Showing posts with label ibadah. Show all posts
Showing posts with label ibadah. Show all posts

Sunday, September 11, 2016

Berkorban: Lebih dari Memberi

Konon, berkorban adalah lebih dari sekedar memberi, lebih dari sekedar menyumbang, lebih dari sekedar berdonasi. Konon, kita baru pantas disebut berkorban kalau kita memberikan sesuatu yang sangat kita cintai. Sebagaimana Nabi Ibrahim yang dengan patuh memenuhi perintah Allah untuk mengorbankan anak tercintanya.
Setiap Idul Adha, umat Muslim mengambil teladan Nabi Ibrahim dengan melaksanakan ibadah kurban, Ibadah kurban dilaksanakan dengan memotong/menyembelih hewan ternak sapi atau domba/kambing.
Dalam ibadah zakat ada ketentuan, bahwa jumlah zakat proporsiaonal dengan kemampuan ekonomi orang yang melaksanakan zakat (misalnya 2.5% dari nilai harta).  Sedangkan dalam ibadah kurban tidak ada ketentuan semacam itu. Satu ekor kambimg/domba adalah takaran kurban untuk satu orang. Sedangkan satu ekar sapi adalah takaran kurban untuk tujuh orang.
Membeli seekor domba, bagi seorang yang berpenghasilan tinggi tentu relatif lebih mudah dibandingkan bagi
seorang yang berpenghasilan rendah. Jadi, menurut saya , kualitas ibadah kurban seseorang yang berpenghasilan rendah justru lebih tinggi dari pada kualitas ibadah kurban seseorang yang berpenghasilan tinggi.
Bagaimana menurut Anda?
Selamat Idul Adha.

Wednesday, August 7, 2013

Idul Fitri = Hari Kemenangan?

Banyak orang yang memaknai Idul Fitri sebagai hari kemenangan. Lalu, siapa yang menang?

Analis Equity Research Danareksa, Naya Tirambintang mengatakan bahwa Lebaran adalah hari kemenangan Peritel. Menurut riset ini, umumnya menjelang Lebaran keuntungan pedagang eceran meningkat secara signifikan hingga 3-6 kali lipat dari biasanya. Hampir sama dengan pendapat analis Danareksa, saya juga pernah mendengar dari seorang broker saham bahwa menjelang hari raya Idul Fitri, harga saham-saham perusahaan ritel di Bursa Effek Indonesia biasanya naik, karena adanya ekspektasi peningkatan pendapatan. Hal serupa juga saya dengar dari seorang pemasar perusahaan biskuit, bahwa siklus penjualan biskuit dan makanan/minuman ringan biasanya memuncak pada menjelang hari raya Idul Fitri. Kemudian, dengan adanya tradisi mudik lebaran, meskipnn saya belum pernah membaca datanya, bukan tidak mungkin, bahwa perusahaan perusahaan transportasi juga menikmati siklus naiknya pendapatan/revenue pada waktu hari raya Idul Fitri.

Kegiatan Ibadah umat Muslim juga mengalami siklus yang serupa dengan siklus pendapatan para pengusaha di atas. Pada bulan Ramadhan jumlah jemaah salat biasanya jadi lebih banyak. Donasi yang diterima oleh Lembaga-lembaga pengelola Zakat, Infaq & Sadoqah meningkat. Hal ini karena Ibadah-badah yang dilakukan pada bulan Ramadhan telah dijanjikan akan mendapat bobot penilaian yang lebih besar dari pada Ibadah-badah yang dilakukan pada bulan lainnya.

Kemenangan pengusaha/peritel/pedagang eceran yang berhasil memanfaatkan momen hari raya Idul Fitri mudah sekali diukur dan akan tampak pada laporan keuangan. Tetapi kemenangan umat muslim yang mendapat kesempatan menjumpai Ramadhan, tentu tidak mudah diukur, antara lain karena "puasa itu untuk Nya". Jadi semestinya belum tepat kita menyebut Idul Fitri sebagai hari kemenangan. Konon, Rasulullah dan para sahabatnya justru menangis di hari-hari terakhir Ramadhan, karena Ramadhan akan pergi dan tak ada satupun kepastian mereka akan berjumpa lagi dengan bulan penuh ampunan itu.

Pada suatu dini hari setelah sahur di bulan Ramadhan 1434 H, saya menyimak uraian KH. Wahfiudin Sakam di TV mengenai Idul Fitri. Kata KH. Wahfiudin, mengartikan 'Idul Fithri dengan "kembali pada fithrah" atau "kembali pada kesucian" merupakan pengertian keliru. Menurut KH. Wahfiudin , kata "fithri" terkait dengan aktivitas berbuka dari puasa. Jadi 'Idul Fithri adalah hari raya dalam menyambut keberhasilan menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu. Beberapa hari kemudian saya juga menyimak uraian DR. M. Quraish Shihab di sebuah TV mengatakan bahwa kalau pun disebut kemenangan, Idul Fitri baru kemenangan dalam satu pertempuran, bukan kemenangan dalam perang.

Meskipun demikian, Idul Fitri adalah hari raya, selayaknya umat muslim gembira dan bahagia pada hari tsb. Pada hari Idul Fitri umat muslim dianjurkan memakai pakaian yang bagus, dan bahkan tidak diperbolehkan berpuasa. Saya menduga Rasulullah ingin mengajarkan kita untuk menghargai setiap langkah menuju peningkatan iman, takwa dan amal kebajikan. Jadi mari kita rayakan Idul Fitri dengan suka cita dan berdoa semoga kita bisa berjumpa dengan Idul Fitri (dan Ramadhan) yang akan datang

Selamat Idul Fitri. semoga Allah menerima ibadah kita.

Sunday, August 4, 2013

Ramadhan Bukan (Hanya) Bulan Puasa

Sejak menjelang bulan Ramadhan, tentu kita sering mendengar dan bahkan mendapat ucapan "Selamat menjalankan ibadah puasa.". Saya juga demikian. Tetapi saya lebih suka mengucapkan "Selamat menjalankan ibadah Ramadhan." . Menurut saya, di bulan Ramadhan, umat Muslim bukan hanya diwajibkan berpuasa, tetapi dianjurkan meningkatkan semua ibadah. Saya ingin sekali mengatakan bahwa ucapan "Selamat menjalankan ibadah puasa" bukan ucapan yang tepat. Di blog ini, saya juga pernah menulis ketidaksetujuan saya kepada mereka yang mengucapkan "Selamat membatalkan puasa!". Orang yang batal puasa, tidak pantas diberi ucapan selamat.

Di bulan Ramadhan, jamaah salat di masjid-masjid biasanya jadi lebih banyak.Jumlah jemaah salat tarawih, tidak jarang lebih banyak dari jemaah salat wajib. Di posting Ramadhan Bukan Bulan Suci saya menulis pendapat seorang Khatib salat Jumat, bahwa lebih banyaknya jumlah jemaah di masjid pada waktu salat Tarawih dibanding pada waktu salat wajib adalah bentuk salah kaprah. Menurut Khatib tsb., salat Tarawih bukan salat wajib dan tidak harus berjamaah. Penyelenggaraan salat Tarawih di rumah-rumah pejabat dan juga di hotel-hotel, menurut khatib ini, juga salah kaprah. Khatib mengkhawatirkan penyelenggaraan salat Tarawih di tempat-tempat tersebut mengaburkan makna dan tujuan salat tarawih dan ibadah Ramadhan.

Di bulan Ramadhan, umat Muslim juga diwajibkan menunaikan Zakat Fitrah, baik berupa makanan pokok, ataupun berupa uang tunai. Namun, menurut pembicara dari BAZNAS di Radio Elshinta tanggal 4 Agustus 2013, umat Muslim juga banyak yang menunaikan kewajban Zakat Maal (harta) dan zakat penghasilan pada bulan Ramadhan. Mungin ini karena anjuran meningkatkan semua ibadah di bulan Ramadhan. Kata pembicara dari BAZNAS tsb. hanya Zakat Fitrah yang wajib di bulan Ramadhan. Zakat penghasilan wajib dibayarkan setiap kali menerima penghasilan. Zakat Maal (harta) wajib dibayarkan setelah mencapai jumlah (nisab) dan waktu kepemilikan mencapai 1 tahun. Jadi tidak harus pada bulan Ramadhan.

Terlepas dari pendapat pembicara dari BAZNAS tsb., pada bulan Ramadhan lembaga-lembaga ZIS (Zakat, Infaq, Sadaqoh) justru makin gencar mengajak umat Muslim untuk menunaikan Zakat Maal (harta) dan zakat penghasilan (tidak hanya Zakat Fitrah). Kita dapat melihat banyaknya spanduk himbauan berzakat di banyak tempat dan munculnya gerai-gerai zakat pada bulan Ramadhan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga membayar zakat penghasilan pada bulan Ramadhan (24 Juli 2013) ke Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Jadi tidak dapat disalahkan kalau umat Muslim juga banyak yang menunaikan kewajban Zakat Maal (harta) dan zakat penghasilan pada bulan Ramadhan.

Dari fenomena ini, saya tergoda untuk menebak, bahwa kecederungan menunaikan Zakat Maal (harta) dan zakat penghasilan di bulan Ramadhan juga bentuk salah kaprah. Saya juga tergoda untuk menebak, bahwa ritme kesibukan kerja lembaga-lembaga ZIS akan seasonal, memuncak pada bulan Ramadhan dan rendah pada bulan-bulan lain. Semoga tebakan saya keliru, saya berharap pada bulan-bulan lain masih banyak umat Muslim yang menunaikan Zakat Maal (harta) dan zakat penghasilan. Saya berharap di luar bulan Ramadhan lembaga-lembaga ZIS tetap sibuk melakukan pemberdayaan warga fakir/miskin, dan tetap semangat mengubah mustahiq (orang miskin yang berhak dapat zakat) menjadi muzakki (orang yang wajib yang mengeluarkan zakat).

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan.

Saturday, October 9, 2010

Salat Jamaah Tak Hanya Berbonus Pahala

Saat waktu Zuhur tiba siang hari ini (09/10/2010), saya ikut salat di Masjid Jami Nurul Islam di Jalamesjid nurul islam.jpgn Duren Tiga, dekat perempatan Jalan warung Buncit. Sudah umum diketahui bahwa umat muslim dianjutrkan salat berjamaah dan bahwa umat muslim yang salat berjamaah akan mendapat pahala lebih dari yang salat sendiri-sendiri. Tetapi di Masjid Jami Nurul Islam ini, jemaah salat Zuhur siang ini tidak hanya mendapat pahala tetapi juga dapat makan siang gratis. Selesai salat, ketika saya dan para jemaah lain mau melewati pintu, beberapa pengurus masjid membagi-bagikan bungkusan berisi nasi lengkap dengan lauk dan air mineral.

Hal yang mirip pernah saya alami beberapa tahun lalu di sebuah masjid di Pare-pare, Sulawesi Selatan. Waktu itu saya ikut salat Ashar. Setelah selesai salat Ashar, pengurus masjid membagi-bagikan sabun mandi kepada setiap jemaah. ...mungkin simbolik supaya jemaah senantiasa menjaga kebersihan...termasuk kebersihan hati....

Sunday, March 28, 2010

Ketika Di Rumah Allah Ada Suka Cita dan Duka Cita

Siang itu (28/3/2010) saya sedang lewat di jalan Cinere Raya, Depok. Saat waktu Zuhur tiba, saya mampir di Masjid Raya Cinere yang letaknya dekat Kantor Polres Cinere. Masjid Raya Cinere ini berlantai 2. Di lantai bawah Masjid tampak beberapa orang memakai busana daerah dan ada beberapa alat musik tradisional. Sepertinya ruang di lantai dasar sedang dipakai acara resepsi perkawinan. Karena salat sudah akan dimulai, setelah berwudhu saya langsung naik ke lantai atas dan salat Zuhur bersama para jemaah. Jemaah yang salat Zuhur agak banyak. Tidak hanya yang laki-laki. Jemaah perempuan juga agak banyak. Saya menduga para jemaah adalah keluarga atau tamu mempelai yang sedang melangsungkan resepsi.
Selesai salat, ketika akan keluar Masjid, tanpa saya duga di sisi kanan belakang Masjid saya lihat ada jenazah. Tak lama kemudian, Imam salat meminta agar jenazah dibawa ke depan dan mengajak jemaah untuk salat jenazah. Saya baru mengerti bahwa para jemaah salat Zuhur bukan hanya keluarga atau tamu mempelai yang sedang berbahagia, tetapi juga keluarga yang sedang berduka cita.

Monday, September 21, 2009

Zakat Fitrah Berupa Uang vs Berupa Bahan Makanan Pokok

Zakat Fitrah harus berupa bahan makanan pokok. Demikian yang saya dengar dari Ustadz H. Bobby Herwibowo pada sebuah acara di Trijaya FM Jakarta, akhir Ramadhan ini. Ustadz H. Bobby Herwibowo juga mengatakan bahwa Zakat Fitrah harus diberikan pada saat Ramadhan berakhir hingga saat salat Idul Fitri. Beliau juga menganjurkan agar Zakat Fitrah langsung diberikan kepada fakir miskin di lingkungan tempat tinggal kita, tidak perlu diberikan melalui amil. Mungkin maksudnya agar tercipta silaturahmi.

Konon, di kalangan ulama ada beda pendapat tentang menunaikan zakat fitrah dengan uang tunai. Republika Online Edisi Jumat, 18 September 2009 menuliskan beberapa pendapat sebagai berikut:

  • Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi Syekh Abdul Aziz bin Abdullah As-Shekh menyatakan, zakat fitrah harus berupa makanan pokok daerah setempat. Menurut beliau, menunaikan zakat fitrah dalam bentuk uang tunai bertentangan dengan sunnah Rasulullah SAW. ''Zakat fitrah itu hanya berupa makanan yang merupakan kebutuhan nyata bagi fakir miskin,'' katanya di harian Al-Madinah seperti dikutip dari situs NU Online, Rabu (9/9)
  • Syekh Qais Al-Mubarak, yang juga anggota Komisi Fatwa Arab Saudi, membolehkan zakat dengan uang tunai. Menurutnya, saat ini telah terjadi perubahan kebutuhan.
  • Zakat fitrah dengan uang dibenarkan oleh Imam Abu Hanafi dengan pertimbangan bahwa kondisi masyarakat serta kebutuhan masyarakat miskin telah berubah banyak
  • Cendekiawan Muslim kontemporer, Syech Yusuf al Qardhawi mengatakan, pemberian dengan harga ini sebenarnya lebih mudah di zaman sekarang, terutama di lingkungan negara industri. ''Di mana orang-orang tidaklah bermuamalah kecuali dengan uang,'' tegasnya. Lebih jauh, Syech al Qardhawi berpandangan, terkait dua cara pembayaran ini, apakah dengan bahan makanan atau uang, sebaiknya dilihat dari tingkat keutamaannya. Dalam artian, mana yang lebih bermanfaat bagi para fakir miskin. Bila makanan lebih bermanfaat bagi mereka, maka menyerahkan zakat berupa makanan jauh lebih penting. Namun jika dengan uang dianggap lebih banyak manfaatnya, berzakat dengan uang menjadi lebih utama.
  • Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah juga membolehkan menunaikan zakat fitrah dengan uang. Disebutkan bahwa kadar zakat fitrah yang harus dikeluarkan yakni minimal satu sha' (2,5 kg) dari bahan makanan pokok, atau uang seharga makanan tersebut.

Sewaktu tinggal di Banjarmasin, saya pernah menjumpai amil zakat fitrah yang hanya mau menerima zakat fitrah dalam bentuk beras. Tetapi kita yang tidak membawa beras masih dapat menunaikan Zakat Fitrah melalui amil tersebut. Amil menyediakan fasilitas jual beli beras. Jadi kita dapat terlebih dahulu melakukan akad jual beli beras. Setelah itu, kita menyerahkan beras yang telah kita beli tersebut kepada amil sebagai zakat fitrah. Sepertinya ini semacam "kreatifitas" amil zakat fitrah dalam "menyiasati" keharusan menunaikan Zakat Fitrah dalam bentuk bahan makanan pokok. Saya belum pernah menjumpai "kreatifitas" semacam ini di tempat lain. Mungkin karena sekarang ini semua amil zakat fitrah yang saya jumpai selalu bersedia menerima beras ataupun uang tunai.

Meskipun tidak terlalu relevan dengan pendapat Syekh Qais Al-Mubarak, bahwa saat ini telah terjadi perubahan kebutuhan. Di masa lalu orang tidak selalu memberikan uang kepada peminta-minta/pengemis. Saya teringat semasa kecil saya sering melihat kadang kadang ibu saya memberikan beras kepada peminta-minta yang datang ke rumah kami. Jika sekarang ini yang kita berikan kepada peminta-minta/pengemis hampir selalu berupa uang, mungkin karena makin banyak yang menganut prinsip "Cash is The King"

Yang berikut ini mungkin juga tidak cukup relevan dengan anjuran Syech al Qardhawi agar antara memberikan uang dan memberikan makanan, sebaiknya dilihat dari mana yang lebih bermanfaat bagi para fakir miskin. Saya teringat sebuah email yang diforward oleh seorang teman. Tulisan yang konon dari "Sahabat Anak" itu mengajak kita untuk tidak memberi uang kepada anak jalanan yang mengemis dan mengamen. "Sahabat Anak" menganjurkan memberikan nutrisi bergizi dan barang layak pakai. Misalnya, biskuit, permen, buah, susu kotak/botol, atau barang-barang bermanfaat lainnya. Menurut tulisan itu, jika kita memberi uang receh (cepek, gopek, seceng), berarti kita membuang sebesar 1,5 milyar per hari! Sayangnya uang yang diterima anak jalanan kebanyakan dipakai untuk Jajan, Main dingdong, dan setoran ke orang tua atau inang/senior sebagai pelindung mereka di jalanan.

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Wednesday, August 27, 2008

Ramadhan Bukan Bulan Suci

Ramadhan bukan bulan suci! Dalam literatur-literatur Islam hanya ada empat bulan suci, dan Ramadhan tidak termasuk dalam empat bulan suci tersebut. Anggapan Ramadhan sebagai bulan suci adalah salah satu salah kaprah umat Islam. Demikianlah kurang-lebih yang disampaikan Khatib salat Jumat di Masjid Baitussalam, Duren Tiga, Jakarta Selatan. 22 Agustus 2008. Bagi saya yang terlanjur mengikuti anggapan bahwa Ramadhan adalah bulan suci, penjelasan ini sungguh mencengangkan. Masjid Baitussalam biasanya menghadirkan khatib-khatib yang cukup kredibel, jadi saya tidak punya alasan untuk meragukan pernyataannya. Lagi pula pengetahuan saya tentang literatur Islam terlalu dangkal untuk menolaknya. Lalu, sebutan apa yang pantas untuk Ramadhan? Menurut khatib, sebutan yang paling tepat untuk Ramadhan adalah bulan Ibadah.
 Dalam khutbahnya, khatib mengungkapkan sejumlah salah kaprah lainnya di kalangan umat Muslim dalam bulan Ramadhan. Di antaranya adalah menyambut dan meramaikan Ramadhan dengan petasan. Salah kaprah yang lain menurut khatib adalah lebih banyaknya jumlah jemaah di masjid pada waktu salat Tarawih dibanding pada waktu salat wajib. Menurutnya, salat Tarawih bukanlah wajib dan tidak harus berjamaah. Di Timur tengah, jemaah salat tarawih di masjid-masjid justru tidak pernah sebanyak jemaah salat wajib.
 Menurut khatib, salah kaprah berikutnya adalah penyelenggaraan salat Tarawih di rumah-rumah pejabat dan juga di hotel-hotel berbintang dengan menghadirkan aktris / selebriti. Hal ini dianggapnya telah menarik jemaah dari masjid-masjid. Pusat ibadah umat Muslim adalah masjid, bukan rumah pejabat atau hotel-hotel. Khatib mengkhawatirkan penyelenggaraan salat Tarawih di tempat-tempat tersebut mengaburkan makna dan tujuan salat tarawih dan ibadah Ramadhan.

  Selamat beribadah Ramadhan