan Merokok sudah sejak lama diberlakukan di DKI Jakarta. Meskipun jumlahnya makin sedikit, kadang-kadang masih ada juga yang merokok di tempat-tempat umum, termasuk di antaranya di Bis kota dan angkutan umum.
Kopaja P20 ini sepertinya ingin agar para penumpangnya tidak terganggu oleh asap rokok, namun tampaknya juga tidak ingin melarang perokok (mungkin karena sebagian dan bahkan umumnya pengemudi dan kondekturnya juga perokok). Karena itu, mereka berinisiatif memasang tanda BILA INGIN MEROKOK DI DEPAN.
Di deretan kursi depan Kopaja P20 ini, para perokok akan bebas menghirup tembakau dan mungkin juga berbagi rokok.

Saturday, October 8, 2011

Mengibarkan Sindo Radio dan Mengubur Trijaya FM

Tidak ada lagi terdengat jingle "...it's real good. It's sound great. It's Trijaya......" ataupun sapaan "....Profesional muLogo Trijaya.jpgda...", meskipun dial radio saya set di 104.6 FM. Memang masih terdengar suara penyiar yang sama di acara yang sama. Masih ada suara Latief Siregar di acara "Polemik". Juga masih ada Doddy Tatipang, Dennis Irawan dan lain-lain. Yang beda, sering terdengar ucapan selamat dari sejumlah politisi, pejabat pemerintah hingga menteri atas mengudaranya Sindo Radio. Seolah Sindo Radio ini adalah radio baru yang menempati frekuensi milik Trijaya FM. Yang lain lagi jingle "...it's real good. It's sound great. It's Trijaya......" berganti jadi "Saya dengar di Sindo Radio". Sapaan "..Profesional muda.." juga berubah jadi "...pendengar Sindo...". Iya, mulai Minggu 11 September 2011 Radio Trijaya ganti nama menjadi Sindo Radio.

Konon kata William Shakespeare "Apalah arti sebuah nama?". Meskipun begitu, dikalangan masyarakat kita masih ada praktek mengganti nama. Yang sederhana, seorang anak yang sering sakit-sakitan, namanya diganti karena nama yang lama dianggap "berat". Tampaknya pemilik Trijaya FM eh, Sindo Radio juga tidak sependapat dengan Shakespeare. Semula saya pikir pemilik Trijaya menganggap nama Trijaya tidak lagi membawa hoki. Atau apakah mereka menganggap bahwa para pendengarnya sudah beranjak tua dan tidak pantas lagi disapa "....Profesional muda..." ?. Atau, ada hubungannya dengan Peter Gontha, Bimantara, dan Bambang Triatmojo atau dengan Hary Tanoesoedibjo?

Tetapi menurut berita Okezone.com, perubahan ini adalah "....upaya membangun kerja sama antara media di bawah Grup MNC Media. Nantinya Sindo Radio akan bersinergi dengan Koran Seputar Indonesia, Sindo TV dan Sindonews.com. Tentu, sinergi ini diharapkan akan memperkokoh Sindo Radio sebagai sumber informasi terpercaya" kata Station Manager Sindo Radio, Eddy Koko. Jadi rupanya pemilik/manajemen MNC Group menganggap nama Trijaya kurang pas untuk bersinergi dengan anak-anak perusahaan Grup MNC lainnya.

Radio Trijaya FM sudah lama mengudara. Menurut wikipedia sejak tahun 1985, sedang menurut SWA sejak 1971. Waktu yang cukup lama untuk membuat nama Trijaya FM menjadi sangat akrab di benak para "Profesional muda" (kata yang selalu dipakai para penyiar Trijaya untuk menyapa pendengar). Mungkin saja ada banyak pendengar Trijaya alias para "Profesional muda" yang masih enggan menghapus nama Trijaya dari pikiran mereka. Saya sendiri lebih senang menyebut nama radio ini Trijaya FM dari pada Sindo.

Sepertinya pemilik Sindo menyadari perlunya upaya untuk memasyarakatkan nama baru dan menghapus nama lama. Penyiaran berulang kali ucapan selamat dari sejumlah politisi, pejabat hingga menteri itu adalah upaya mengibarkan nama Sindo Radio dan mengubur nama Trijaya FM. Jadi pada beberapa waktu yang akan datang, di Trijaya FM eh, Sindo Radio kita masih akan sering mendengar: "....Saya ...bla..bla. bla... Ketua/Kepala/Direktut/Menteri/...bla..bla. bla... mengucapkan selamat atas hadirnya Sindo Radio. Semoga Sindo ...bla..bla. bla....bla..bla. bla....bla..bla. bla..."

Apakah mereka akan berhasil? Kita lihat saja.

Saturday, May 14, 2011

Happy Unplanned Long Weekend

Saya sudah lama tahu bahwa Selasa 17 Mei 2011 adalah hari libur Waisak. Itu artinya Senin 16 Mei 2011 akan jadi HARi kejePIT NASional. Tetapi baru pada Friday the 13th (maksud saya Jumat, 13 Mei 2011) ada pemberitahuan dari kantor bahwa Senin 16 Mei 2011 adalah hari libur. Pemberitahuan itu saya terima sekitar jam 18:30, melalui SMS (bukan dari Freddy Krugger, tentunya).

Ternyata banyak juga yang baru mengetahui bahwa pemerintah menjadikan Senin 16 Mei 2011 sebagai hari libur. Banyak yang senang dengan "hadiah" libur dadakan ini. Tetapi ada juga beberapa teman yang menyayangkan pemberitahuan pemerintah yang mendadak ini, sehingga mereka tidak sempat merencanakan acara liburan. Ada teman lain yang justru kelihatan sedih. Maklum dia ada kerjaan yang sudah mepet dead line dan dihitung dengan hari kalender, bukan hari kerja.

Seorang teman yang lain mengatakan tidak kaget dengan perilaku pemerintah ".... Ragu2 .... Tak Jelas" katanya. Dia mengaku sudah mengantispasi HARPITNAS dengan mengambil cuti berlibur meskipun belum ada pengumuman pemerintah. Kepada teman-teman yang kaget dengan libur dadakan ini dia menghibur dengan mengatakan : "Kadang menjalani hidup tanpa rencana itu perlu, biarlah mengalir seperti air."

Konon Sometimes the Best Plan Is No Plan Happy Unplanned Long Weekend !!!

Friday, January 1, 2010

Selamat Tahun Baru 2010

Selamat meninggalkan tahun 2009. Selamat menyambut tahun 2010.happy new year.JPG
Semoga kebahagiaan, keselamatan, kesehatan, dan kesuksesan mengiringi kita semua.

Happy new year!!!

Thursday, January 1, 2009

Happy New Year

As the new year dawns.. May it bring for you promises of new dream to fulfill, new goal to reach and new joy to discover!

H a p py N e w Y e a r!

Sunday, December 28, 2008

A New Nike's Superstar Endorsers?

Maybe we had not seen our Indonesia First Lady Ani Yudhoyono among Nike's Superstar Endorsers, but what do you think when you see her picture in Nike shirt on a Jakarta newspaper on 22nd December 2008?

Tuesday, January 8, 2008

Sego Kucing Jakarta

Semula saya tidak tertarik karena mengira sego kucing adalah semacam makanan untuk hewan peliharaan. Tetapi cerita teman-teman yang pernah tinggal di Jogja membuat saya makin ingin tahu. Baru tadi malam, untuk pertama kalinya saya menyantap sego kucing. Bukan ditemani seekor kucing, tetapi segelas wedang jahe. Saya suka wedang jahenya. Memakai gula batu, seperti untuk teh poci. Basic nya, sego kucing terdiri dari nasi (sego), orek tempedan bihun. Porsinya memang kecil. Makan seporsi dijamin tidak kenyang. Soal lauk, kalau mau, kita bisa menambah dengan tahu, tempe bacem, telor puyuh dan lain-lain. Yang menakjubkan, untuk seporsi sego kucing, ditambah tahu dan tempe bacem, serta wedang jahe, saya hanya harus membayar Rp 4500. Padahal ini bukan di Jogja,tetapi di Jakarta. Di seberang kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Apakah Pak Slamet (pemilik warung yang mengaku wong Jogja), berjualan sego kucing di Jakarta dengan " harga Jogja "? Sesampai di rumah, saya dengar berita di radio tentang kenaikan harga tahu dan tempe. Konon kenaikkannya mencapai sekitar 50%. Saya sulit membayangkan bagaimana Pak Slamet harus berakrobat di antara cost, value, dan price dalam mempertahankan Rp 4500 untuk seporsi sego kucing dan wedang jahe. ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Sunday, August 12, 2007

Mendadak Golput

"INIKAH YANG ANDA INGINKAN? JANGAN GOLPUT!" Kalimat ini tertulis pada poster-poster yang saya jumpai di halte bus di Jakarta Selatan, akhir Juli 2007. Di poster itu tergambar seorang laki-laki dengan beringas mengayunkan tongkat hendak memukul sesuatu. Di belakangnya, terlihat beberapa orang laki-laki entah sedang melakukan apa. Yang menarik perhatian saya, wajah dan pakaian orang-orang itu jelas memberi kesan peristiwa itu terjadi di Timur Tengah. Sayang saya tidak sempat mengambil foto poster tersebut untuk saya tunjukkan di Blog ini.
Saya setuju dengan ajakan menggunakan hak pilih dalam PILKADA DKI, tetapi saya sangat tidak suka pada gambar di poster tersebut. Kalau ingin memotivasi orang untuk peduli pada proses demokrasi, mengapa memakai ilustrasi kejadian di Timur Tengah?
Saya tidak berniat untuk Golput, walaupun pada akhirnya saya tidak menggunakan hak pilih dalam PILKADA DKI 8 Agustus 2007. Bukan ketidaksukaan saya pada gambar di poster itu yang menjadi penyebabnya. Seminggu menjelang hari PILKADA DKI, saya diberi tugas ke Bandung mulai tanggal 6 sampai 8 Agustus 2007. Entah apakah kantor saya memang tidak tahu bahwa PILKADA DKI akan dilaksanakan tanggal 8 Agustus 2007, atau memang sengaja mengabaikan hak demokrasi saya sebagai warga DKI Jakarta.


Semula saya ingin menolak tugas ini. Saya akan beralasan bahwa saya ingin memberikan suara pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Padahal sebetulnya saya menolak karena tidak suka bekerja di hari libur (tanggal 8 Agustus 2007 adalah hari libur untuk DKI). Namun kemudian saya berubah pikiran. Tugas di Bandung tanggal 6 sampai 8 Agustus 2007, saya perkirakan dapat saya selesaikan dalam waktu dua hari saja. Dengan begitu, hari ketiga, tanggal 8 Agustus 2007 akan dapat saya pakai untuk liburan di Bandung atas biaya kantor :). Lagi pula saya belum memutuskan apakah akan memilih Adang-Dani atau Fauzi-Prijanto. Saya juga tidak banyak tahu, apa saja yang dijanjikan kedua pasangan calon Gubernur kepada warga DKI Jakarta. Saya juga tidak yakin apakah kedua pasangan calon Gubernur jika terpilih, akan lebih banyak berupaya memenuhi janji mereka kepada warga DKI atau justru kepada partai-partai politik yang mendukung mereka.
Akhirnya saya memilih berangkat ke Bandung, sekaligus memutuskan untuk Golput dalam PILKADA DKI 8 Agustus 2007.

Sunday, July 29, 2007

Nonton Ireng Maulana & Kawan-kawan di Mal

Kelompok pemusik itu terdiri dari satu pemain piano, dua pemain gitar, satu pemain drum, dan dua vokalis. Perhatian saya sering tertuju pada salah satu pemain gitar yang bagi saya sangat mirip Ireng Maulana. Saya telah beberapa kali menyaksikan penampilan mereka, namun baru 3 minggu lalu, ketika mendengar vokalis memperkenalkan nama-nama para pemusik, saya menyadari bahwa dia memang Ireng Maulana. Tampil di lantai 2 Mal Pondok Indah 1 tiap Sabtu mulai sekitar jam 19.00 sampai jam 22.00. Tidak ada panggung khusus, tidak ada tempat duduk. Meskipun begitu, mereka mampu menarik perhatian para pengunjung Mal. Tidak hanya bertepuk tangan meriah, pengunjung juga dengan bersemangat melantunkan bait-bait lagu yang mereka nyanyikan. Bahkan hampir selalu ada pengunjung yang spontan tampil menyanyikan satu dua lagu, baik sendiri maupun duet dengan salah seorang vokalis. Semula saya mengira hanya mungkin menyaksikan Ireng Maulana di acara festival semacam Jak-Jazz atau Java-Jazz. Saya sungguh tidak menyangka musisi sekaliber Ireng Maulana mau tampil di Mal. Sepertinya ini bagian dari usaha Ireng dan kawan-kawan untuk mengakrabkan Jazz dengan masyarakat. Memang, lagu-lagu yang mereka mainkan tidak semua jazz. Banyak juga lagu-lagu pop yang mereka beri improvisasi. Sewaktu istirahat, saya bicara sejenak dengan vokalis yang perempuan. Ternyata Ireng Maulana dan kawan-kawan sudah cukup lama tampil di Mal Pondok Indah "Sudah berjalan tiga bulan" katanya. Sementara itu, pengunjung yang tadi di sebelah saya memanfaatkan saat istirahat dengan mengajak Ireng Maulana berfoto bersama. Sabtu malam, 28-Jul-07, untuk kesekian kalinya saya menyaksikan penampilan mereka. Kali ini tidak tampak vokalis perempuan yang Sabtu lalu sempat ngomong-ngomong dengan saya. Memang ada penggantinya, tetapi sayang, tanpa bermaksud meremehkan, menurut saya vokalnya tidak begitu bagus. Masih lebih bagus "vokalis-vokalis tamu" (pengunjung Mal yang spontan tampil menyanyi). Kalau boleh memberi saran, Ireng Maulana dan kawan-kawan sebaiknya selektif memilih vokalisnya. Nama Ireng Maulana sudah terlanjur kami anggap pemusik yang punya kelas. Kalaupun vokalis yang seharusnya tampil sedang berhalangan, sebaiknya tidak usah dipaksakan untuk menampilkan vokalis pengganti. Saya yakin pengunjung Mal PI dapat memaklumi ketidak hadiran satu vokalis. Bahkan saya yakin mereka tetap antusias menikmati musik yang dimainkan Ireng Maulana dan kawan-kawan, walau tanpa vokal sekalipun. Justru permainan instrumental bisa jadi alternatif, agar pengunjung tidak jenuh.